Seorang Ibu Gendong Anaknya yang Lumpuh ke Sekolah Setiap Hari

0
15

Ilustrasi

FI.CO,Trenggalek – – Seorang siswa kelas IV di SD Negeri 1 Senden, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa digendong ibunya pergi dan pulang sekolah karena dia menderita lumpuh akibat kerusakan saraf dan otot kakinya melemah (guillain-barre syndrome/GBS).

Menurut penuturan guru kelas maupun orang tua siswa bernama Dio Eka Saputra (12) itu, dia mulai mengalami disabilitas akut beberapa  tahun terakhir.

“Sejak kelas IV sebenarnya sudah tampak ada gejala kelainan, namun belum separah setahun terakhir,” kata Kepala SDN 1 Senden, Sumardjadi, kepada Kantor Berita Antara, Sabtu (6/5/2017).

Sumardjadi sudah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Dio. Dia juga mendapat masukkan agar memberi perlakukan khusus pada siswa tersebut.

Rekomendasi itu telah dilakukan pihak SDN 1 Senden dengan memberi kesempatan Dio tetap melanjutkan sekolah hingga lulus, meski beberapa kegiatan seperti ujian praktik tidak bisa dia lakukan.

Sayangnya, kata Sumardjadi, sekolah sejauh ini belum bisa memfasilitasi penyediaan kursi roda untuk aktivitas Dio selama di area sekolah karena belum ada alokasi biaya khusus.

“Selama di sekolah Dio biasanya hanya di bangku kelas, tempatnya duduk dan tidak ke mana-mana sampai pulang. Dio pulang-pergi selalu dijemput dan diantar ibunya, kadang bapaknya jika pas pulang dari perantauan di Kalimantan,” kata Sumardjadi.

Dio sendiri mengatakan dia tetap semangat bersekolah. Dia ingin menyelesaikan pendidikan hingga lulus kelas VI di SDN 1 Senden. Dia berharap bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP. Namun dia menyatakan saat ini tidak terlalu yakin akan hal itu karena malu dengan kondisinya yang tidak normal.

Jika akan melanjutkan sekolah di SLB, Dio tidak mau. Dia akan memilih tidak melanjutkan pendidikan jika bukan di sekolah umum.

“Sebenarnya saya ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP juga SMA, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terang malu. Tidak percaya diri,” kata Dio.

Menurut keterangan sang ibu, Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio mulai diketahui sejak umurnya empat tahun, atau ketika dia duduk di taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol kecil).

Saat itu, kata sang ibu, Dio megikuti lomba lari yang diadakan sekolah dan diawasi guru. Namun ketika akan bertanding, tiba-tiba gurunya melarang dia dengan alasan sikap dan cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.

“Setelah itu guru memberitahu hal itu kepada ibu, dan semenjak saat itu saya langsung bawa ke dokter,” kata Yuliati.

Apa yang dikhawatirkan gurunya itu terbukti. Secara berangsur penyakit Dio makin parah.

Saat masuk kelas 1 SD, Dio tidak bisa berjalan dengan lancar lagi. Setiap kali berjalan dirinya harus dipapah orang lain, atau dengan cara merambat di tembok atau benda lainnya.

“Sakit jika dipaksa buat jalan. Seluruh badan sakit,” kata Dio.

Penyakit Dio diduga bersifat genetis. Soalnya, salah satu pamannya mengalami kelumpuhan yang sama hingga akhirnya meninggal dunia beberapa tahun silam.

“Ternyata setelah saya bawa, pihak RSUD Dr Soedomo tidak sanggup merawatnya, makanya merujuk Dio ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya,” kata Yuliati.

Berdasarkan hasil rontgen pihak rumah sakit, Dio dinyatakan mengalami kelainan genetis. Kelainan itu membuat susunan otot di kedua kakinya tidak ada, hingga seakan di kaki hanya terdapat tulang saja (guillain-barre syndrome).

Pihak rumah sakti mengatakan, kaki Dio tidak bisa dioperasi.

Yuliati mengaku tidak pernah lelah mengantar putra sulungnya itu ke sekolah. Ia  menggendong lalu memboncengnya dengan menggunakan sepeda motor ke sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer.

Sesampai di sekolah, perempuan asal Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak itu juga menggendong Dio ke di tempat duduknya. Ia melakukan hal yang sama saat pulang sekolah, dan itu dia lakukan setiap hari.

“Sampai saat ini anak saya ini masih berniat untuk sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, makanya dengan ini saya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar bisa masuk sekolah lagi, juga ada perlakukan khusus untuknya,” kata sang ibu.

LEAVE A REPLY