Napak Tilas Perjalanan Batik “BARONG GUNG” Sebagai Keagungan Mahakarya Manusia Tulungagung

0
294
Oleh Agus Ali Imron Al Akhyar

Belakang Dari Suatu Latar
Perjalanan Batik Tulungagung sekarang ini sudah berada ditepi zaman, keberadaannya masa kini mulai dijauhi oleh generasi muda.

Batik Tulungagung sendiri keberadaannya sudah tidak terlalu banyak yang memproduksinya, bahkan keberadaannya dapat dihitung dengan jemari tangan. Dalam penelusuran Batik Tulungagung, penulis menemukan keunikkan sendiri, yaitu para pekerja batik tulis mayoritas sudah berumur tua dan jarang sekali penulis melihat generasi muda dapat membatik dengan ketekunan maupun kesabaran seperti yang dilakukan oleh kaum tua.

Dengan kesabaran penuh para pekerja batik memoleskan Malam (lilin) atau Plastisin di kain mori dengan menggunakan canting.

Membatik adalah salah satu pekerjaan yang memerlukan jiwa seni dengan cara memoleskan Malam atau Plastisin di atas kain yang terdiri dari berbagai macam motif gambar, yang akhirnya membentuk seni keindahan tersendiri.

Menurut Ninuk Mardiana Pambudy ada beberapa alasan yang menyebabkan Batik di Jawa lebih berkembang, Iwan Tirta menyebutkan salah satu alasan penting adalah kain batik menjadi alternatif untuk kain seperti ikat atau tenun lainnya yang memerlukan waktu lebih lama dalam pembuatannya, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan. Hal ini terjadi terutama ketika memenuhi kebutuhan akan kain upacara keagamaan.

Dengan ditemani canting, wajan tempat lilin untuk membatik yang dibawahnya terdapat kompor yang terbuat dari tanah liat untuk memanasi wajan agar meleleh serta didekatnya terdapat tepas yang digunakan untuk membesarkan api kompor, beberapa dingklek sebagai tempat duduk para pekerja batik serta taplak yang fungsinya untuk melindungi paha para pembatik agar tidak terkena tetesan lilin, dan semacam gawangan yang terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai tempat membentangkan kain yang sedang dibatik.

Batik Tulungagung (BTA) sendiri pada masa pemerintahan Bupati Ir. Heru Tjahjono, MM., para pegawai yang bekerja di kantor instansi diharuskan memakai pakaian yang bermotifkan kain batik khas daerah. Sehingga dengan adanya gelagat semacam itu, maka secara tidak langsung akan menghidupkan potensi pengrajin batik Tulungagung khususnya.

Daerah Tulungagung sendiri terkenal dengan sebutan BTA atau Batik Tulungagungnya, namun nama BTA pada masa kini terkenal dengan sebuah nama perempatan yang berada di daerah Kepatihan, tepatnya sebelah timur dari Gedung Pemerintahan Kabupaten Tulungagung.

Pada dasarnya pusat perbatikan di Pulau Jawa berada di Solo dan Yogyakarta, namun daerah Jawa Timur sendiri tidak kalah pentingnya juga ada daerah yang berpengaruh dalam perbatikan, yaitu Madura, Tuban dan Tulungagung.

Batik Tulungagung pernah mengalami tidur panjang, namun tidur panjang tersebut tidak terlalu lama, dengan adanya kebangkitan usaha perbatikan, dikarenakan Ir. Heru Tjahjono, MM., dalam usahanya untuk menghidupkan perbatikan yaitu dengan cara;

  1. Mengadakan lomba batik tingkat SMA dan sederjatnya
  2. Menyelanggarakan baju khas batik untuk pelajar SD, SMP, SMA dan, MTs, MA

Kalau mahal mengenai harga batik, pada dasarnya memang sangat mahal, namun dengan kualitas yang sangat baik dan terjamin mutunya.

Maka dari itulah dengan adanya pengrajin batik mampu untuk membangkitkan perekonomian daerah Tulungagung. Sehingga sampai sekarang (baca; tahun 2009) keberadaan pengrajin batik masih memproduksi dengan semaksimal mungkin dengan daya upaya yang ada.

Pengrajin batik sendiri biasanya memakai kain mori, kain katun dan kain sutra sebagai bahan dasarnya dalam memoleskan kreatifitasnya dalam membatik.

Berbagai model motif batik Tulungagung sangatlah bervariatif sekali, sekitar 300 hingga 500 motif yang ada, bahkan motif yang sudah ada tersebut bisa dikembangkan menjadi 1500 motif percampuran warna yang dominan.

Salah satunya batik yang masih tenar adalah perusahaan batik Barong Gung yang berada di Desa Mojosari, Kalangbret Tulungagung, tepatnya berada di sebalah barat dari pusat pemerintahan Kabupaten Tulungagung. Selain itu ada juga perusahaan batik lainnya, diantaranya perusahaan batik Satrio Manah, perusahaan batik Sinar Bintang, perusahaan batik Gajah Mada dan masih banyak perusahaan batik di daerah Tulungagung.

