Krisis Garam,Anomali Atau Salah Kelola

0
7

Ilustrasi

FI.CO – Krisis garam melanda sejumlah daerah,opsi import pun terwacanakan,benarkah akibat anomali,atau salah pengelolaan. Haingga kini dinas yang berkompeten di kabupaten dan kota belum buka suara.Rakyat minta segera ada solusi.

Sejumlah warga mengeluhkan kian sulitnya memperoleh garam beryodium di sejumlah daerah Jawa Timur akibat pasokan yang terus berkurang sehingga menyebabkan beberapa kios pengepul tutup sejak beberapa pekan terakhir.”Di pasar besar, kios-kios pengepul sudah pada tutup. Mencarinya harus mengecer di warung atau toko kecil di pelosok desa/kota namun harganya biasanya sudah melambung,” kata Usmiatun, warga Tulungagung, Selasa.

Tak hanya kalangan ibu rumah tangga yang mulai kerepotan dengan langka dan mahalnya harga garam yodium tapi juga dunia usaha, khususnya UMKM.Sejumlah usaha kecil menengah produk makanan/minuman olahan yang salah satu bahan bakunya bergantung ketersediaan garam yodium di pasaran, seperti ikan asin, telur asin, hingga es krim, mengeluhkan hal serupa.”Masih dapat kalau keliling warung-warung di pinggiran, namun harganya sudah naik dua kali lipat,” kata Suprihatin, pedagang es puter atau es krim.

Hal yang sama terjadi di Madiun, “Garam lagi susah dicari di pasaran. Kalaupun ada, harganya mahal, bisa naik hingga 100 persen,” ujar seorang pedagang toko kelontong di Kelurahan Nambangan Kidul, Anita Heryana kepada wartawan, di Madiun,pada 21 Juli lalu.Menurut dia, sudah lebih dari sepekan terakhir garam langka di pasaran. Para pedagang sulit kulakan karena tidak ada kiriman barang dari distributornya.

“Kalaupun ada, kulakan barangnya mahal. Saya biasa kulakan garam cap Jempol dan Cerdik, tapi kedua garam halus itu sudah hilang di pasaran. Tinggal ada garam Refina, itupun kulakannya mahal. Harga jualnya mencapai 2.500 per kemasan kecil. Padahal biasanya hanya  seribu per bungkus,” ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh pedagang toko kelontong di Pasar Besar Kota Madiun, Lestari. Biasanya, satu paket berisi 20 bungkus garam halus dijual dengan harga  17 ribu, kini dijual naik seharga 21 ribu  per paket.Sedangkan untuk eceran, kini garam dijual  1.500 hingga 2 ribu per kemasan. Padahal, biasanya hanya  500 hingga  750 per kemasan.”Ini kenaikan harga paling tinggi untuk komoditas garam. Biasanya tergolong stabil dan tidak pernah naik harga,” ujar Lestari.

Menurut pengakuan salah satu pedagang garam di pasar Ngemplak Tulungagung , Miftahul Huda, kelangkaan garam disebabkan pasokan yang terhenti.Kalaupun ada kiriman dari produsen atau distributor besar, kata Miftahul, volumenya jauh dari kebutuhan pasar sehingga memicu kenaikan berlipat harga garam.”Garam yodium yang dulunya seharga 1.500 per biji/bungkus kini bisa dijual 2.500 hingga 5 ribu , yang dulunya 3 ribu bahkan bisa naik dua kali lipat menjadi 10 ribu,” ujarnya.Di pasar tradisional Ngemplak dan Pasar Wage yang ada di pusat kota Tulungagung, beberapa kios pengepul garam informasinya sudah tutup sejak tiga pekan terakhir.

Keresahan harga garam juga menjakiti ibu –ibu rumah tangga di wilayah Nganjuk,Sumiati 38 tahun warga kelurahan Warujayeng,Ia katakan kenaikan mencapai seratus persen,Warga Nganjuk lainya,Martini  35 tahun warga Baron yang kesulitan mencari peara asin ini,biasa di warung – warung sekitar sini ada tapi belakangan kehabisan kata pemilik warung,kata Martini

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengakui kondisi krisis garam yang terjadi di wilayahnya. Hal tersebut diakibatkan cuaca buruk, sehingga menyebabkan produksi tambak garam turun drastis.“Produksi garam di Jawa Timur kalau mataharinya bagus itu bisa 174 ribu ton, karena matahari saat ini banyak ditutupi mendung turun menjadi 124 ribu ton, jadi ada minus yang tinggi sekali,” kata Soekarwo di Tulungagung 21 Juli lalu.

