Bisikan Gaib di Balik Penemuan Warga Dimakan Buaya di Rokan Hilir

0
98
Tuslam menunjukkan lokasi penemuan jasad dimakan buaya. (Foto: dok. Istimewa)

FI.CO, Pekanbaru – Percaya tidak percaya. Penemuan jasad Suprianto (46), yang dimakan buaya di Rokan Hilir, didahului beberapa kejadian mistis.

Tuslam adalah personel satpam perkebunan sawit di Kecamatan Bagan Sinembah Raja, Kab Rokan Hilir (Rohil), Riau. Korban adalah pelanggan warung milik Tuslam.

Awalnya, ada warga yang minta air doa kepada ustaz di kampung sebagai ikhtiar mencari Suprianto yang hilang. “Pak Dullah itu sempat meminta bantuan pak ustaz di kampung ini. Katanya, korban sudah dimakan buaya,” kata Tuslam, 19 September.

Pada Jumat dan Sabtu, warga pun terus mencari keberadaan korban yang hilang. Nah, pada 17, sekitar pukul 06.30, Tuslam semacam mendapat bisikan gaib dari batinnya dengan yang disebut Tuslam sebagai raja buaya yang ada di kawasan itu.

“Saya memang berniat mencari Suprianto, karena dia saya kenal baik. Dia sering belanja ke warung saya,” kata Tuslam.

Dalam bisikan gaib itu, Tuslam diminta memberikan penghormatan kepada buaya berupa bunga 7 rupa, uang logam, dan rokok sebatang, yang harus dihanyutkan di kanal dengan pelepah pisang.

“Atas bisikan itu, ya saya coba sajalah. Saya tidak tahu dengan siapa saya berdialog kebatinan itu, tapi saya yakin itu betul permintaan dari Datuk. Jadi saya hanyutkan permintaan itu,” kata Tuslam. Setelah menghanyutkan persyaratan itu, badannya meriang. Dia pulang ke rumah, namun ada bisikan gaib lagi.

“Ada bisikan lagi, kenapa harus pulang, bukannya mau meminta jasad korban dipulangkan. Malam itu terus terjadi dialog, awak disuruh jemput jasad Suprianto yang sudah diantarkan buaya itu,” kata Tuslam.

Tuslam pada 18 September, sekitar pukul 06.30 kembali ke lokasi sendirian. Setiap 3 meter, Tuslam berhenti untuk memperhatikan sema-semak ilalang yang digenangi air setinggi 50 cm hingga 1 meter.

“Tak lama, awak pun terkejut nengok buaya besar warna cokelat yang jaraknya paling sekitar 5 meter. Jantungan awak dibuatnya,” cerita Tuslam.

Begitu bertemu dengan buaya, lanjut Tuslam, buaya paling besar ukuran panjang sekitar 5 meter langsung pergi. Di lokasi itu juga ada buaya kedua berukuran lebih kecil sekitar panjang 2 meter.

“Nggak lama jumpa, buaya paling besar menyelam duluan dan disusul yang kecil. Tapi waktu itu awak belum nengok jasad Suprianto,” kata Tuslam.

“Begitu buaya pergi, saya dekati lokasi itu dan saya perhatian pelan-pelan. Waktu itulah awak jumpa tangannya korban, terus jarak 3 meter lagi jumpa isi perutnya, jarak 3 meter lagi jumpa kakinya,” kata Tuslam.

Setelah dia meyakini bahwa organ tubuh itu adalah temannya, Tuslam pun menghubungi perangkat desa. Siang itu warga pun berdatangan ke lokasi. Jasad korban mereka bawa ke Puskesmas Bagan Sinembah. “Awak ini bukan dukun, Pak. Cuma dapat amanah lewat bisikkan saja. Awak pun tak tahu itu datangnya dari mana, cuma awak yakin saja,” pungkas Tuslam.

LEAVE A REPLY