Warga Sapta Darma Tutup “Suro” dengan Wayang Kulit

0
107
pagelaran wayang kulit peringatan 'Suro' bersama ribuan warga di Lapangan Bogowonto Surabaya, 21 Oktober

FI.CO, Surabaya – Pergelaran wayang kulit menutup peringatan “Suro” Kerohanian Sapta Darma di Surabaya yang merupakan bulan sakral oleh penganut kepercayaan tersebut di Tanah Air, khususnya Jawa.

“Wayang kulit menjadi rangkaian dari peringatan tahun baru jawa yang berumur 1951 Saka Jawa,” ujar Tuntunan Agung Kerohanian Sapto Dharmo Saekoen Partowijono di sela pagelaran di Lapangan Bogowonto Surabaya, 21 Oktober malam.

Pada wayangan yang digelar hingga menjelang Minggu dini hari tersebut disaksikan ribuan warga Sapta Darma yang mengambil lakon “Bika Nggelar Jagat” dengan dalang Ki Tantut Sutanto.

Menurut dia, wayang kulit digelar karena selain melestarikan leluhur bangsa Indonesia, juga merupakan tontonan maupun tuntunan sehingga bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.

Selain menggelar wayang kulit di penghujung “Suro”, pada peringatan tahun baru juga digelar donor darah serta kegiatan bakti sosial lainnya.

“Tema untuk gebyar suro tahun ini adalah ‘Dengan Pahargyan Sura 1951 Saka Jawa, Kita Perkuat Persatuan dengan Memperteguh Jiwa Kebhinnekaan Berlandasakan Pancasila’. Kegiatannya juga rutin digelar,” ucapnya.

Sementara itu, turut hadir tokoh nasional Dahlan Iskan, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, perwakilan Konsulat Jenderal Amerika Serikat, serta sejumlah tokoh lintas agama.

“Acara seperti ini merupakan bagian dari pembangunan karakter. Kalau orang ramai berbicara karakter dan budi pekerti maka inilah salah satu pembentukannya,” kata Dahlan Iskan.

Pada kesempatan sama, Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim juga mengapresiasi kegiatan ini karena mengajak seluruh masyarakat berbuat kebaikan kepada siapa saja, sebagaimana diajarkan dan dianjurkan agama.

Sedangkan terkait wayang kulit, orang nomor dua di Pemprov Jatim tersebut menyebutnya bahwa di dalam apa yang disampaikan dalam lakon terdapat kisah menarik yang juga muncul dalam keseharian.

“Wayang kulit jadi tontonan karena menarik dan orang mau duduk berjam-jam untuk melihatnya, kemudian jadi tuntunan karena mengadung inspirasi,” katanya.

LEAVE A REPLY