Aksi Balap Liar dan Tindak Pidana Perjudian Diajang Balap Liar Diwilayah Hukum Kabupaten Kediri

0
241

 

Oleh ; Hernowo Anggung Mardiko

Penulis : Redaktur Forum Indonesia

Arus globalisasi mempunyai implikasi yang signifikan dalam berbagai lini kehidupan. Implikasi tersebut mempunyai dua hal yang bertentangan ( kontradiktif ) .Masyarakat modern saat ini cenderung bersifat pragmatis dan mengabaikan norma – norma kemasyarakatan  yang ada.

Hal ini mengakibatkan tiadanya upaya filterisasi masing – masing individu untuk memilah mana dampak positif yang harus dimaksimalkan fungsinya dan mana dampak negatif yang harus diminimalisir akibatnya, khususnya dampak negative yang cenderung ke arah kriminalitas meskipun hal ini merupakan sebuah kreativitas yang seharusnya dapat diapresiasi. Contohnya kecanggihan transportasi darat seperti kendaraan bermotor yang dimodifikasi oleh para remaja yang justru malah jauh dari standarisasi yang sudah ditentukan. Hasil dari motor yang sudah dimodifikasi  digunakan untuk ajang balap liar yang merupakan suatu tindak pelanggaran.

Tulisan ini merupakan hasil dari pengumpulan data yang diperoleh melalui  observasi ( pengumpulan data melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di lapangan atau lokasi ) , wawancara dan dokumentasi. Sumber data primernya adalah wawancara para pelaku balap liar di kawasan seputar kabupaten Kediri ( salah satu areal monument Simpang Lima Gumul ),  para penonton di ajang balap liar, dan praktisi hukum ( pengacara/ advokad ) untuk mengetahui dari aspek  Yuridisnya ( hukum ). Adapun sumber data sekundernya adalah website , blog di internet , berita online , jurnal , dokumen dan sebagainya yang berkaitan dengan thema dalam tulisan ini.

Dari data yang dikumpulkan Forum Indonesia melalui methode di atas ( Observasi, wawancara dan dokumentasi )  ditemukan bahwa dalam ajang balap liar membahayakan keselamatan pelaku balap liar dan pengguna jalan lain, serta dilakukan kebanyakan pada waktu malam hari bahkan dini hari meskipun ada beberapa yang sore hari. Kasus balap liar sebenarnya bisa dijerat dengan Pasal 115 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”). Selain itu , dalam ajang balap liar, terindikasi kuat adanya perjudian berupa uang taruhan.

Balapan liar dalam pembahasan saya di sini adalah kegiatan adu kecepatan kendaraan bermontor roda dua yang dilakukan bukan di sirkuit balapan resmi melainkan di jalan raya atau jalanan umum dan dilakukan secara illegal ( tidak berizin ). Fenomena seperti ini dapat dikategorikan sebagai masalah sosial karena sangat meresahkan atau bahkan dapat membahayakan masyarakat.Apalagi pelaku balapan liar yang Forum Indonesia temui di lokasi adalah anak – anak yang masih berusia sekolah yaitu SMP dan SMA.

Maraknya aksi balapanliar , terkhusus kendaraan bermontor roda dua dalam pantauan media ini di seputar wilayah kabupaten Kediri – Jawa Timur masih saja terjadi. Beberapa tempat balapan  liar di Wilayah kabupaten Kediri di sekitar Wilayah Monumen Simpang Lima Gumul ( meskipun sudah sering dirazia aparat Kepolisian ) , di Jln. Srikaton ( dari Pasar Sambi ke barat ) yang pada 13 Juli lalu  sekira jam 2:00 atas  pengaduan masyarakat  digerebeg oleh anggota Polsek Ringinrejo , di Kromasan Kras  masuk wilayah hukum Polsek Kras , di Desa Ngasem masuk wilayah hukum  Polsek Gampengrejo, dan lain – lain  tempat .

Meskipun area Monumen Simpang Lima Gumul ( SLG ) tetap ada aksi balapan  liar namun sudah banyak berkurang keberadaannya berkat kinerja yang baik dari pihak berwenang dalam melakukan giat  razia dan penertiban.

