Kenaikan TDL Picu Inflasi di Jatim

0
16
FI.CO,Surabaya – Kenaikan tarif dasar listrik mendorong terjadinya inflasi di sejumlah wilayah Jawa Timur dengan catatan inflasi sebesar 0,29 persen, sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat.
“Untuk wilayah tertinggi inflasi adalah Kabupaten Banyuwangi dengan nilai 0,48 persen, dan terendah adalah Sumenep sebesar 0,14 persen,” kata Kepala BPS Jatim Teguh Pramono dalam keterangan persnya di Surabaya, Selasa.
Teguh mengatakan, selain tarif dasar listrik komoditas utama lainnya yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di Jawa Timur pada April 2017 adalah daging ayam ras, dan emas perhiasan.
“Dicabutnya subsidi listrik daya 900 watt sehingÄ£a tarif listrik menjadi naik merupakan faktor utama, dan itu terjadi di sejumlah wilayah Jatim ditambah naiknya harga daging ayam ras dan bawang putih dan emas perhiasan,” katanya.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi sesuai Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah kelompok sandang yang mencapai 1,42 persen, sedangkan inflasi terendah ialah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,06 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi di Jatim, kata Teguh adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,65 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen.
“Untuk komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi adalah cabai rawit, bawang merah, dan beras,” ucapnya.
Untuk laju inflasi tahun kalender Jawa Timur di bulan April 2017 mencapai 1,98 persen, angka ini lebih tinggi dibanding tahun kalender April 2016 yang hanya sebesar 0,34 persen.
Sedangkan laju inflasi tahun ke tahun (year-on-year) Jawa Timur April 2017 mencapai 4,41 persen, atau jauh lebih tinggi dibanding April 2016 yang hanya sebesar 3,05 persen.
“Untuk keseluruhan ibu kota provinsi di Pulau Jawa mengalami inflasi, kecuali DKI Jakarta, dan inflasi tertinggi terjadi di Kota Serang yang mencapai 0,41 persen sedangkan deflasi di DKI Jakarta sebesar 0,02 persen,” katanya.

LEAVE A REPLY