Menyibak Misteri Dibalik Lukisan Wanita Berambut Panjang

0
15

FI.CO, Malang – Terpajang sebuah lukisan hitam putih di tembok salah satu ruangan Hotel Tugu Malang. Tampak lukisan sosok wanita anggun berambut lebat nan panjang, terpajang rapi di sebuah ruangan klasik yang dinamai The Raja Room itu.

Tatapan tajam wanita dalam lukisan itu, membuatnya seolah-olah hidup. Dia adalah Oei Hui Lan, putri kesayangan Raja Gula di Asia Tenggara, Oei Tiong Ham. Seorang wanita yang belakangan menulis sebuah buku perjalanan hidupnya, berjudul “No Feast Last Forever”.

Lukisan Oei Hui Lan di Hotel Tugu

Oei Tiong Ham, Raja Gula dari Semarang
Oei Tiong Ham adalah pria konglomerat yang sohor dengan julukan Raja Gula dari Semarang. Kekayaan yang melimpah, membuat dirinya sempat dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia Tenggara. Oei Tiong Ham lahir di Semarang, 19 November 1866 silam. Ia meninggal dunia secara mendadak pada 6 Juni 1924 akibat serangan jantung.

Lukisan Oei Tiong Ham di Hotel Tugu Malang

Oei Tiong Ham merupakan pemilik perusahaan Oei Tiong Ham Concern dan NV Kian Gwam, yang keduanya berpusat di Semarang. Pria asal Tong An, Fujian, Tiongkok ini memiliki sejumlah anak perusahaan yang bergerak di perkebunan tebu, pabrik gula, perbankan, asuransi, dan import bahan-bahan pokok.

Meski begitu, bisnis utama Tiong Ham tetap pada bidang eksport gula pasir. Karena itu, ia membangun sekira 5 pabrik gula di pulau Jawa, termasuk Pabrik Gula Krebet di Malang.

“Dulu, beliau (Oei Tiong Ham) pernah menguasai gula se Asia Tenggara. Dulunya pak Oei Tiong Ham ini pernah tinggal di Malang, dan sampai punya pabrik di Malang. Pabrik Gula Krebet punya beliau,” papar Crescentia, Marketing Manager Hotel Tugu, Sabtu (1/4) lalu.

Oei Tiong Ham menikah dengan Goei Bing Nio, dan dikaruniai dua orang putri, yakni Oei Tjong Lan dan Oei Hui Lan. Meskipun, Oei Tiong Ham selanjutnya memiliki 18 gundik dengan 42 orang anak, namun Oei Hui Lan merupakan anak perempuan yang nampaknya paling disayangi Oei Tiong Ham.

Semasa kecil, Hui Lan seringkali diajak ayahnya berkeliling saat dalam perjalanan bisnis, salah satunya berlayar menuju Penang, Malaysia. Sebagai putri seorang konglomerat, apapun keinginan Hui Lan akan dikabulkan dengan segera oleh sang ayah. Hui lan menjadi istimewa lantaran dianggap sebagai pembawa rezeki.

Oei Hui Lan dan “No Feast Last Forever”
Setidaknya, nama Oei Hui Lan mulai banyak dikenal melalui dua buku yang menuliskan kisah hidupnya. Yakni No Feast Last Forever dan Kisah Tragis Oei Hui Lan. No Feast Last Forever ditulis Madame Wellington Koo bersama Isabella Taves, dan hanya diterbitkan di Amerika. Sedangkan, Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia ditulis oleh Agnes Davonar, 2011 lalu.

Bergelimang harta dan kemewahan, Oei Hui Lan seolah-olah hidup dengan menggenggam dunia di tangannya. Apapun yang diinginkannya selalu dapat dipenuhi dengan segera, kecuali cinta dan kebahagiaan. Hidup mewah, dan berfoya-foya ternyata tak mampu mendatangkan kebahagiaan bagi Hui Lan. Terlebih, pengalaman pahit cinta pertama, membuat Hui Liu tak ingin terlibat hubungan cinta dengan pria.

 

Ikut tinggal dengan ibunya di London, membuatnya menjadi bagian dari obsesi Goei Bing Nio. Sang ibu ingin membuat Oei Hui Lan sebagai orang terpandang di London. Obsesi itu menggiring Hui Lan menikah terpaksa dengan Wellington Koo, orang nomor dua di Cina kala itu. Wellington Koo adalah duta besar Cina untuk Amerika, yang membawa misi kemerdekaan Negeri Tirai Bambu.

Menikah dengan Wellington Koo memang membuat kasta Hui Lan menjadi lebih tinggi. Ia mulai dikenal para pembesar negara yang menjalin hubungan dengan Cina. Termasuk bergaul dengan keluarga presiden, kerajaan, menteri dan anggota pemerintahan strata atas. Tak heran, jika Oei Hui Lan lebih dikenal dengan nama Madame Wellington Koo hingga akhir hidupnya.

Oei Hui Lan – Wellington Koo Muda © commons.wikimedia.org

Sayangnya, sang suami tak mampu memberi uang yang cukup untuk membiayai kehidupan Hui Lan yang mewah dan glamor. Kebiasaan hidup di tengah pesta dan bermewah-mewah itu, tak mampu diubahnya.

Menjelang usia tua, Hui Lan hanya tinggal seorang diri, tanpa kehadiran keluarga. Hanya ada anak-anak tanpa suami, lantaran Wellington Koo memilih menikah lagi dengan wanita lain.

Semua kisah tersebut dirangkum Hui Lan aka Madame Wellington Koo dalam sebuah buku berjudul “No Feast Last Forever”, sebelum ia meninggal dunia. Buku yang ditulis bersama kawannya, Isabella Taves ini, bercerita tentang kehidupan Hui Lan yang diibaratkan sebuah pesta yang telah berakhir.

Kisah tragis Oei Hui Lan, wanita bergelimang harta yang tak pernah menggenggam kebahagiaan di tangannya.

LEAVE A REPLY