Menjaga Pusaka Merawat Budaya

0
15
Dadang dan senjata pusaka peninggalan leluhur

FI.CO – Kerak darah membuat korosi beberapa benda pusaka peninggalan kerajaan Muara Beres. Senjata tajam itu kini disimpan di sebuah musium keris di lantai dua Masjid Al Atiqiyah, Karadenan, Cibinong, Bogor.

Sejak dua tahun ini R Dadang Supadma merawat benda-benda pusaka peninggalan leluhur di kampungnya. Tidak kurang 70 senjata pusaka terdiri keris, kudi, tombak, golok dan gobang (golok panjang) berhasil dia kumpulkan dan kini tersimpan rapi di musium masjid.

Menurut Dadang, setiap rumah di Jalan Kaum I, Karadenan dulu memiliki satu atau bahkan beberapa benda pusaka turun temurun dari nenek moyang. Namun semakin lama, senjata bersejarah yang sudah di makan usia itu semakin berkurang. Dia pun berinisiatif untuk mengumpulkan dari warga dan menempatkan di museum masjid.

“Tentu kita tidak mau peninggalan nenek moyang kita hilang begitu saja. Maka kita ajak keluarga dan seluruh keturunan berkumpul untuk mengumpulkan benda pusaka di satu tempat,” ujar Dadang di kediamannya, Jalan Kaum I, Karadenan beberapa waktu lalu.

Dadang dan senjata pusaka peninggalan leluhur

Dari 70 senjata pusaka itu, Dadang menyebut kudi adalah yang tertua. Meski tidak bisa memperkirakan kapan dibuatnya, dia meyakini bahwa senjata itu adalah cikal bakal kujang, senjata khas Kerajaan Pajajaran yang kini menjadi simbol Kota Bogor. Menurut Dadang, dari bentuk kudi inilah kemudian disempurnakan dan menjadi kujang.

“Ini (kudi) senjata yang dipakai di zaman kerajaan, sebenarnya ini senjata dari zaman Kerajaan Galuh. Di sini ini cuma tinggal satu. Umurnya juga lebih tua dibanding senjata yang lain,” kata dia sambil memperlihatkan kudi yang sudah korosi dimakan zaman.

Dalam merawat benda-benda pusaka, Dadang dan beberapa warga lainnya juga menggelar jamasan atau pencucian pusaka. Namun beda dengan masyarakat Jawa yang biasanya menjamas benda pusaka pada satu suro, Dadang dan warga Karadenan menjamas pusaka itu pada perayaan Maulid Nabi.

Dadang mengatakan ritual memandikan pusaka pada hakikatnya sama yakni ‘mengisi’ benda pusaka tersebut dengan salawat Nabi serta diikuti zikir. “Kalau pas Maulid kan lebih berasa pembacaan salawatnya apalagi ribuan orang hadir ke sini (Masjid Al Atiqiyah),” tukasnya.

Beberapa hari sebelum perayaan Maulid Nabi, benda-benda pusaka itu dicuci dengan air kelapa beserta warangkanya. Setelah itu pusaka itu akan akan dibakar di atas dupa dan diberi wangi-wangian.

Dadang dan senjata pusaka peninggalan leluhur

“Kami nyebutnya ngawarang, dan bisanya nanti kita bacakan salawat juga,” ujar Dadang.¬†Saat perayaan Maulid Nabi, senjata-senjata itu kemudian diwarang bersama di halaman masjid. Setelah itu kembali disimpan di museum.

“Di setiap pusaka kita beri nama pemiliknya supaya tidak tertukar ahli warisnya nanti,” ujarnya.¬†Dadang menolak jika segala ritual yang dia lakukan terkesan mistis. Menurutnya, apa yang dia lakukan bersama warga dalam memperlakukan benda pusaka itu hanya untuk merawat tradisi yang sejak kecil sudah mereka kenal.

“Kalau kata orang dulu mah kita cuma memelihara tali paranti. Tidak ada maksud musrik atau mengagungkan keris selain Allah,” ujarnya.

LEAVE A REPLY