Selain tempat – tempat yang  disebutkan tadi memang ada beberapa tempat di wilayah kabupaten Kediri yang digunakan sebagai sirkuit untuk ajang balapan  liar namun berdasarkan data  yang dihimpun oleh Forum Indonesia dari berbagai sumber menyimpulkan bahwa tempat – tempat yang disebutkan adalah yang paling sering digunakan untuk ajang balapan  liar  akhir – akhir ini , khususnya  adalah daerah Kromasan Kras  yang patut mendapatkan perhatian khusus dari pihak berwenang untuk dilakukan giat  razia balapan liar di wilayah tersebut .

Hampir semua kota besar di Indonesia memiliki lokasi favorit untuk melakukan aksi balap liar , tak terkecuali di kabupaten Kediri Jawa Timur juga memiliki lokasi favorit bagi para remaja untuk aksi balapan liar. Para joki balapan  liar biasanya memilih ruas jalan yang cukup panjang dengan kondisi mulus untuk melakukan aksinya ini. Selain kawasan Monumen Simpang Lima Gumul ( SLG ) dan jl. Srikaton , kawasan ruas jalan di Kromasan kras- Kabupaten Kediri kerap dijadikan arena balap liar.

Yang mencengangkan adalah nuansa berbau judi taruhan uang antar joki balapan liar dan bengkel di linkungan balapan liar adalah suatu hal yang lazim , sebab taruhan sejumlah uang ( baca : judi ) di aksi balapan liar adalah suatu hal yang bisa dibilang barang wajib. Tanpa taruhan di aksi balapan liar bisa diumpamakan laksana makanan  tanpa garam , jadi nuansa perjudian di arena balapan  liar sangat kental dan dapat dipastikan hampir 99 persen terjadi/ada.

Tak jarang pula ditemukan bengkel yang biasa memodifikasi montor standart menjadi montor balap liar. Beberapa komponen mesin dimodifikasi  atau bahkan diganti dengan komponen lain. Dan bukan sembarang suku cadang ( spare part ) yang dipasang. Suku cadang ( spare part ) dengan harga yang melangitpun juga menjadi pilihan untuk menyulap kondisi montor menjadi montor balapan liar yang paling disegani.

Ada beberapa bengkel montor yang tidak  hanya sekedar menjadi tempat memodifikasi . Di arena balapan liar , dua montor yang bertarung kerap berasal dari bengkel yang berbeda. Persaingan bukan lagi antar joki, melainkan gengsi antar bengkel.

Sebagaimana yang disebutkan di atas tadi , bahwa balapan liar jika tak melibatkan taruhan sejumlah uang ( judi ) itu seperti makanan tak bergaram. Besarnya nominal taruhan tidak main – main. Untuk motor yang sudah memiliki reputasi , nominal taruhannya pun mencapai puluhan juta Rupiah. Begitu motor – motor yang beradu cepat menyentuh garis finish, penonton pun bergemuruh. Senyum kemenangan bukan hanya didapat dari pembalap tapi juga penonton balapan liar tersebut.  Jutaan Rupiah pun didapat dari apa yang dia lakukan , selain itu bahkan tak jarang pula juga mendapatkan tambahan uang dari taruhan pinggiran , sebutan untuk taruhan antar penonton balapan liar.

Selain mewujudkan situasi aman – kondusif, dan  juga guna mewujudkan kenyamanan  bagi pengguna jalan serta mencegah terjadinya kecelakaan yang dipicu dari balapan  liar diharapkan jajaran Kepolisian lebih intens  melakukan razia  balap liar ,dan masyarakat sekitar juga diharapkan pula bersedia pro-aktif dalam mencegah terjadinya aksi balapan liar di lingkungannya , salah satu caranya adalah melaporkan ke kantor polisi setempat apabila daerahnya akan atau telah digunakan balap liar.

Peraturan perundang-undangan sudah secara jelas melarang pengemudi kendaraan bermotor berbalapan dengan kendaraan bermotor lainnya.Pasal 115 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”) mengatur sebagai berikut:Pengemudi Kendaraan Bermotor di Jalan dilarang:mengemudikan Kendaraan melebihi batas kecepatan paling tinggi yang diperbolehkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21; dan/atau, berbalapan dengan Kendaraan Bermotor lain.Pengendara kendaraan bermotor yang berbalapan di jalan dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp3 juta.

