Perempuan Muda NTT Peternak Sapi

0
20

Sejumlah perempuan dan lelaki muda asal Desa Tesiayofanu, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur memilih untuk menjadi peternak sapi di desa mereka

FI.CO,Soe – Lebih dari 1.000 perempuan muda di Nusa Tenggara Timur (NTT), diberdayakan menjadi peternak sapi andal di wilayah itu.

Ribuan perempuan muda itu tersebar di 40 desa pada lima kabupaten di NTT, yaitu kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu dan Malaka. Selain berternak sapi, mereka mengembangkan ternak babi dan ayam.

Program perempuan muda itu merupakan proyek SCILD (Strong CSOs for Inclusive Livestock Value Chain Development-in NTT atau Pengembangan CSO yang kuat untuk rantai nilai peternakan inklusif di NTT) dilakukan Plan International Indonesia Program Area Timor atas dukungan dana dari Uni Eropa.

SCILD Project Manager Plan International Indonesia, Yedityah Mella mengatakan, program ini merupakan sebuah program yang melalui Civil Society Organization (CSO) dan kaum muda,melakukan advokasi peningkatan posisi dan pemberdayaan sosial dan ekonomi kaum muda melalui rantai nilai peternakan.

Dalam implementasinya, kata Yedityah, Plan International Indonesia Program Area Timor bersama dengan Yayasan Sanggar Suara Perempuan (YSSP) dan Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (APPeK) memperkuat delapan CSO lokal di NTT.

Ini dilakukan untuk menjadi kekuatan pendorong bagi para perempuan muda dalam meningkatkan partisipasi mereka, agar setara dengan laki-laki dalam pembangunan ekonomi. Jumlah hibah untuk setiap CSO adalah 50.000 EUR.

Setiap CSO memberi dukungan kepada 250 pemuda, sebagai penerima manfaat akhir. Jumlah pemuda yang terlibat dalam proyek ini adalah 2.000 orang dimana 65 persen adalah perempuan.

 Menurut Yedityah, pemilihan delapan CSO dilakukan bersama antara Plan International Indonesia, YSSP, APPeK dan perwakilan dari lembaga pemerintah yaitu dari Bappeda NTT, Dinas Peternakan dan BBPP.

“Program itu memiliki tujuan umum berkontribusi terhadap peningkatan posisi sosial dan penguatan ekonomi bagi kaum muda laki-laki dan perempuan di NTT melalui dukungan yang berkelanjutan pada sektor peternakan,” kata Yedityah.

Mereka berharap kegiatan ini melahirkan peternak-peternak muda di NTT yang bangga menjadi peternak. Dengan beternak mereka akan mendapatkan hal yang membuat mereka mendapatkan mata pencarian yang paten dan jelas dan memberikan kotribusi untuk perekonomian di NTT.

Sementara itu Programme Manager Trade, Local Economy and Social Protection Nur Isravivani yang mewakili Delegasi Uni Eropa Perwakilan di Indonesia mengatakan, proyek ini dimulai dari tahun 2016 dan akan terus berlanjut untuk empat tahun ke depan.

“Jadi ini merupakan kunjungan monitoring untuk melihat progress yang dicapai selama satu tahun pertama. Kami harapkan ini bisa membantu penghidupan kaum muda dan perempuan di desa-desa yang jauh dan terisolir dan kita akan terus melakukan pendampingan untuk menjadi peternak,” tuturnya.

Nur mengaku, sektor peternakan sengaja dipilih, karena berdasarkan hasil studi dan observasi yang dilakukan, sektor ini sangat potensial dengan wilayah-wilayah yang dicakup ini.

“Intinya kegiatan ini targetnya memberikan penghidupan yang lebih baik ke depannya untuk pemuda dan perempuan. Ini juga untuk mencecah migrasi ke kota kota, karena seperti kita tahu banyak di pedesaan itu penduduknya berusia tua dan makin sedikit pemuda yang tertarik menjadi petani maupun peternak,” tutupnya

LEAVE A REPLY