Menurutnya, selain kondisi panen petani tambak turun, kualitas garam yang dihasilkan juga kurang maksimal, karena banyak yang bercampur dengan tanah. Mengingat sebagian petani garam masih menggunakan metode konvensional.Terkait kondisi tersebut pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak, karena pemicunya adalah faktor alam. Soekarwo mengaku tidak menutup kemungkinan untuk melakukan mimpor garam untuk memenuhi kebutuhan warga.“Lain dengan Australia gunung yang dijadikan tambang/produksi garam, kalau kita tetap menggunakan air laut,” ujarnya.

Kondisi kelangkaan garam terjadi hampir merata di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Selain langka, harga garam di tingkat produsen hingga eceran mengalami kenikan hingga 100 persen.Garam dapur kemasan kecil yang biasanya dijual 1500 per bungkus, saat ini naik menjadi 3 ribu hingga 5 ribu per bungkus.

Jawa Tengah garam  mengalami penurunan dan membuat harganya melonjak. Langkah membuka keran impor garam dianggap menjadi salah satu jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, Lalu M Syafriadi, mengatakan pada 2015 lalu Jateng menjadi produsen garam terbesar kedua setelah Jawa Timur, dengan jumlah 832 ribu ton.
“Tahun 2016 karena Lalina, ambleg di bawah 10 persen . Musimnya kemarau yang basah. Diikuti 2017 ini kan dampak,” kata Lalu,25 Juli lalu.
Selain faktor alam, kurangnya pasokan garam karena penutupan impor garam juga dinilainya menjadi salah satu penyebab. Oleh sebab itu, menurut Lalu, impor garam perlu dibuka sementara untuk memenuhi kebutuhan konsumen.”Dalam langkah paling mudah, buka keran impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sementara,” tandasnya.
Pembukaan keran impor garam, lanjutnya, dilakukan sementara sembari menata areal tambak garam. Tidak hanya itu, di beberapa daerah di Jawa Tengah juga akan dibangun pabrik garam.
“Jadi nanti tetap mekanismenya akan tampung produk masyarakat,” kata dia.

Kelangkaan garam bisa membuat orang  mengambil keuntungan sepihak,mengingat garam merupakan kebutuhan penting sehari-hari.Spekulan pun perlu diwaspai kehadiranya.Seperti terjadi di Lamongan ,Warga dikagetkan beredarnya garam kemasan diduga bercampur dengan bongkahan kristal mirip tawas. Temuan ini dialami warga Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro.

Seorang warga bernama Kutia, garam kemasan yang sudah mereka beli tercampur dengan sejenis batu kristal putih dan sangat sulit untuk dihaluskan. “Saya belinya dari toko kelontong di desa ini dan ternyata ketika saya haluskan bersama bumbu lain sangat susah,” katanya.
Kutia mengaku batu mirip kristal yang tercampur dengan garam ini sangat sulit dihaluskan bersama dengan bumbu dapur lain. Menurut Kutia, garam bercampur batu mirip kristal yang dibeli dari sejumlah toko terdekat sekitar rumahnya tersebut dalam bentuk kemasan plastik.
“Saya tahunya ya pas mau diulek bareng bumbu dapur lain. Dan setelah dicek ternyata yang sulit dihalus berbentuk batu mirip kristal,” kata Kutia kepada wartawan di rumahnya,pada 26 Juli kemarin.Kutia memaparkan, dirinya membutuhkan tenaga ekstra untuk menghaluskan garam kemasan tersebut dan jika dipukul memakai ulekan malah bersuara keras.

Sementara salah satu pemilik toko kelontong yang menjual garam di desa tersebut, Indahwan mengaku tidak tahu jika garam kemasan yang djualnya bercampur dengan batu kristal yang diduga tawas tersebut. Indah mengaku akan mengembalikan garam tersebut ke toko asal dimana dia membeli sebelumnya. “Saya baru tahu kalau garam tersebut bercampur batu semacam itu, pembelinya yang sambat,” kata Indahwan yang berjanji akan mengembalikan garam kemasan tersebut karena takut merugi karena tak laku.

