Tradisi Sodoran Peringati Hari Raya Karo di Probolinggo

0
114
Tradisi Sodoran di Probolinggo

FI.CO, Probolinggo – Tradisi Sodoran memperingati Hari Raya Karo tahun saka 1939 Sakawarga Suku Tengger di Kabupaten Probolinggo, kembali digelar. Seperti biasa, tradisi ini selalu digelar di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, pada 7 September.

Tradisi ini mengisahkan prosesi perkawinan yang ada di Jawa. Dalam iring-iringan ini rombongan mempelai laki-laki diarak menuju pelaminan. Mereka membawa sejumlah pusaka disebut jimat klontong khas Suku Tengger yang sudah berusia ratusan tahun. Iringan perkawinan ini juga diiringi musik gamelan khas Suku Tengger.

Sementara iring-iringan dari Desa Wonotoro bersebelahan dengan Desa Ngadisari, adalah rombongan dari mempelai laki-laki yang dipertemukan dengan rombongan mempelai wanita. Kedua rombongan itu kemudian menuju kursi pelaminan, telah berkumpulnya sejumlah warga dengan pakaian adat lengkap berbagai macam sesajinya.

Dilanjutkan upacara Mensucian Pusaka Tengger berupa pusaka berupa Gayuh, Tanduk Banteng, dan tombak atau sodor berusia ratusan tahun, yang dibacakan mantra oleh sesepuh Suku Tengger.

Puncak dari tari sodoran adalah penampilan rombongan kedua mempelai. Seluruh ritual ini menggambarkan penciptaan benih bopo laki-laki dan babu wanita oleh Sang Hyang Widi di jagat raya.

Menurut Supoyo, salah satu tokoh Suku Tengger, di tengah acara rombongan ibu-ibu rumah tangga dengan pakaian adat lengkap, menghantar makanan atau ater lawuh. Makanan berjenis 4 macam itu, diberikan kepada suami dan anak mereka yang mengikuti sodoran.

Tradisi Sodoran di Probolinggo/
Tradisi Sodoran di Probolinggo

“Ini tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1790 hingga sekarang. Tradisi sodoran ini sudah ada dari dulu ini peninggalan warisan budaya turun temurun, mengisahkan awal mula pencintaan manusia antara laki-laki dengan perempuan. Dan merupakan suatu ritual tradisi agar kita diselamatkan dari mara bahaya, dan dipersembahkan untuk leluhur kami,” kata Supoyo usai acara.

Sementara Yulius Christian, Camat Sukapura, tradisi sodoran ini sudah menjadi jiwa warga Suku Tengger. Dan itu harus dihidupkan selamanya hingga anak cucu nanti.

“Ini sudah menjadi tradisi rutin turun temurun dari warga Suku Tengger, yang dilengkapi dengan sesaji yang dibutuhkan. Banyak ritual yang harus dilakukan oleh warga Tengger, termasuk tradisi upacara karo kali ini,” jelas Yulius.

Sementara setelah upacara karo berlangsung, para istri langsung memasuki tempat sakral tari sodoran, sambil membawa makanan untuk suaminya. Ini sebagai simbol keharmonisan antara bopo dan babu atau pria dan wanita yang berpasangan.

LEAVE A REPLY