Jelang 1 Sura, Warga Purworejo Ramai-ramai Menjamas Pusaka di Museum

0
100
Salah seorang warga yang akan menjamas pusaka miliknya

FI.CO, Purworejo – Tahun baru Hijriyah 1439 yang akan segera tiba menjadi momen penting bagi warga Mayarakat Jawa. Salah satu ritual yang tak pernah tertinggal adalah menjamas atau membersihkan benda-benda pusaka.

Tak terkecuali di Purworejo. Sejumlah warga menjamas berbagai pusaka yang dimilikinya. Namun, tak banyak orang yang mampu melakukan ritual itu dengan alasan takut salah dan kualat. Untuk tetap bisa menjamas pusaka-pusaka yang mereka miliki, ratusan warga masyarakat Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah pun menyerahkan kepada petugas di Museum Tosan Aji Purworejo untuk membantu menjamasnya.

“Nggak berani mas, makanya saya bawa ke sini. Besok kalau sudah selesai dijamas saya ambil lagi,” kata Dwi Budoyo (60) warga Desa Boro Kulon, pada 20 September.

Petugas museum dan warga menunjukkan pusaka yang akan dijamas.
Petugas museum dan warga menunjukkan pusaka yang akan dijamas

Dwi Budoyo sendiri membawa pusaka mata tombak dari zaman Mataram yang sudah berumur sekitar 300 tahun. Tombak bernama Baro Karno itu merupakan peninggalan kakeknya.

Warga lain yang juga ikut menitipkan benda pusakanya adalah Eko Pujo (37) warga Desa Kledung Karangdalem, Kecamatan Banyuurip, Purworejo. Eko sengaja membawa sebilah keris dari abad ke-17 yang namanya Pendowo Cinarito serta satu mata tombak dari abad ke-15 yang berjenis Ron Andong, untuk dibersihkan oleh petugas museum yang memang sudah ahli.

“Itu bawa keris sama tombak ke sini. Ya karena saya nggak bisa njamas takut kalau salah, peninggalan simbah jadi ya harus hati-hati dan tetap dirawat,” katanya.

Kasi Museum Sejarah Cagar Budaya Nilai Budaya Dan Tradisional, Eko Riyanto menambahkan ketika menjelang tanggal 1 Sura seperti sekarang ini, memang banyak warga Purworejo yang berondong-bondong untuk ikut menjamaskan pusaka mereka di Museum Tosan Aji.

“Ya biasanya lebih dari 200 orang yang ikut menjamaskan di sini, ini sudah mulai ramai berdatangan. Kami juga tidak meminta biaya untuk jasa penjamasan itu, tapi biasanya mereka memberikan sumbangan sukarela sekedar untuk membeli ubo rampenya,” ucap Eko.

LEAVE A REPLY