Terpisah Kepala Disperindag Lamongan, Muhammad Zamroni mengatakan, baru mengetahui adanya laporan mengenai garam bercampur batu yang diduga tawas tersebut. Zamroni berjanji segera memantau pasar-pasar di Lamongan agar tidak meresahkan masyarakat. “Kami akan memantau kebenaran mengenai garam kemasan bercampur batu diduga tawas ini ke pasar-pasar,” tegasnya.Pihaknya berharap masyarakat yang menemukan garam kemasan semacam ini segera melapor agar segera bisa ditindaklanjuti. “Kami juga berharap peran serta masyarakat untuk melaporkan jika melihat atau mengalami hal yang sama,” tambahnya.

Dari Surabaya dilaporkan,Dinas Kesehatan Kota Surabaya belum memastikan kandungan bahan mirip tawas yang tercampur dalam garam. Hal ini dikarenakan sampel garam baru dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya drg Febria Rachmanita mengaku pihaknya baru menerima sampel garam yang dikirim dari Kecamatan Bulak. Dan Dinkes Surabaya langsung mengirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) untuk diuji kandungan bahan mirip tawas tersebut.
“Maaf mas, saya baru terima hari ini dan kita kirim ke BBLK,” kata Febria Pengambilan sampel garam bercampur bahan mirip tawas dilakukan pihak Kecamatan Bulak agar warga khususnya pengolah ikan asin, tidak resah dengan temuan garam oplosan saat kelangkaan garam terjadi.

Fenny sapaan akrab Kadinkes Surabaya ini juga tidak bisa memastikan kapan hasil uji laboratorium bahan mirip tawas yang ditemukan bercampur garam grosok oleh pengolah ikan asin di kawasan Nambangan, Bulak. “Belum ada hasilnya, karena baru kita kirim,” imbuh Fenny.

Garam bercampur bahan mirip tawas ini ditemukan seorang warga pada 23 Juli lalu yang hendak mengolah ikan hasil tangkapan menjadi ikan asin menggunakan garam yang dibeli dari pedagang garam keliling seharga 250 ribu/50 kg.

Melonjaknya harga dan kelangkaan garam di sejumlah daerah, berdampak produksi pengasinan ikan di Kabupaten Probolinggo. Dampak mahalnya harga garam yang mencapai 3.500 per kg, produksi pengasinan ikan kering turun hingga 50 persen.

“Sulit untuk mensiasati jika harga garam masih mahal, karena garam merupakan bahan utama untuk pengasinan ikan. Jalan keluarnya terpaksa kita menurunkan produksi. Sedangkan harga garam dari petambak sekarang saya Ambil 4 ribu, yang sebelumnya hanya 1.700 per kg,” kata Siti Saleha, warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, pemilik usaha pengasinan ikan, 26 Juli kemarin.

Ia mengaku, setiap harinya mampu memproduksi 1 ton ikan asin, saat ini produksinya menurun drastis. Siti hanya mampu memproduksi 3 kwintal saja. Dan itu sudah terjadi beberapa bulan.
“Itupun saya hanya bisa kirim ke pasar kecil atau pasar lokal saja. Untuk pasar skala besar atau di luar daerah sudah tidak mampu, karena terlalu mahal. Sedangkan untuk menaikkan harga ikan asin, saya takut. Karena itu berdampak terhadap pelanggan, harga saya naikan sedikit, saya berani mengurangi produksi saja,” jelasnya.”Satu kali produksi itu butuh 4 kwintal garam, harganya 2 juta. Jadi kita itu tidak mampu untuk menutupinya, ditambah mahalnya harga ikan. Karena ikan asin yang saya produksi ini, berbagai jenis ikan,” tandasnya.

Sementara Hj Sumirah, salah satu pedagang ikan asin di pasar tradisional Paiton mengaku sejak harga garam mahal, ikan asin yang dijualnya di pasar mengurangi omzet. Pasalnya, selain stok ikan asinnya terbatas, harga kulakannya juga naik.”Permintaan ikan asin sebetulnya banyak untuk dijual di toko peracangan, tapi sekarang stok ikan asin terbatas. Karena dari produksinya para pedagang di pasaran dibatasi. Jadinya kita hanya menjual seadanya,” aku Sumirah.(tim liputan Trans Indonesia)

artikel ini dimuat Tabloid Trans Indonesia,edisi awal bulanagustus dengan judul dan isi tidakmengalami perubahan

LEAVE A REPLY