Parade Barongan Mencapai Puncak saat Kesurupan Massal

0
120
Parade Barongan Jawa Timur di Surabaya, 25 Oktober kemarin

FI.CO, Surabaya – Parade Kesenian Barongan Jawa Timur di Surabaya, yang diikuti oleh 14 kelompok seniman tradisi dari berbagai kabupaten/ kota asal provinsi setempat, mencapai puncak saat seluruh pemainnya kesurupan, 25 Oktober kemarin.

Barongan, menurut mitologi yang diyakini oleh masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan Bali, adalah karakter berbagai bentuk, biasanya digambarkan dengan sejumlah hewan tertentu yang dikultuskan, seperti kuda, singa, banteng, harimau, ular, naga dan lain sebagainya.

“Kami menggelar Parade Kesenian Barongan Jawa Timur untuk menunjukkan bahwa provinsi ini sangat kaya kesenian tradisi barongan dari berbagai daerahnya,” ujar Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Taufik “Monyong” Hidayat.

Sebutlah kesenian tradisi barongan di Jawa Timur di antaranya adalah jaranan, reog, dan bantengan.

14 kelompok seni tradisi barongan yang ditampilkan dalam parade ini berasal dari Banyuwangi, Jember, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Malang, Batu, Pasuruan, Mojokerto, Mojosari, Jombang, Ponorogo, Surabaya, dan Sidoarjo.

“Ini baru 10 persen kelompok seni tradisi barongan yang kami munculkan. Melalui parade ini kami ingin menunjukkan bahwa spirit kesenian tradisi Jawa Timur itu kaya, yang terdiri dari sekian banyak jenis kesenian barong, reog, jaranan, bantengan,” katanya.

14 kelompok kesenian itu semula berparade di lokasi seputar lapangan Markas Kodam V Brawijaya Surabaya mulai pukul 14.30 WIB. Lalu mencapai puncak saat semuanya usai berparade dan masing-masing menggelar atraksi di lapangan Markas Kodam V Brawijaya.

Menjelang surup, atau pada saat matahari sedang dalam proses tenggelam di ufuk timur, atraksi dari masing-masing kelompok seniman tradisi ini semakin menjadi atau mencapai puncaknya, yaitu ketika seluruh senimannya kesurupan.

Maka terjadilah kesurupan massal dari para seniman barongan ini. Barong-barong yang terdiri dari jaranan, reog dan bantengan menari semakin menjadi, bahkan ketika di panggung utama ditampilkan musik dangdutan.

Tarian oleh barong-barong tersebut seakan digerakkan oleh berbagai roh dari para seniman yang kesurupan.

Kesenian Kesurupan
Taufik menyebut semua jenis kesenian barong di Jawa Timur adalah seni kesurupan.

“Seni tradisi barongan, entah itu jaranan, reog, bantengan dan lain sebagainya adalah kesenian kesurupan,” ucapnya.

Memang, dia menjelaskan, dalam parade ini sudah diwanti-wanti agar kesurupannya belakangan saja. Sebab mereka harus berparade dulu di jalanan seputar lapangan Markas Kodam V Brawijaya Surabaya.

“Kalau kesurupan di awal, bisa buyar paradenya. Karenanya saya minta kesurupannya ditampilkan ketika parade akan berakhir saja, yaitu pada saat menjelang maghrib,” katanya.

Menurut dia, kesenian kesurupan barongan memilki nilai kultur ritual dan sekaligus spritual. “Selama ini belum ada satupun kritikus yang menyatakan kesenian kesurupan barongan sebagai strategi kebudayaan,” katanya.

Bagi dia, Parade Barongan Jawa Timur salah satunya memang menonjolkan segi kesurupannya sebagai simbolisasi kritik, spiritual dan intelektual kebudayaan, yang harus diketahui keberadaannya dan kemaknaannya.

“Masyarakat harus tahu isi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.

Pengendalian Diri
Penggiat seni tradisi Bantengan asal Sidoarjo Muhammad Rauf menekankan bahwa kesenian barongan, atau seni bantengan yang selama ini digelutinya, memang harus dimainkan dengan cara kesurupan.

