Prostitusi Di Kota Santri

0
129

psk

foto ilustrasi

Menunggu Keseriusan Pemerintah

Forum Indonesia, Situbondo-Upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo, untuk menutup praktik pelacuran di warung remang remang sepanjang jala Raya Besuki dan Banyuglugur, semakin tidak jelas.

BahkanKabiro Administrasi Kesra Setdaprov Jatim Desember 2011 lalu (Bawon Adiyithoni-red) telah melakukan kunjungan kerja ke Pemkab Situbondo dan diterima Wakil Bupati Rahmad. Ada komitmen serius untuk mewujudkan Situbondo sebagai kota santri yang bebas dari prostitusi.
Meskisudah sering terjadi penggerebekan terhadap sejumlah tempat yang disinyalir sebagai tempat prostitusi yang terselubung, dengan berkedok warung,hingga kini bisnis lendir yang satu ini masih saja menjamur di beberapa wilayah di daerah Situbondo.SepertidiJalan Raya Panturamasuk wilayah kecamatanBanyugulur dankecamatan Situbondo. Berderet warung makanan dan minuman,sebagai tempat prostitusi tersebung.Pramusaji tak segan menawarkan jasa nikmat sesaat pemuas hasrat.Menurutwarga sekitar hal tersebut sudah berlangsung lama, namun tak ada tindakan yang seriuas dari pihak Pemkab,padahal tak jauh dari tempat itu terdapat lembaga pendidikan SMK Kesehatan.
Masyarakat setempatmengharap Pemerintah setempat turun tangan,lantarandianggapmembuat kegelisahan banyak pihak.“kalau bisa ditutup lah warung yang hanya berkedok tersebut, sebab selain risi akan aktifitasnya, juga menjaga image agar desa ini tidak dipandang negative dari masyarakat luar, apalagiSitubondo sebagai kota Santri,harap warga”
Sebelumnya Satuan Pol PP sempat akan membongkar keberadaan warung remang remang itu. Namun, setelah melakukan koordinasi dengan para paguyuban pedagang warung remang remang, ternyata proses pembongkaran warungitu gagal.Kenyataannya, sampai saat ini keberadaan warung remang itu masih saja nekat menyediakan jasa wanita pemuas nafsu sebagai pelengkap menu di warungnya tersebut.
Alasan tidak adanya tempat penampungan bekas PSK ditengarai menjadi kian menyebarnya tempat-tempat jasa nikmat sesaat.”Selama ini Kabupaten Situbondo tidak memiliki tempat penampungan untuk melakukan pembinaan terhadap para PSK yang terjaring razia.“Itu yang saya harapkan, ada tempat penampungan bagi PSK,” kata Usman Kasi Ops Sat Pol PP tahun lalu.

