Menjemput Masa Depan

0
26

Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Nusalaut di Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, berjalan kaki di bawah gerimis dari sekolah ke rumah seperti pada Kamis (6/4). Banyak sisiwa berjalan kaki dari rumah ke sekolah dengan jarak antara 3 kilometer (km) hingga 7 km

FI.CO,Maluku Tengah – Tiga tahun sudah Natasia Astria Wakano (18), siswi SMA Negeri 1 Nusalaut, Pulau Nusalaut, Maluku, setiap hari berjalan kaki sejauh 26 kilometer dari rumah ke sekolah. Ia berangkat pukul 04.30 WIT dan pulang pukul 16.00 WIT.

Lepas dari gerbang Desa Titawai, kampung asalnya, Natasia menyalakan senter agar bisa menembus jalanan gelap yang membentang di hadapannya. Gadis itu melangkah sendirian menapaki perjalanan sekitar 13 kilometer (km) menuju sekolah di Desa Ameth.

Tak ada lampu penerangan jalan. Sepeda motor yang melintas pun sangat jarang, bahkan kadang hanya satu jam sekali. Tak ada pula mobil angkutan umum.

Tiga tahun sudah ia mengenal jalanan itu. Ia hafal dengan detail puluhan tikungan, delapan tanjakan tajam diikuti turunan, dan tak terhitung lubang jalan hingga pohon dan batu besar yang berdiri di sisi jalan.

Yang ia takutkan adalah binatang melata. Jalanan yang semula selebar 4 meter mulai menyempit dikepung semak yang tumbuh lebat menguasai bahu jalan. Ular, kadal, dan biawak sering dijumpai di perjalanan.

Setiap kali jalan ke sekolah, ia hanya memakai sandal. Sepatu sengaja disimpan dalam tas karena aspal kasar dengan gerigi kerikil tajam itu bakal cepat mengikis tapak sepatunya. Dengan cara itu, selama tiga tahun bersekolah, Natasia hanya dua kali ganti sepatu.

Jika dalam sekali melangkah 30 sentimeter, dalam jarak 13 km itu diperkirakan ia melangkah sekitar 43.000 kali. Artinya, setiap hari ia melangkah 86.000 kali pergi-pulang sekolah dan rumah. Selama tiga tahun bersekolah, Natasia melahap 92 juta langkah kaki!

Ia adalah siswa terakhir di Pulau Nusalaut yang berjalan kaki sejauh itu setiap pagi. Beberapa teman sebayanya dari Titawai memilih berhenti sekolah karena capek berjalan kaki. Kini, banyak adik angkatan dari Titawai yang bersekolah di Ameth menggunakan ojek ataupun sepeda motor pribadi.

“Sekarang tinggal beta (saya) yang jalan kaki. Dulu waktu pertama kali, beta takut karena seram sekali. Sekarang sudah terbiasa,” katanya saat ditemui menjelang ujian nasional, April.

Berlatar keluarga kurang mampu, ia tak punya pilihan selain berjalan kaki. Sepeda tidak punya. Untuk naik ojek yang tarifnya Rp 50.000 sekali jalan, tentu sulit terjangkau. Ia hanya mengantongi uang jajan sekitar Rp 5.000 per hari.

Natasia tinggal bersama kakaknya. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya menikah lagi. Agar tidak terlambat masuk sekolah pukul 07.00 WIT, ia keluar dari rumah pukul 04.30 WIT. Keluar sekolah hampir pukul 14.00 WIT, ia berjalan kaki hingga tiba di rumah paling cepat pukul 16.00 WIT.

Sebenarnya masih ada rute lain yang bisa ia tempuh dengan jarak lebih dekat, yakni sekitar 11 km. Namun, rute itu sangat berisiko karena berulang kali terjadi penembakan misterius. Jalur itu jarang dilewati pengojek.

Bukan berarti rute yang dilewati Natasia setiap pagi tanpa risiko. Berkeliarannya penembak misterius di Nusalaut belum bisa diungkap aparat. Selain itu, tak ada pos pengamanan di lokasi rawan.

Seorang anak gadis yang berani melawan risiko seperti sosok Martha Christina Tiahahu, pahlawan nasional asal Nusalaut yang berani melawan Belanda meski usianya masih belasan tahun. Jika dua abad lalu Martha berjuang melawan penjajah, kini Natasia yang bermimpi jadi guru itu berjuang menggapai cita-citanya dengan berjalan kaki.

“Namun, kalau kakak seng (tidak) punya uang, beta mau kerja jadi pelayan di toko dulu. Nanti kalau uang sudah cukup baru betakuliah,” ujarnya.

Siswa dari sejumlah kampung lain juga berjalan kaki, tetapi tak sejauh Natasia. Alin Tomasoa (18), siswa SMA Kristen Ameth, dan teman-temannya dari Desa Sila-Leinitu, juga berjalan kaki tiap hari sejauh 14 km pergi-pulang. Saat hujan, mereka berteduh di bawah pohon atau batu besar di sisi jalan. Jika terpaksa, mereka mengambil daun pisang untuk melindungi kepala. “Beta ingin menjadi polwan (polisi wanita),” kata gadis dengan tinggi badan 163 cm itu.

Natasia, Alin, dan beberapa siswa yang berjalan kaki sejak SMP hingga SMA di pulau yang berjarak 58 km arah tenggara Pulau Ambon itu punya keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan meraih kesuksesan.

Banyak tokoh Maluku saat ini berasal dari pulau yang masuk Kabupaten Maluku Tengah itu. Ada Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury, Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, dan banyak lagi.

Asrama

Kepala SMA Negeri 1 Nusalaut Carel Silahoy mengatakan, sekolah memaklumi kondisi anak-anak yang setiap hari berjalan kaki.

“Kami tidak bisa memaksakan kehendak. Saat mereka datang dengan kondisi basah-basah, kami suruh mereka kembali saja,” katanya.

Desa Ameth merupakan pusat kecamatan, tempat berdirinya SMA Negeri 1 Nusalaut dan SMA Kristen Ameth. Di Pulau Nusalaut terdapat tujuh desa.

Carel pernah menyampaikan kondisi itu kepada seorang pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkunjung ke Ambon, beberapa tahun lalu. Permohonannya ketika itu adalah dibangun asrama bagi siswa yang dikelola sekolah. Bagi siswa yang kurang mampu, biaya asrama digratiskan. Usulan itu kurang direspons.

Kepala SMA Kristen Ameth Frans Syaranamual menambahkan, pulau itu juga membutuhkan bus sekolah. Setiap pagi dan siang bus beroperasi mengelilingi pulau dengan jalan lingkar hanya sejauh 24 km itu. Jika tak bisa gratis, siswa tetap membayar dengan harga terjangkau.

Semangat mengejar mimpi siswa dari Pulau Nusalaut itu tidak redup oleh keterbatasan. Mereka berjalan kaki nun jauh untuk menjemput masa depan. Selamat Hari Pendidikan Nasional bagi siswa di pulau-pulau terpencil.

LEAVE A REPLY