Sehingga dengan masih adanya industri batik seperti perlunya untuk diberdayakan semaksimal mungkin agar nantinya tidak punah ditelan zaman globalisasi.

Barong Gung: Sebuah Batik Tulungagung
Barong Gung merupakan gabungan dua kata yang mempunyai makna berarti bagi perindustrian batik Tulungagung. “Barong” adalah salah satu model motif batik yang sudah terkenal dari dahulu hingga sekarang, sedangkan “Gung” berasal dari kata Agung yang mempunyai keterkaitan dengan daerah Tulungagung, yaitu Agung ialah besar atau gede (bhs. Jawa).

Sehingga dengan artian semacam itu nama motif batik “Barong Gung” terkenal hingga diluar daerah Tulungagung serta masih eksis dari dahulu hingga sekarang.

Perusahaan batik tulis ini berada di daerah Mojosari, Kecamatan Kalangbret, Kabupaten Tulungagung, tepatnya berada di sebelah barat dari pusat pemerintahan Tulungagung.

Di perusahaan batik home industry tersebut juga terdapat sebuah galeri sebagai tempat pemasaran maupun memamerkan batik-batik hasil perusahaannya sendiri.

Bahkan menurut pemilik dari perusahaan batik Barong Gung sendiri, beliau mempunyai karya batik tempo dulu hasil buah tangan dari orang Belanda dan Jepang.

Berbicara mengenai omset, maka hasil dari perindustrian batik sendiri sangatlah membanggakan sekali yang terpenting ialah bisa dapur ngepul (baca; bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga) bagi karyawannya, maupun untuk keperluan industri sendiri.

Pada dasarnya, perusahaan rumahan yang terbentuk dalam kerajinan batik ini sangatlah berpotensi sekali dalam segi perekonomian maupun dalam segi kebudayaan.

Kalau penulis amati saat mengadakan penelitian pada tanggal 17 September 2009, bahwasanya para pekerjanya sudah berumuran tua. Utamanya yang memegang batik tulis, mereka mayoritas tidak meneruskan sekolah dasar hingga tamat, dan akhirnya bekerja sebagai pembatik sampai sekarang.

Batik Barong Gung sendiri diperkirakan mulai berdiri sekitar tahun 1978, sehingga sampai sekarang perusahaan tersebut diteruskan oleh generasi-generasi keluarganya.

Sejalan dengan maraknya berbagai motif batik yang terbaru, tidak membuat kalah daya saing bagi perusahaan batik Barong Gung.

Semangatnya para pekerja dalam menuaikan karyanya dalam lekukan-lekukan motif gambar dalam sehelai kain mori membuat kesemangatan tersendiri dalam berkarya. Kesabaran serta ketekunan para pegawai dalam membatik menjadikan buah karya keagungan tersendiri.

Hingga saat ini keberadaan home industry perbatikan di Tulungagung sangatlah berpotensi apabila terus dikembang untuk memajukan perekonomian daerah setempat, bahkan bisa mengurangi pengangguran.

Tidak kalah pentingnya adalah perlunya kesadaran bagi generasi muda untuk mampu meneruskan nilai-nilai tradisi seni membatik itu.

Sesungguhnya nilai-nilai seni lokal memiliki suatu kekuatan yang strategis sekali baik kekuatan dalam segi perekonomian maupun pendidikan. Hal ini kita sadari bahwasanya keberadaan seni membatik sendiri sudah menjadi momok bagi generasi muda.

Maraknya globalisasi menjadikan trend lebel tersendiri bagi mereka, sehingga lambat laun akan mengalami kepunahan.

Pendidikan Multikultural
Memanasnya suhu dunia yang mengatasnamakan dirinya sebagai trend mode globalisasi menjadikan kecanduan bagi generasi muda, secara tidak langsung mereka akan menjauh dari jiwa kedaerahan.

Perlunya pesan sponsor dari orangtua maupun guru serta lingkungan untuk anak-anaknya (baca; generasi muda) agar dapat mencintai dan membanggakan produk daerahnya.

Salah satunya adalah Kakang dan Mbakyu daerah sebagai ikon terpenting agar dapat mengenalkan produk daerahnya hingga keluar daerah, ke sekolah-sekolah maupun ke masyarakat luas.

Pendidikan dalam bidang “seni batik”, hingga saat ini sangatlah terbatas sekali. Pendidikan multikultural yang satu ini dalam artian mengajarkan peserta didik langsung terjun untuk dapat melihat, memperagakan bahkan mengapresiasikan karyanya dalam wujud membatik.

Sehingga pendidikan membatik perlu untuk dicanangkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan demikian sekiranya dapat melestarikan adanya perbatikan di daerah-dearah khususnya daerah Tulungagung.

Secara tidak langsung juga bisa memberi perbekalan ketrampilan terhadap anak muda sebagai perekonomian alternatif setelah lulus nantinya. Perlunya sikap arif dan bijaksana dari pemerintah dan lembaga pendidikan terhadap seni membatik pada khususnya.

