Guru, “Sing Digugu Lan Ditiru”

0
129

                 Oleh: Siswono Yudo Husodo

Tanggal 25 November adalah Hari Guru. Tak diragukan, sangatlah besar peran guru dalam menyiapkan generasi penerus bangsa.

Dalam bukunya, The Republic, Socrates menyebut dua profesi yang harus sarjana, yang pada 2 ribu  tahun sebelum Masehi itu dianggap sebagai orang yang luas pengetahuannya, arif dan bijaksana, yaitu guru dan anggota parlemen. Alasannya, guru bertugas menyiapkan generasi yang akan datang dan anggota parlemen berwenang membentuk aturan untuk hidup bersama dengan baik.

Setelah mendapat laporan bahwa Jepang takluk kepada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom, Kaisar Hirohito menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa. Dengan sekitar 250 ribu  guru yang masih hidup, Kaisar Jepang menyatakan tekad, dalam satu generasi, Jepang akan lebih maju dari kondisi sewaktu ditaklukan. Pada 1960-an, Jepang membuktikan dapat lebih unggul dalam teknologi dan ekonomi daribanyak negara Barat penakluknya.

Guru dalam tradisi Jawa merupakan akronim dari “digugu lan ditiru” (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter. Martin Luther King Jr menyatakan, “Intelegence plus character; that is the true goal of education.”

Saat ini, di Tanah Air kita, perilaku menyimpang meluas di kalangan eksekutif, legislatif, yudikatif, dan di masyarakat luas walaupun, pada saat yang sama, sarana-sarana ibadah dipenuhi jemaah. Kondisi kita seperti Italia, sebuah negeri maju yang sejahtera, yang gereja-gerejanya di hari Minggu penuh sesak, bersamaan dengan itu banyak politisinya bermasalah, sistem hukumnya dipengaruhi suap dan ancaman mafia, penjaranya pun penuh sesak. Berbeda dengan Austria, yang gerejanya tak penuh, tetapi penjaranya juga kosong. Dengan kondisi negara kita ini, kalangan pendidik, para guru, bisa jadi tempat menggantungkan harapan akan negara yang lebih baik ke depan.

Mochtar Lubis, dalam pidatonya di Taman Ismail Marzuki, 16 April 1977, berjudul “Manusia Indonesia”, menekankan, salah satu ciri manusia Indonesia yang harus diperbaiki adalah enggan dan segan bertanggung jawab karena dampaknya luas. Di ruang publik kita, ketidaktertiban dan kengerian di jalan raya adalah pemandangan biasa. Banyak mobil pribadi, angkutan umum ataupun barang, dan sepeda motor dikemudikan dengan mengabaikan banyak aturan dan mengancam keselamatan orang lain. Begitu juga orang yang menyeberang di sembarang tempat.

Sangat memprihatinkan laporan Global Status Report on Road Safety yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia 2014, yang menyebutkan bahwa peningkatan jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia menempati urutan tertinggi dunia, dari 80 jiwa per hari tahun 2012 menjadi 120 jiwa per hari tahun 2013. Penggunaan bahan kimia beracun, seperti boraks untuk jajanan anak sekolah juga menunjukkan sikap tak bertanggung jawab sebagian orang.

Datangnya musim hujan membuat Indonesia lepas dari asap kebakaran hutan. Api sebesar gunung dimulai dari percikan kecil yang dibiarkan membesar. Seluruh daratan Indonesia yang luasnya 1,9 juta kilometer persegi tak satu jengkal pun yang tak berada di bawah tanggung jawab kepala desa/lurah, camat, bupati, dan gubernur. Kebakaran besar ini tugas utama pencegahannya ada di tingkat lokal, yaitu memadamkan sewaktu api masih kecil.

Revolusi mental

Membangun rasa tanggung jawab adalah unsur pendidikan yang sangat penting. Sejak Indonesia merdeka, keinginan membangun nilai-nilai dasar yang unggul selalu ada di tiap pemerintahan. Bung Karno mencetuskan perlunya revolusimental bagi bangsa Indonesia dalam pidato HUT RI 17 Agustus 1957. Ia menyadari akibat penjajahan 350 tahun, 14 generasi berturut-turut, rakyat hidup dalam suasana terjajah/tak berdaulat, ketakutan dan miskin, sehingga membentuk warga bangsa yang kepercayaan dirinya rendah, terlalu bersikap pasrah, rendah diri, tidak berani berinisiatif, dan feodal.

Bung Karno ingin mengubah manusia Indonesia jadi bangsa pejuang yang percaya diri, berdaulat, dan berdikari. Revolusi Mental dalam Gerakan Hidup Baru. Perangkat yang dipakai indoktrinasi, dengan materi Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi (Tubapi), meliputi Pancasila, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Manifesto Politik, dan Kebudayaan Indonesia.

