Menhan: Helikopter Kepresidenan Menggunakan Produksi PT DI

0
28

menhan

FI.CO.Bandung – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memastikan tidak akan membeli helikopter dari luar negeri untuk kebutuhan helicopter kepresidenan. Pemerintah memilih produk PT Dirgantara Indonesia (DI). Kepastian itu dia sampaikan usai mengikuti serah terima dua helicopter full combat SAR Mission EC725 di hanggar fixed wing PT DI, Bandung, Jumat (25/11).

“Pakai ini, jangan sebut-sebut lagi. Enak kok ini,” kata Ryamizard usai masuk dan melihat kondisi di dalam salah satu helikopter tersebut.

Helikopter Full Combat SAR Mission EC725 merupakan helikopter Twin Engine yang mampu mengangkut beban hingga 11 ton. Helikopter jenis ini merupakan generasi terbaru dari jenis Super Puma.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana mengatakan, helikopter EC275 ini lebih besar dari Super Puma. “Saat ini rasanya tidak ada rencana pembelian helicopter presiden, soalnya Super Puma itu masih relatif di bawah 20 tahun dan masih dipakai,” kata Andi.

Sebelumnya, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Djundan Eko Bintoro sempat menyampaikan adanya pengajuan pembelian helicopter Agusta Westland 101 buatan Italia-Inggris dari TNI Angkatan Udara.

Andi memaparkan, para pilot di TNI Angkatan Udara bakal cepat beradaptasi dengan helicopter EC725. “Pilot banyak, semua ada pengalaman dan rombongan presiden muat di sana, cukup, safety record cukup baik. Jadi pilot yang sama naik ke cougar ini cepat sekali (adaptasi),” kata Andi.

Serah terima dua unit helikopter Full Combat SAR Mission EC725 ke Kementerian Pertahanan Republik Indonesia ini ditandai dengan penandatanganan dokumen oleh Direktur Utama PT DI Budi Santoso dan Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Laksamana Muda Leonardi.

Enam Unit

Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia Budiman Saleh mengatakan, dua helikopter tersebut merupakan bagian dari pemesanan enam unit helicopter yang kontraknya dilakukan pada tahun 2013 silam. “Helikopter itu enam unit plus segala suku cadangnya (nilai kontraknya) 155,5 juta Euro. Tapi ingat tahun berapa Euro-nya. Ini kontrak tahun 2013,” kata Budiman.

Dibandingkan kompetitornya, helikopter EC725 ini memiliki tenaga yang lebih besar. “Pesaingnya Agusta AW101, dia tiga engine, kita dua engine, tapi kemampuan angkat dan rasio kita lebih baik. Tiga engine itu jadi lebih berat,” imbuh dia.

Helikopter EC725 telah diserahkan lebih dari 648 unit kepada customer di seluruh dunia dengan total waktu penerbangan lebih dari 3,3 juta jam terbang. Helikopter ini merupakan helikopter yang kuat dan cepat dengan kemampuan jarak jauh. Memiliki kapasitas ruang yang luas mampu mengakomodasi berbagai pengaturan tempat duduk hingga 29 pasukan ditambah 2 orang sebagai pilot dan kopilot.

Terkait spesifikasi dua helicopter EC725 yang diserahkan ke Kementerian Pertahanan, Budi mengatakan, helicopter itu sudah dikembangkan dengan desain modular serta baling-baling (blade) yang bisa ditekuk ketika tidak digunakan. Hal ini menjadi salah satu keunggulan yang tidak dimiliki helikopter lain, penggunaan material komposit, sistem avionik yang modern, termasuk LCD Multi-Fungsi, sistem pemantau kondisi pesawat dan sistem kontrol penerbangan yang otomatis.

Selain dapat mendarat di landasan berbatu hingga bersalju, helikopter ini dilengkapi dengan external mirrors untuk melihat kondisi landasan pendaratan. “Memiliki pelampung di bagian bawah untuk kondisi darurat yang mengharuskan pendaratan di laut atau perairan,” tutur Budi sembari menambahkan helikopter itu dapat digunakan untuk berbagai misi seperti troops transport, search and rescue (SAR) serta tempur.

Persenjataan helicopter ini menggunakan sepasang machine gun kaliber 7,62 x 51 mm buatan FN Herstal, Belgia di jendela kabin kiri dan kanan. Kedua senjata dipasang terlipat, sehingga bisa ditekuk ke dalam manakala tak diperlukan. “Selain itu ada FLIR (forward looking infrared camera) untuk melihat saat malam. Ada winch penarik korban atau evakuasi serta lampu sorot yang terang sekali,” imbuh Budi.

suarapembaruan

LEAVE A REPLY