Legenda Batu Eon di Bandung yang Kuat dan Antidinait

0
13

FI.CO, Bandung – Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat memiliki sebongkah situs cagar budaya atau batu bersejarah yang dinamai ‘Batu Eon’

Konon katanya, dahulu kala batu tersebut tidak bisa dihancurkan dan dipindahkan sekalipun menggunakan alat berat. Hal tersebut terbukti saat pembangunan PLTA pada abad ke-19 silam. Batu yang memiliki ukuran perut induk kerbau itu berdiri kokoh di tengah kolam tando harian PLTA PT Indonesia Power, Cikalong, Pangalengan.

Lokasinya hanya satu kilometer dari Bumi Adat Cikondang. Untuk sampai ke situs batu bersejarah ini dapat diakses dari Kota Bandung via Banjaran-Cimaung sejauh 90 kilometer. Tak banyak terlihat aktivitas warga di sekitar kolam tando PLTA, hanya sejumlah anak-anak yang bermain bola.

Konon batu ini kuat dan antidinamitSuasananya hening, alamnya masih asri karena dikelilingi rimbun pepohonan dan semilir angin yang berhembus menambah ketenangan bagi siapa saja yang berkunjung ke Batu Eon.

Menurut cerita rakyat yang berkembang, ada warga Lamajang bernama Abah (sebutan orangtua laki-laki) Eon yang hendak memindahkan batu tersebut. Ia tertantang untuk memindahkan batu yang secara mistis tak bisa dipindahkan.

Beragam cara dan segala upaya dilakukan Abah Eon untuk memindahkan batu itu, salah satunya dengan menghancurkan batu itu. Meski begitu, tak ada satu pun alat yang mampu menghancurkan batu berwarna kecoklatan itu.

Upaya terakhir dilakukan Abah Eon. Sebuah dinamit yang dipersiapkannya untuk menghancurkan batu itu dengan harapan hancur berkeping-keping. Namun, usahannya gagal karena batu itu tidak hancur. Setelahnya, Abah Eon jatuh sakit dan meninggal.

“Sejak itulah warga setempat menamai Batu Eon,” kata pengelola Desa Wisata Lamajang, Ade Sukmana (47) saat ditemui dikediamannta di Desa Lamajang, belum lama ini.

Ade menuturkan, cerita itu belum dapat dipastikan kebenarannya, namun kisah Abah Eon tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata, hingga saat ini Desa Lamajang menjuarai desa wisata terbaik se-Kabupaten Bandung.

“Sulit mencari informasi yang valid mengenai kisah itu. Tapi yang pasti PLTA ini diresmikan oleh Presiden Soekarno tahun 1954 lalu,” turur Ade.¬†Warga hanya bisa melihat batu ini dari kejauhanAde mengungkapkan, dari cerita orang tuanya dulu, lokasi berdirinya Batu Eon, merupakan tanah pemakaman dan terkenal angker. Banyak kambing warga yang mati mendadak ketika digembalakan ke kawasan itu.
“Kata orang tua dulu banyak jurig-nya (sebutan hantu dalam Bahasa Sunda), sebenarnya ada batu yang lebih kecil selain Batu Eon, semuanya digunakan untuk pembangunan,” ungkapnya.

Dari kejauhan terlihat batu tersebut berada di tengah kolam, laiknya pulau kecil. Pengunjung memang tidak bisa melihat dari dekat, sebab pagar dengan kawat berduri mengelilingi batu itu. “Batu Eon, kisahnya mirip-mirip dengan legenda Batu Cinta di Situ Patenggang,” kata Ade.

LEAVE A REPLY