WabahProstitusi
Forum Indonesia, Situbondo –Meski Perda 27/2004 tentang Larangan Pelacuran serta Surat Keputusan Bupati 5/2005 tentang Tatacara Pelaksanaan Pembongkaran Tempat Pelacuran.Namun hingga kini pelacuran terus saja berlangsung.Walaupun sejumlah eks lokalisasi pelacuran ditutup total, bisnis esek-esek di Situbondo tampaknya masih jalan terus.Bahakan akibat penutupan,area persawahan Burnik, Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Situbondo pernah dijadikan praktek prostitusi para PSK mokong. Meski terlihat agak canggung, mereka tampak menjajakan diri. Agak sembunyi-sembunyi, mereka melakukan beraneka cara untuk menarik minat tamu pria hidung belang. Ada yang terus berhias di tepian kebun jagung, berbincang dengan sekumpulan pria, dan sekadar duduk di warung minuman dekat setempat.”Di Burnik tidak ada istilah mucikari atau germo.Jadi, mereka (PSK) datang ke sini ya datang sendiri,” terang seorang pria di persawahan Burnik.
Dengan demikian, para PSK bisa berpraktik dengan sesuka hati di lokalisasi persawahan Burnik.Tidak heran jika selama ini bukan malam hari saja persawahan Burnik biasa dipenuhi PSK.Tak jarang para PSK mangkal di situ pada siang hari.Uniknya, selama ini mereka biasa memanfaatkan lahan kebun jagung milik petani untuk melayani pria hidung belang langganannya.Tak heran, selama ini ada beberapa petani setempat yang menggerutu karena lahannya banyak rusak.”Mungkin dibuat tempat ’main’, sampai lahan jagung saya rusak,” kata seorang petani setempat.
Bukan itu saja sebagaimana pernah diberitakan banyak media Sekelompok pelajar SMA di Situbondo dikabarkan menggelar arisan tak lazim. Disebut demikian, karena arisan diadakan untuk keperluan pesta seks dengan cara menyewa pelacur.Pemenang arisan 5 ribu an tiap bulan mendapat kesempatan menikmati uang hasil arisan untuk berkencan dengan pelacur yang diinginkan. Arisan seks siswa itu terungkap berdasarkan hasil testimoni atau pengakuan seorang pelacur berinisial YL kepada Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Situbondo.Testimoni itu didapatkan KPA saat melakukan rapid test atau tes cepat HIV/AIDS kepada para wanita penghibur di sejumlah eks lokalisasi di Situbondo.YL memberikan testimoni mengejutkan itu. Dia mengaku sering disewa pelajar SMA dari hasil uang arisan,” kata anggota KPA Situbondo, Heryawan di kantor Dinas Kesehatan Situbondo,pada Desmber 2012 lalu.
Ironisnya, dari testimoni YL itu diketahui para pelajar pemenang arisan kerap datang ke lokasi pelacuran untuk menyewa pelacur dengan tetap mengenakan seragam sekolah.Hanya sesekali di antara pelajar itu menutupi seragamnya dengan memakai jaket. Disebut-sebut ada enam pelajar yang pernah menyewa pelacur pemberi testimoni.“Tetapi, bukan hanya satu PSK (pekerja seks komersial) yang bersangkutan saja, ada beberapa PSK lain yang katanya juga pernah dibooking pelajar. Sayangnya si PSK tidak bisa menyebutkan pelajar dari SMA mana,” lanjut Heryawan.
Pria yang juga Konselor HIV/AIDS Dinkes Situbondo menyebutkan, pelacur yang pernah dibooking pelajar dari hasil arisan itu berusia muda, rata-rata dibawah 30 tahun.Sayangnya, Heryawan enggan menyebutkan secara detail tempat mangkal pelacur yang biasa dibooking para pelajar dari uang hasil arisan tersebut.detikSurabaya.com.
Dugaan arisan PSK di kalangan pelajar SMA/SMK Situbondo membuat kalangan pengamat pendidikan prihatin.Mereka menilai, kasus ini terjadi lantaran pelajar diberi kebebasan dalam bergaul.Dengankondisiini, pelajarlebihleluasa menuruti keinginannya.”Saya menilai peran semua pihak tidak berfungsi, tidak bisa salah satu instansi disalahkan dalam persoalan ini,” kata Pengamat Pendidikan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Suroso kemarin.
Saat ini penyebaran HIV AIDS di Situbondo kian mencemaskan.Sejak tahun 2010 hingga tahun ini, jumlah total penderita HIV AIDS mencapai 364. Ironisnya sekitar 80 persen pengidap penyakit mematikan ini masih usia produktif.Sesuai data KPA Situbondo, penderita HIV AIDS sudah menyentuh semua status sosial masyarakat. Tak hanya orang dewasa melainkan mulai menyentuh kalangan pelajar. Dari 364 penderita HIV AIDS, sekitar 300-an penderita masih usia produktif yaitu antara usia 14 tahun hingga 45 tahun.
Konselor HIV AIDS KPA Situbondo, Heryawan, mengatakan, penyebaran HIV AIDS tertinggi disebabkan karena seks bebas.Heryawan meminta semua orang tua, agar mengawasi pergaulan anaknya di luar rumah agar tak terjerumus pergaulan bebas.Saat ini kata Heryawan, KPA bersama Dinas Kesehatan terus mengintensifkan mencari penderita. Sebab semakin banyak penderita yang ditemukan, akan semakin memudahkan petugas mencegah penularannya.
Tidak hanya itu, mengingat semakin parahnya penyebaran HIV AIDS di Situbondo, KPA akan segera menggelar seminar mendatangkan pakar. Hal itu dilakukan untuk memberikan pencerahan informasi kepada masyarakat
Mengacu surat Gubernur Jatim nomor 460/16474/031/2011, bahwa pemprov meminta bupati/walikota melakukan upaya nyata dalam pencegahan dan penanggulangan prostitusi serta woman trafficking. Strateginya adalah mencegah bertambahnya jumlah PSK di lokalisasi, memfasilitasi pengembangan aktivitas ekonomi baru di bekas lokalisasi usai ditutup dan pengawasan pasca PSK dipulangkan di kampung halaman.,tidak membawa pengaruh menurunya bisnis pelacuran.(Budino,berbagai sumber)

LEAVE A REPLY