Suroan, Pencuci Keris Pusaka di Jombang Banjir Order

0
89
Pencuci Keris Pusaka di Jombang

Jombang – Bagi masyarakat Jawa, Sura merupakan bulan yang sakral. Tradisi menjamas keris pusaka pun jamak dilakukan pada bulan ini. Tradisi itu ternyata mendatangkan banyak rezeki bagi tukang cuci keris di Jombang.

Seperti yang dialami Sudahri (47). Pada bulan Sura, bengkel miliknya di Pasar Mojotrisno, Mojoagung tidak pernah sepi pengunjung. Mereka ingin mencuci keris mereka, agar ukiran dan guratan pada bilah keris (pamor) lebih nampak.

“Terutama bulan Sura seperti ini kebanyakan orang warangi (mencucikan keris),” kata Sudahri, 22 September.

Pria asal Desa Miagan, Mojoagung ini menuturkan, keris-keris milik pelanggan yang dicuci merupakan keris pusaka yang umurnya puluhan tahun. Tak hanya masyarakat biasa, pengguna jasanya tak jarang kalangan pejabat yang gemar merawat keris pusaka, baik dari Jombang maupun dari luar daerah.

“Kalau hari biasa maksimal 10 keris per hari yang saya warangi, bula Sura ini rata-rata 25 keris, bahkan sampai 30 keris sehari,” ungkap bapak tiga anak ini.

Pencuci Keris Pusaka di Jombang/
Pencuci Keris Pusaka di Jombang

Pria kelahiran Sumenep, Madura ini menekuni profesi sebagai tukang cuci keris pusaka sejak tahun 2003. Dia mengaku mewarisi keahlian tersebut dari sang kakek.

Untuk mencuci sebilah keris, tampaknya cukup mudah. Bilah keris disikat menggunakan cairan jeruk nipis, sabun colek dan lerak. Setelah dibilas dengan air bersih, selanjutnya bilah keris dijemur hingga kering. Pada tahap akhir, bilah keris direndam dengan larutan khusus untuk memunculkan pamor keris.

“Tarifnya tergantung besar bilah, ukuran stadar Rp 40 ribu per bilah, kalau ukuran besar 60-70 cm bisa sampai Rp 150 ribu,” terangnya.

Selain menyediakan jasa cuci keris pusaka, di bengkel miliknya Sudahri juga mengerjakan pesanan sarung keris dan tombak (warangka). Pria berlogat madura ini sekaligus menerima jual-beli keris pusaka.

LEAVE A REPLY