Pada umumnya dan bahkan seringkali terjadi , balapan  liar dilakukan pada waktu malam hari di atas jam 11 malam , salah satu contohnya baru – baru ini adalah balap liar yang terjadi di salah satu area wilayah hukum Polsek Ringinrejo ( di bawah jajaran Polres Kediri– Jawa Timur ) kemarin ( 13/7/2017 ) yang dilakukan di atas jam 1 malam atau hampir jam 2 dini hari saat masyarakat  sekitar istirahat apalagi dilakukan di  jalanan  yang menuju pasar tradisional ( Pasar Sambi ). Dan untuk hal ini juga bisa dijerat dengan pidana berdasarkan Pasal 503 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) berbunyi:

“Dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga hari atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 225 barangsiapa membuat riuh atau ingar, sehingga pada malam hari waktunya orang tidur dapat terganggu.”

 Tak jarang pula aksi balapan  liar dilakukan pada sore hari , seperti salah satu contohnya adalah yang terjadi di sekitar Wilayah Monumen Simpang Lima Gumul  ( SLG ) Kab. Kediri – Jawa Timur, meski sudah sering dibubarkan oleh polisi namun para pembalap liar tetap saja tak peduli dan terus melakukan aksi yang tidak hanya membahayakan keselamatan dirinya sendiri tapi juga pengguna jalan lain . Kita sebagai masyarakat wajib mendukung langkah – langkah yang diambil  aparat Kepolisian dalam usahanya menertibkan aksi – aksi balapan liar  yang menggangu pengguna jalan lain dan membahayakan keselamatan jiwa .

Sepanjang penelusuran media ini, ketika mewawancarai salah satu narasumber yang merupakan mantan joki balap liar kendaraan bermotor roda dua dan juga mewawancarai penyuka balap liar ( penonton )  , bahwa balap liar ini pasti  diwarnai aksi perjudian ( Psl. 303 KUHP ) di kalangan para pembalap liar termasuk para penontonnya juga ( untuk taruhan antar penonton mereka menyebutnya dengan istilah “ pinggiran “  ) dalam bentuk taruhan sejumlah uang yang nilai nominalnya hingga puluhan juta.

Fenomena perjudian diajang  balap liar merupakan fenomena yang unik karenadalam kasus ini ada dua tindak kriminalitas sekaligus yang dilakukan oleh parapelaku balap liar. Perjudian sendiri dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian yang dinyatakan dalam Pasal 1 bahwa “semua tindak perjudian sebagai kejahatan” dan di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 303tentang Perjudian, serta Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ajang  balap liar itu sudah menjangkiti banyak para remaja. Mulai dari yang  hanya berorientasikan hobi sampai pada taraf yang mengikuti balap liar karena faktor gengsi belaka. Walaupun sudah banyak para pelaku balap liar yang tertangkap petugas kepolisian , tetapi masih saja ajang balap liar tersebut ada sampai sekarang seolah- olah hukuman yang diberikan kepada para pelaku tidak dapat memberikan efek jera kepada pelakunya.

Banyak penyebab para remaja  yang mendorong kegiatan ini terus berkembang hingga saat ini, beberapa yang dapat saya simpulkan diantaranya : Uang taruhan,Gengsi atau nama besar bengkel,Hobi,Memacu adrenalin,Kesenangan,Rasa ingin mencoba hal yang baru

Ada dua catatan yang perlu mendapatkan perhatian terkait balapan liar , pertama , balapan liar sangat merugikan orang lain dan membahayakan keselamatan diri si pembalap liar, karena dilakukan di jalan raya umum yang digunakan orang lain bukan di sirkuit balapan resmi , sehingga bisa menyebabkan kecelakaan pada orang lain yang sedang melintas. Yang kedua ,balapan liar juga menjadi tempat perjudian atau taruhan uang hingga mencapai nominal  jutaan rupiah.

Diharapkan aparat Kepolisian lebih intens lagi melakukan giat razia balapan liar di titik – titik lokasi yang kerap dijadikan ajang balap liar, selainitu , kita tahu ajang balap liar merupakan salah satu tindak kriminalitas yang melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”)juga mengganggu kenyamanan warga sekitar dan membahayakan keselamatan pengguna jalan, apalagi dilakukan pada malam hari di atas pukul 11 malam bahkan tak jarang pula dini hari.

 

 

 

LEAVE A REPLY