Syachrul (Syafiin-Choirul) Paslon Milenial

0
669
Dari kiri berpeci: Dr. Syafi’in, Khoirul Anam, H. Marsaid, Drs. H. Joko Triono& Genti Suwarno

FI.CO, Jombang – Dinamika politik internal PDI Perjuangan Jombang seputar Pilkada serentak 2018 tampak cukup menarik sejumlah kalangan.

“Awal saya berpikir, sebagai partai pemenang seharusnya tidak bikin MoU dengan partai Golkar, misalnya – yang hanya target wakil bupati. Apalagi, alasannya soal figur. Tentu ada, kader internal atau eksternal yang bisa diusung. Nah, munculnya paslon (pasangan calon-Red) dari PDIP yaitu Syafiin (Kombes Pol-Red)dan Khoirul Anam – ini cukup menggembirakan,” kata Dr. H. Firmansyah dosen STKIP Jombang.

Pilihan tersebut, katanya, selain sebagai upaya menegakkan eksistensi partai juga dapat membangkitkan kembali semangat seluruh kader dan simpatisan partai.

“Coba analisa kekuatan Mundjidah- Rambah dan Nyono-Subaidi – keduanya tentu harus berjuangan keras melawan soliditas PDIP. Terlebih ditambah HANURA dan PKPI. Dua partai koalisi ini juga memiliki gerakan yang sulit dideteksi lawan politik,” tuturnya.

Koalisi Syachrul ini, sambungnya, sesungguhnya sangat kuat tidak seperti asumsi banyak kalangan yang menyebut pasangan lain di atas angin.

“Sekarang, akan bisa berbalik seratus derajat. Tapi, tetap bergantung keterampilan politik internal partai. Bisa atau tidak mengambil peluang besar ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah PAC PDI Perjuangan sempat ngluruk ke DPC Jombang mempertanyakan Rekomendasi DPP PDI Perjuangan – perihal paslon yang akan bertempur di pilkada  nanti. “Wajar dan normal saja PAC-PAC ngluruk. Wong pilkada tinggal 6 bulan lagi,” kata M.

Soleh seorang pengurus DPC Jombang. Lagi pula, sambungnya, jangan sampai kader-kader ini ragu dengan calon partai sendiri. Dan, sebagai partai terbesar jangan sampai kehilangan politik-etis apalagi dikendalikan partai lain.

“Maka setelah abah Marsaid menjelaskan kronologi dan dinimika yang ada saya yakin seluruh PAC dan kadernya akan tunduk pada keputusan partai. Jika Syachrul ditetapkan sebagai paslon maka pasti kita semua all out,” tuturnya.

Memang ada MoU dengan Golkar yag maknanya dipahami Petahana akan berpesangan kader PDIP (H. Marsaid, Drs. H. Joko Triono, Wulang Suhardi, Khoirul Anam, Goetomo, H. Khodir).

Hampir dipastikan persepsi kader kepala banteng moncong putih itu – berharap MoU itu benar adanya. “Energi politiknya bisa disaving untuk Pilpres setelah sukses di wabupnya.Ini harapannya. Tapi, setelah pak Nyono milih gandeng PKB. Itulah politik sulit dimengerti secara moral,” kata Agus kader PDIP desa Mancilan menyesal.

Apa yang dikatakan Agus dapat mewakili penyesalan mendalam hampir semua kader partai. “Tapi itu tidak mengapa. Ternyata tidak digandeng pak Nyono PDIP malah mengawali kekompakannya melawan politik akal-akalan tidak komitmen moral,” kata Mas’ud jama’ah istighotsah dusun Besuk kecamatan Sumobito.

Paslon Syachrul, sambungnya, adalah figur bersih tanpa cacat untuk bisa dipilih tidak hanya warga PDIP. Tetapi, bisa dipilih oleh segenap warga Jombang yang ingin memiliki pimpinan baru yang Nasionalis – Religius.

“Paslon ini tergolong pasangan muda usia melenial, Cocok untuk masa depan pemuda Jombang. Kira-kira begitu menurut pendapat saya,” ujarnya.

Sejumlah respon terhadap munculnya Syachrul  ternyata sudah didengar oleh H. Marsaid ketua DPC PDI Perjuangan. Bagiinya, “ini semua keputusan partai dengan segala risiko harus diamankan oleh seluruh jajaran pengurus dan kader. Wajar-wajar saja mungkin warga Jombang ingin lahir pemimpin yang lebih baik,” katanya.

Kian derasnya respon positif terhadap paslon Syachrul bisa jadi menjadi pilihan alternatif bagi warga Jombang dalam pilkada nanti.

“Saya meyakini Syachrul adalah paslon alternatif atau Paslon Milenial warga Jombang yang Nasionalis – Religius.” pungkas Mas’ud kepada Forum Indonesia. (MH Alawy & Abd.Kholiq)

LEAVE A REPLY