Jawa Timur Kaya Musik Bambu

0
112
Festival Musik Bambu Jawa Timur 2017 berlangsung di Hotel Bumi Surabaya, 23 Oktober malam

FI.CO, Surabaya – Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) mendorong keberadaan hotel di wilayah provinsi setempat agar menjadi ruang publik bagi penyelenggaraan festival seni dan budaya.

DKJT mengawalinya dengan menggandeng Hotel Bumi Surabaya sebagai tempat penyelenggaraan Festival Musik Bambu Jawa Timur 2017.

“Ini baru pertama kalinya di Indonesia, sebuah festival kesenian diselenggarakan di sebuah hotel berbintang,” ujar Ketua DKJT Taufik “Monyong” Hidayat saat pembukaan Festival Musik Bambu Jawa Timur 2017, 23 Oktober malam.

Festival yang hanya berlangsung semalam itu dimeriahkan oleh tujuh kelompok musik bambu dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Sama-sama membawakan musik dari instrumen bambu namun keenam kelompok tersebut memiliki ciri khas berbeda-beda saat memainkannya, yang menggambarkan kultur daerah asalnya masing-masing.

Masyarakat di masing-masing daerah Jawa Timur pun menjuluki kesenian musik bambu tersebut dengan istilah yang berbeda-beda, sepertiĀ  “Unen-unen” di Tuban, “Jemblung” Kediri, “Bungkel Pereng” Situbondo, “Musik Bumbung” Probolinggo, “Angklung Palak” Banyuwangi dan Musik Bambu Religi Sumenep.

“Jawa Timur memiliki banyak suku, seperti samin, tengger, osing, madura, mataraman dan pendalungan, yang masing-masing punya karya seni tradisi. Salah satunya tiap suku di Jawa Timur juga memiliki tradisi musik bambu sendiri-sendiri,” ucap Taufik.

Dia mengatakan musik bambu yang dimiliki oleh banyak daerah di Jawa Timur kondisinya saat ini sudah hampir punah.

Karenanya dia mendorong hotel-hotel yang ada di Jawa Timur untuk turut melestarikannya.

“Selama ini saya belum pernah melihat hotel-hotel di Jawa Timur menggunakan musik tradisi daerah sebagai ‘backsound’-nya. Mudah-mudahan melalui festival ini Hotel Bumi Surabaya ke depan mau mengawali untuk menggunakannya agar selanjutnya ditiru oleh hotel-hotel lainnya,” katanya.

Sekaligus, lanjut dia, memberi kesempatan ruang tampil terhadap seniman-seniman tradisi Jawa Timur yang kebanyakan masih tinggal di desa untuk menambah penghasilannya.

“Hotel-hotel di Jawa Timur harus menggunakan musik tradisi yang khas asal daerah setempat sebagai ‘backsound’-nya agar tamu-tamunya tahu kalau sedang berada di Jawa Timur,” ucapnya.

Dia menambahkan, selanjutnya DKJT berniat menggelar lebih banyak festival kesenian tradisi lainnya di hotel-hotel wilayah Jawa Timur untuk menggugah kepedulian agar turut melestarikannya.

LEAVE A REPLY