“Pada dasarnya seniman barongan menjadi kesurupan jika ditabuhi dengan alat musik gendang dan gamelan. Kita lihat di parade ini dengan iringan musik dangdut pun mereka tetap bisa kesurupan,” katanya.

Dia mengakui banyak amalan-amalan yang harus dilakukan para seniman barongan selama proses latihan agar saat tampil bisa memanggil roh yang kemudian merasuki dirinya.

Pimpinan Kelompok Seni Bantengan “Bissholafat” asal Desa Kebon Anom, Sidoarjo, ini mencontohkan, amalan yang paling gampang untuk dijelaskan, yang mutlak harus dilakukan oleh seluruh senimannya selama proses latihan, adalah sholat lima waktu.

“Amalan-amalan lainnya kalau saya jelaskan di sini nanti terasa tidak masuk akal,” katanya.

Intinya, dia menjelaskan, kesurupan yang ditampilkan oleh segenap seniman tradisi bantengan atau barongan lainnya adalah memberi contoh kepada masyarakat bahwa setiap manusia harus dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Karena menurut dia, seniman barongan sejati adalah yang dapat memanggil roh ke dalam dirinya dan sekaligus bisa mengusirnya sendiri. Walaupun beberapa seniman barongan yang kesurupan, seperti terlihat dalam Parade Barongan Jawa Timur di Surabaya, harus dibantu oleh seniman lainnya untuk mengusir roh yang merasuk ke dalam dirinya.

“Kalau saya selalu menekankan kepada seniman-seniman anak buah saya harus bisa memanggil roh dan mengusirnya sendiri. Karena itulah inti dari kesenian tradisional bantengan atau barongan, yaitu memberi contoh kepada masyarakat tentang pengendalian diri,” tuturnya.

Dia bersyukur kesenian bantengan di desanya hingga kini masih tetap lestari. Para orang tua di desanya masih banyak yang menitipkan anak-anak kepadanya untuk berlatih kesenian bantengan.

“Undangan dari masyarakat yang menggelar hajatan, entah itu di acara pernikahan atau sunatan, sampai sekarang masih tergolong banyak,” katanya.

Dijaga Kelestariannya
Pembina Himpunan Paguyuban Reog dan Jaranan Kota Surabaya Tri Suryanto mendorong kesenian barongan dari berbagai daerah di Jawa Timur agar tetap lestari.

“Ini adalah budaya warisan nenek moyang yang tak ternilai,” ujarnya.

Kesenian barongan, menurut dia, tak hanya memberi pertunjukan yang bersifat hiburan bagi masyarakat, melainkan juga sarat edukasi.

“Edukasi dari pertunjukan kesenian barongan ini kami harapkan bisa menjadi filter bagi generasi muda agar tidak terpengaruh oleh budaya asing, yang saat ini begitu mudah masuk sampai ke desa-desa di Indonesia,” katanya.

Edukasi yang dimaksud tentunya adalah makna dari kesurupan para seniman tradisional saat memainkan barongan.

Pertunjukan barongan dengan kesurupannya, menurut dia, menunjukkan bahwa di setiap diri manusia punya kelebihan, yaitu tentang pengendalian alam bawah sadar.

“Kalau kita bisa memaksimalkannya akan memberi energi yang sangat dahsyat. Bisa untuk pengobatan dan penyembuhan penyakit. Memang perlu latihan untuk dapat mengendaikan alam bawah sadar kita ini,” tuturnya.

Taufik “Monyong” Hidayat menambahkan, Parade Barongan Jawa Timur digelar tak hanya sebagai upaya untuk melestarikannya saja. Melainkan sekaligus untuk menyejajarkan berbagai seni barongan yang dimiliki Jawa Timur dengan kesenian barongan asal luar negeri.

“Kalau kelompok kesenian barongan asal luar negeri selama ini bisa masuk dan ditampilkan di mall-mall dan hotel-hotel, kenapa kelompok kesenian tradisional barongan yang dimiliki Jawa Timur tidak,” ucapnya.

LEAVE A REPLY