Meimura: Kesenian Ludruk Tertinggal Jauh dengan Kabuki

0
117
Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya mementaskan lakon "Cak Durasim sang Pahlawan" saat Festival Ludruk 2017 di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Jawa Timur, 25 September
FI.CO, Surabaya – Dramawan Meimura menilai ludruk sebagai kesenian tradisional khas Jawa Timur tertinggal jauh dengan kabuki asal Jepang karena masing-masing mendapat perhatian berbeda dari pemerintah setempat.
“Sama-sama seni pertunjukan tradisional, kabuki di Jepang sampai sekarang masih tumbuh dan berkembang serta diminati penonton dibandingkan kesenian ludruk di Jawa Timur,” ujarnya, saat dikonfirmasi di Surabaya, 30 September.
Kesenian ludruk, menurut dia, bisa tumbuh seperti kabuki di Jepang jika ada perhatian dari pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Surabaya maupun Provinsi Jawa Timur.
Karenanya sutradara Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya ini belum lama lalu mendesak anggota DPRD Kota Surabaya serta Provinsi Jawa Timur melalui rapat dengar pendapat agar turut mengupayakan eksistensi ludruk sebagai aset kesenian tradisional yang perlu dijaga kelestariannya.
“Itu saya kira yang harus segera dipikirkan apabila negara melihat kesenian ludruk sebagai kekayaan bangsa yang harus dilindungi dan tak ternilai harganya,” ucap pria berusia 54 tahun asal Kampung Petemon Surabaya, yang pernah aktif di Teater Ragil dan Teater Bengkel Muda Surabaya ini.
Saat rapat dengar pendapat di DPRD Kota Surabaya, Meimura mengisahkan, anggota dewan justru kaget bahwa di Kota Surabaya masih ada Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara yang masih mempertahankan eksistensi Taman Hiburan Rakyat (THR) di Jalan Kusuma Bangsa Surabaya dengan menggelar pentas rutin setiap Sabtu malam.
Diakuinya gedung sebagai tempat pentas Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara setiap sabtu malam di kompleks THR Surabaya adalah fasilitas dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang disediakan sejak awal tahun 2000-an.
Namun menurut dia, fasilitas gedung tersebut sangat tidak memadai, karena sejak awal diberikan Pemkot Surabaya kepada Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara sudah dalam kondisi rusak karena lama tak terawat.
“Kami menggunakan manajemen ‘piring terbang’, yaitu urunan, untuk mengupayakan agar bisa selalu menyajikan pentas ludruk setiap Sabtu malam di THR,” ucapnya.
Tanpa fasilitas lainnya yang diberikan pemerintah, lanjut pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur ini, Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara di kompleks THR Surabaya justru mampu melakukan regenerasi dengan melahirkan kelompok ludruk anak-anak dan remaja.
Menurut aktor terbaik lomba drama pelajar tahun 1978 itu, Kota Surabaya termasuk beruntung, karena tanpa ada perhatian pemerintah, masyarakatnya selama ini masih tetap mencoba melakukan pelestarian, pengembangan dan bahkan mempertahankan keberadaan ludruk dengan biaya sendiri.
“Buktinya sampai sekarang masih muncul kelompok-kelompok ludruk komunitas. Ada Ludruk Arboyo, Ludruk Marsudi Laras, Ludruk Sempalan, Ludruk Luntas, bahkan Ludruk Karang Taruna,” katanya.
Kalau ludruk disadari sebagai variabel sebuah kota, lanjut sutradara terbaik lomba drama yang digelar oleh sebuah perusahaan surat kabar di era 1990-an itu, maka kiranya Pemerintah Kota Surabaya wajib membuat sebuah regulasi, yang dapat memediasi keberadaan seniman-seniman ludruk agar dapat melangsungkan kegiatannya.
Karena kalau pementasan ludruk dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan menarik minat wisatawan seperti pertunjukan kabuki di negara Jepang.

LEAVE A REPLY