Pada era Orde Baru, muncul Penataran P4 (Pendidikan, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) yang wajib diikuti para siswa sekolah, aparat pemerintah, dan masyarakat. Kedua program itu terlalu dibebani kepentingan politik pemerintah dan karenanya target utamanya meningkatkan kualitas mental individu warga bangsa menjadi meleset. Presiden keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 2011 menekankan lima karakter manusia unggul yang ingin dicapai Indonesia. Karakter itu, pertama, bermoral, berakhlak, dan berperilaku baik. Kedua, masyarakat yang cerdas dan rasional. Ketiga, manusia indonesia yang inovatif dan terus mengejar kemajuan. Keempat, rakyat Indonesia yang bersemangat “harus bisa”, membuat solusi dalam setiap kesulitan. Kelima, menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa, negara, dan Tanah Airnya.

Presiden Joko Widodo juga melihat masalah mental menjadi penghalang besar kemajuan negara kita. Karena itu, ia mengangkat tema revolusi mental sewaktu kampanye pemilu presiden. Revolusi, dalam arti perubahan cepat dan drastis. Cara yang ditempuh antara lain melalui “bela negara”.

Dengan melihat dinamika perubahan dunia yang kian tinggi, kita memang harus waspada dan menyiapkan diri dengan baik. Dua puluh tahun lalu, tak terbayangkan dunia akan seperti sekarang dengan globalisasi dan interdependensi, yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat serta siasat-menyiasati yang semakin canggih. Banyak bangsa yang tak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dahsyat ini. Lima tahun lalu, Libya dan Suriah, walau dengan kepemimpinan yang imperatif, masih cukup tenang; sekarang, tercabik-cabik kejamnya perang saudara dengan campur tangan asing terang-terangan.

Di lingkungan bisnis, angin perubahan berembus sangat kencang. Sepuluh tahun lalu, Nokia adalah pemimpin pasar telepon seluler. Perusahaan kebanggaan rakyat Finlandia ini pada September 2013 diakuisisi Microsoft dengan nilai 7,2 miliar dollar AS. Rajiv Suri, CEO Nokia, menyatakan Nokia tidak melakukan kesalahan, tetapi dunia berubah terlalu cepat dan Nokia terlena dengan keberhasilannya.

Rakyat Jepang bersedih karena Sony, raksasa elektronik Jepang, baru saja diakuisisi Samsung dari Korea Selatan. Sony sudah menjadi raksasa ketika Samsung memulai bisnisnya.

Samsung pada 2014 membukukan keuntungan Rp 200 triliun, sementara Sony merugi Rp 25 triliun. Pasar lebih memilih produk Samsung karena teknologi Sony terasa kuno dibandingkan Samsung.

Samsung mencapai prestasi itu karena termotivasi mengalahkan Sony. Untuk mengejar Sony, tema kerja di Samsung adalah “Ganti segalanya (cara pikir, cara kerja, dan lain-lain) kecuali istrimu”.

Pendidikan karakter

Mentalitas suatu bangsa memang bisa diubah. Samsung adalah contoh keberhasilan Korea Selatan melakukan itu.

Dalam biografi Jenderal MacArthur seusai Perang Korea tahun 1950, disebutnya bahwa bangsa Korea tidak akan menjadi bangsa yang maju karena cirinya feodal, korup, dan bukan bangsa pekerja. Lelaki Korea idaman wanita Korea waktu itu adalah yang pakaiannya bersih, sepatunya mengilap, bukan tipe pekerja.

Namun, sejarah mencatat Korea Selatan sekarang menjadi bangsa sangat produktif. Perubahan terjadi terutama sejak era Presiden Park Chung-hee. Kerja yang sangat efisien tergambar di pabrik-pabrik seantero Korea Selatan dengan tema kerjanya “Triple Zero: zero waste, zero defect, zero lost” (bekerja tanpa limbah, tanpa kesalahan, dan tanpa pemborosan).

Sebagai suatu bangsa, nilai unggul yang ingin kita capai perlu jelas, antara lain beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa; mencintai Tanah Air, negara, bangsa, dan bahasa Indonesia; memiliki semangat juang yang tinggi, jujur, tabah, tegar, berani, dan bertanggung jawab; pekerja keras yang produktif dan efisien; berwawasan luas, bijaksana, saling menghormati, dan dapat bekerja sama dengan banyak pihak yang berbeda agama, ras, suku, dan pandangan politik; bersikap ksatria, kritis, dan konstruktif serta optimistis; setia, santun, rendah hati, dan memiliki tenggang rasa.

