Sumberbendo – Pucanglaban: Sejarah Desa dan Kesenian Wayang Padas

0
194
Kepala desa beserta perangkat desa Sumberbendo

FI.CO, Tulungagung – Desa Sumberbendo kecamatan Pucanglaban, Desa di daerah pegunungan pesisir Tenggara arah kabupaten Tulungagung. Meski berada didaerah pegunungan berbagai potensi dimiliki desa ini, salah satunya Wayang Padas.

Asal usul desa Sumberbendo dimulai tahun 1900, pada saat itu ada pengembara dari Trenggalek yang bernama Saido yang memiliki pengikut sebanyak tujuh orang yaitu, Sadiyo, Donosetro, Yai Po, Jainah, Disan, Wonomedjo dan Joyo.

Orang-orang tersebut membuka lahan pertanian cocok tanam dan membuat batas-batas tanah, karena di situ terdapat sumber air yang terletak di bawah pohon bendo yang merupakan sumber satu-satunya di daerah tersebut makan tempat tersebut inamakan Sumberbendo di bawah pemerintahan desa Demuk.

Pemerintahan sumberbendo dimulai tahun 1918 dengan pemimpin pertama bernama Uceng. Pemerintah desa Sumberbendo mulai berdiri dengan kepala pemerintahan dengan urutan Uceng Tawil (1918 – 1925), Uceng Suwiryo (1926 – 1931), Uceng Tarjo (1932 – 1946), Uceng Djoyo Kaniran (1947 – 1967).

Seiring perkembangan daerah sumberbendo dibagi menjadi empat wilayah yaitu, Dusun Sumberbendo, Padas, Krengan, Kalijarak.

Dengan terbaginya epat wilayah tersebut menjadi latar belakang munculnya desa baru yang bernama Sumberbendo dan terlepas dari desa Demuk dan memiliki kepala desa sendiri dimulai dari Djoyo Kaniran  yang memimpin pertama (1968 – 1983), Marlan (1984 – 1991), Slamet Riadi (1992 – 2006), Surani Gandos 2007 – sekarang.

Pada perkembangannya desa Sumberbendo terus berkembang, dan melaksanakan pembangunan di segala bidang, baik infrastruktur fisik maupun non fisik. Salah satu yang menjadi potensi desa Sumberbendo adalah perhatian terhadap kesenian budaya jawa berupa Wayang Orang.

Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan yang keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kesenian merupakan sesuatu yang hidup senapas dengan mekarnya rasa keindahan yang tumbuh dalam sanubari manusia dari masa ke masa dan dapat dinilai dengan ukuran rasa dan sedikit rasional. Setiap manusia membutuhkan kesenian untuk hiburan, ritual, ekspresi, estetis, dan lainnya dalam kehidupannya.

Wayang orang merupakan pertunjukan seni tari, drama, dan teater yang mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. Wayang Orang digolongkan ke dalam bentuk drama seni tari tradisional.

Wayang orang adalah sebutan drama tari tradisional dalam bahasa Indonesia. Istilah aslinya adalah Wayang Wong dalam bahasa ngoko (Wayang = bayangan, Wong = orang atau manusia), sedangkan dalam bahasa krama adalah Ringgit Tiyang (Ringgit = wayang, Tiyang = orang atau manusia). Wayang Orang lebih banyak digunakan secara nasional dan divisualkan ke dalam bahasa Indonesia.

Wayang orang “LESTARI WIDODO” merupakan kesenian dari Dusun Padas Desa Sumberbendo yang sudah ada sejak tahun 1950 an, dan masih berkembang hingga saat ini dan menjadi ikon dari Desa Sumberbendo. Organisasi Wayang

Orang“LESTARI WIDODO” ini di Ketuai oleh Kepala Dusun Padas, Desa Sumberbendo Abdul Gani. Para Pemainnya sendiri berjumlah sekitar 40 orang, acara Wayang Orang “LESTARI WIDODO” ini diadakan jika ada acara-acara tertentu di desa dan jika ada masyarakat yang mempunyai nazar ingin mengadakan pertunjukan wayang tersebut.

Konon jika ada masyarakat yang mengadakan pertunjukan wayang tersebut akan tercapai apa yang diinginkannya tentunya (atas izin Yang Maha Kuasa).

Wayang orang “LESTARI WIDODO” atau dengan sebutan lain wayang PADAS, yang masih ada hingga saat ini dan menjadi ikon Desa Sumberbendo Kecamatan Pucanglaban. (imam-sumber pemdes Sumberbendo)

LEAVE A REPLY