Seiring perkembangan zaman, suatu tradisi seni membatik juga harus tidak boleh kalah dengan daya saing produk-produk globalisasi.

Sekolah atau lembaga yang ikut menyelenggarakan pendidikan haruslah mampu menakar maupun menimbang materi pembelajarannya, antara pendidikan yang bersifat nasional maupun internasional dan pendidikan yang berwawasan kedaerahannya.

Dilain pihak lembaga pendidikan (baca; sekolah) berkewajiban menyiapkan subjek peserta didik yang berbudi luhur, dilain sisi lembaga tersebut haruslah menanamkan kecintaan terhadap kedaerahannya sendiri (baca; melalui pendidikan muatan lokal).

Kearifan lokal merupakan pendidikan yang tidak kalah pentingnya untuk ditanamkan terhadap generasi muda (baca; peserta didik).

Bisa juga dengan adanya transisi lembaga pendidikan yang berbasis internasional secara tidak langsung juga bisa mengakibatkan lunturnya kecintaan terhadap kedaerahan.

Sehingga lembaga tersebut haruslah berimbang dalam menerapkan pembelajaran yang bersifat nasional, internasional dan kedaerahan. Menurut Fuad Hasan (2004:62), bahwasanya kita harus melakukan antisipasi yang cermat terhadap berbagai kemungkinan terjadinya jebakan yang menjerat mayoritas bangsa-bangsa sejagat sebagai akibat globalisasi yang bias pengaruhnya berlangsung secara searah.

Orang mulai berbicara mengenai berbagai hadangan berupa jebakan global (the global trap) yang makin menjerat perkembangan sebagian besar masyarakat manusia oleh dominasi kekuatan global yang merajalela dan tidak terimbangi, baik dibidang ekonomi dan perdagangan, maupun dalam persebaran ideologi dan sikap politik dalam hubungan internasional.

Berbagai serangan dari kawasan Barat seakan-akan tidak terasa oleh kita telah melunturkan rasa kedaerahan para generasi muda Indonesia. Sehingga membuat keterpurukan tersendiri saat bibit bangsa ini akan berkembang.

Perlunya formula ampuh untuk bisa menyaingi trend mode globalisasi segera dimunculnya, penyadaran generasi muda saatnya digalakkan mumpung generasi tua masih hidup.

Menurut Piliang (1998:62-63) Produk-produk budaya global sangat sarat dengan berbagai macam virus destruktif yang dapat menyerang siapa saja.

Virus-virus tersebut sangat mencemaskan karena dapat membuat manusia dalam keadaan lumpuh dan buta nilai. Virus-virus tersebut dapat membangun sebuah komunitas yang oleh Howard Rheingold disebut sebagai komunitas maya (virtual comunity), di mana semua hal yang bertentangan seperti konstruktif dan destruktif, hak dan batil, kebenaran-kepalsuan, dapat hadir secara bersamaan.

Di dalam transparansi global, segala sesuatu yang terjebak dalam jaringannya sulit melepaskan diri dari virus-virus tersebut.

Sebuah Simpulan
Nampak sudah virtual comunity tersebut telah merangsang generasi muda untuk menjauhi trend mode lokal untuk menuju ke trend mode globalisasi.

Secara tidak langsung apabila seni membatik tidak segera diselamatkan maka lambat laun akan mengalami kepunahan tinggal kenangan bagi anak cucu.

Dengan langkah secepatnya kita segera menanam benih-benih yang berpotensi untuk bisa menumbuhkembangkan seni membatik tradisional. Sebab seni membatik tradisional lebih bagus dan mempunyai jiwa seni yang kreatif daripada membatik menggunakan alat modern, yang pada dasarnya proses cepat dan dapat memenuhi kuota yang diinginkan.

Namun dengan jiwa yang sabar serta telaten akan memberikan warna estetika tersendiri dalam membatik tradisional.

Selain itu, perlunya sebuah kurikulum lokal untuk mampu mengangkat citra seni budaya daerah memang sangat dibutuhkan, hal tersebut sebagai alternatif untuk tetap menghidupkan budaya lokal yang ada di daerah setempat.

Kita bayangkan saja, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, yang tentunya mempunyai seni budaya sendiri-sendiri. Maka dari itulah ketika kita mampu untuk mengembangkannya maka nama Negara Indonesia akan menjadi torehan sejarah dunia dengan nilai-nilai seni budaya yang terbanyak, inovatif serta estetis.

Potensi yang ada di daerah menjadi tonggak awal dalam merekontruksi potensi-potensi nasional. Tentunya dalam membangun kita haruslah mulai dari bawah terlebih dahulu setelah itu barulah meninggi hingga ke taraf nasional kalau perlu hingga ke dunia internasional.

Tunjukkanlah hasil karyamu, dan kamu jangan hanya bisa berbicara saja, namun hasil karyamu aku tunggu, untuk membuktikan kalau dirimu memang anak Indonesia yang cinta dan bangga akan karya bangsamu.

Sumber
http://kiaibudaya.blogspot.co.id/2010/01/napak-tilas-perjalanan-batik-barong.html

LEAVE A REPLY