Membangun bangsa adalah proses tanpa akhir dari satu generasi ke generasi berikutnya dan setiap generasi bertanggung jawab membangun peradaban dan sistem yang lebih baik untuk diserahkan kepada dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Pendidikan untuk mengubah karakter ini perlu terus dilaksanakan secara konsisten sejak taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat sejahtera dan rendah hati, pekerja keras yang santun. Anak-anak Jepang membersihkan sekolah mereka setiap hariselama seperempat jam denganpara guru yang memunculkan generasiJepang yang sederhana, suka pada keberhasilan, dan peka pada lingkungannya. Menjaga kebersihan adalah bagian dari etika mereka. Siswa Jepang, dari SD kelas I hingga VI, diutamakan belajar etika yang berguna kelak ketika berinteraksi dengan orang lain di masyarakat. Sekolah di Jepang memang mengutamakan pembentukan karakter. Bangsa Jepang yang sangat makmur juga sangat efisien dan hemat. Di restoran Jepang, setelah selesai makan, piring sangat bersih, tak ada makanan tersisa. Ini diajarkan sejak anak-anak.

Sekolah memang tempat utama membentuk wawasan mengenai negara, bangsa, dan masyarakat. Tugas guru di sekolah bukan hanya mengajarkan siswa tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga mendidik dan membentuk kepribadian, karakter, integritas, moral, dan etika siswa sebagai orang Indonesia. Thomas Jefferson menyatakan, “Built Nation Built School.” Penugasan kepada guru di sekolah sejak TK sampai dosen di perguruan tinggi untuk membentuk sifat-sifat unggul bangsa kita adalah tepat karena guru dibekali ilmu pedagogi yang akan lebih mampu mengubah dan memotivasi anak didiknya.

Pelajar dan mahasiswa berada pada usia pembentukan wataknya. Penulis pada usia 73 tahun ini masih merasakan kuatnya kesan ketika menjadi siswa SMP (sekarang SLTP) kelas I tahun 1955; 60 tahun lalu ketika berdarmawisata di Candi Borobudur. Guru Aljabar (sekarang Matematika), di hadapan sekitar 50 siswa, mengatakan, “Candi besar ini dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra dengan arsiteknya Gunadharma. Ini adalah candi umat Buddha dan, 100 tahun sebelumnya, beberapa ratus meter dari tempat ini telah berdiriCandi Mendut, candinya umat Hindu. Pada abad ke-17, di dekat sini berdiri masjid dan pada abad ke-18 tak jauh dari sini berdiri gereja. Ratusan tahun umat beragama masing-masing agama khusyuk di tempat peribadatannya masing-masing dengan damai.”

Nilai toleransi dan saling menghormati itu didengar siswa, mengendap dalam hati, serta mewarnai caraberpikir dan bersikap. Penulis juga masih ingat ketika dosen favorit di Jurusan Sipil ITB, Prof DR Ir Rooseno, teman Bung Karno, mengawali kuliah pada 1963 dengan mengatakan, “Bapak kemarin bertemu Bung Karno. Beliau gusar karena harapannya agar perusahaan-perusahaan asing yang mengelola pertambangan kita mengolahnya di sini dan tidak menjadikan Indonesia sekadar eksportir bahan baku tidak mendapatkan tanggapan yang memadai. Dengan geram Bung Karno menyatakan: kalau putra-putri Indonesia belum mampu mengolah sendiri kekayaan alam tambang-tambang kita, biarkan tetap tersimpan di dalam bumi Ibu Pertiwi. Kita tunggu sampai anak cucu kita nanti mampu mengolahnya sendiri.” Cerita Rooseno selama dua menit, 52 tahun yang lalu itu, mengendap kuat di dalam alam pikir mahasiswa Sipil ITB dan mewarnai sikap politik ideologi mahasiswa pendengarnya.

Kiranya negara perlu menugasi semua guru dan dosen agar, setiap kali mengajar ilmu yang menjadi tanggung jawabnya, menyisihkan waktu tiga menit untuk mendidik dengan menyampaikan contoh-contoh nilai kehidupan yang luhur, baik dari pengalamannya pribadi, keteladanan tokoh-tokoh, atau dari buku-buku. Pendidikan karakter, moral, etika, dan integritas oleh guru di sekolah sangat penting karena banyak orangtua murid keduanya bekerja dan di masyarakat luas terjadi tontonan yang tak edukatif oleh para elite. Semoga dalam waktu singkat masyarakat Indonesia bisa berubah seperti Korea Selatan dan termotivasi seperti Jepang.(kompas).Penulis adalah Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Universitas Pancasila

artikel ini pernah diterbitkan di harian Kompas edisi 25 November 2015, halaman 7 dengan judul  yang sama ,juga pada tabloid Forum Indonesia

 

LEAVE A REPLY