Indonesia Dikepung GIS

0
180

Oleh: Abd. Kholiq*

 Optimisme INDONESIA bakal jadi negara besar setara – bahkan mengungguli Amerika dan sekutunya, itu bukan bualan. Potensi SDA, SDM, geografis, wilayah dan lainnya cukup tersedia. Secara acak, hampir semua penduduk negeri ini maklum potensi besar itu. Mereka juga paham, negara-negara asing justru lebih fasih berhitung untuk kemudian “menguasai” potensi itu sejak kolonial hingga kini. Dengan segala cara, nafsu ingin menikmati potensi tsb bagi bangsa kolonialis, tidak pernah padam. Terbukti, 72 tahun merdeka bangsa ini, jiwanya,  masih dalam kooptasi feodalisme  dengan penetrasi yang kian canggih. Sektor ekonomi dan politik, utamanya, dikuasai asing dengan rapih, Akibatnya, warga Indonesia terpaksa menjadi jongos  di negeri sendiri. Bisa lepas kooptasi ini, jika para petinggi negeri menyatu dalam gerakan memperkuat karakter bangsa dan melawan asing yang rajin memasarkan Ideologi Sesat. Sampai hari ini, kebersamaan para petinggi itu lebih banyak retorika.

Di era global kini,  seolah tidak ada batas antar negara. Apapun bisa saling diakses dan mengakses bahkah saling mempengaruhi menurut keinginannya sesuai zamannya. Sisi lain, perang ideologi pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika, tanpak makin kencang. Lahirnya blok-blok kekuatan; Ideologi Sekuler yang dipimpin Amerika, Ideologi Pasar Bebas (kapitalis) dengan arsitek Tiongkok (keduanya bisa disebut Gerakan Ideologi Sesat – GIS) dan Kekuatan Islam  Universal (KIU) yang segera membalancing dan memimpin peradaban  bangsa dunia. Dua kekuatan inilah yang bakal mengaduk-aduk karakteristik/ budaya di setiap negara, kecuali KIU.

Secara lantang Donald Trump tentu sudah berhitung beserta koalisinya mengibarkan bendera ideologi sekulernya membenci Islam meski mayoritas bangsa Amerika melawan. Sendi-sendi budaya bangsa bakal jadi mangsa blok sekuler yang mendesign kehidupan serba hodonis. Sementara Tiongkok secara sistemik mendistribusikan kapitalismnya di berbagai negera – dengan bertengger di jajaran pemerintahan – mereka rajin berkampanye konsep kesejahteraan ekonomi abu-abunya dengan target pola hidup profanistik, termasuk di Indonesia. Satu lagi, KIU, bila pilihannya adalah Indonesia maka tidak ada opsi lain para pemimpin/ ulamanya wajib melerai/ menghentikan “keserakahan” intervensi GIS yang tengah melakukan pembasmian budaya bangsa-bangsa dunia. Membina, membimbing, mengarahkan bahkan menghukum setimpal setiap gerakan personal atau kelompok ideologi manapun yang sengaja atau tidak – bertujuan mengamputasi peradaban luhur bangsa-bangsa dunia adalah kewajiban Indonesia sebagai pembina peradaban dunia. Jika tidak, peradaban luhur dunia akan tersungkur oleh agresor GIS.

Pencanangan Hari Bela Negara 19 Desember 2014 dan Program 10 tahun dengan 100 juta kader bela negara oleh PKBN (Pembinaan Kesadaran Bela Negara) merupakan satu upaya strategis untuk menangkal intervensi asing yang tak bosan melemahkan kedaulatan negara. Kata Menhan Ryamizard Ryacudu bahwa PKBN bertujuan agar kesadaran sikap dan karakter bangsa lebih tangguh berjiwa; Nasionalis-Relegius di tengah perang global. Tanpa pengauatan karakter, lebih dini, mustahil Indonesia mampu menjadi pembina karakter luhur bangsa dunia yang sekuler, kapitalis dan hedonis. Justru mereka yang akan memenangi pertempuran global dan Indonesia bisa terdegradasi oleh GIS.

Berikutnya, design pembangunan akan melenceng dari PANCASILA dan UUD’ 45 karena remote controlnya GIS yang endingnya pasti fisikal, kemegahan, hedonistis dan keangkuhan. Karakter relegius, hunamis–beradab, gotong royong, bermusyawarah-keterwakilan,  bertindak adil dalam sekejab akan mudah tumbang. Hasil pembangunan serba berparameter akal semata. Rasa dan karsa yang bersumber dari kekuatan relegius tereduksi. Watak-watak KIS  tidak hanya menyusup tapi mengganti INDONESIA KITA lantaran menang tanpa intervensi militer. Mampukah Indonesia membina peradaban dunia? Pemerintah, parlemen dan pemimpin informal harus segera menyatukan gerakan berdasarkan PANCASILA & UUD’45 yang asli. Kalau tidak, INDONESIA berada DI PERSIMPANGAN JALAN dan kapan jadi negara besar. Benarkah Indonesia Dikepung GIS?

LEAVE A REPLY