Batu Kursi dengan Kisah yang Bikin Merinding

0
31
Batu Kursi Raja Siallagan

FI.CO – Di balik keindahan Pulau Samosir di Sumut, ada objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan. Ini bisa dibilang sebagai pengadilan masa lampau.

Pulau Samosir ada di Danau Toba. Pulau vulkanik terbesar di Danau Toba ini diketahui memiliki banyak sekali objek wisata yang sangat menarik dan unik, mulai dari sejarah, adat istiadat hingga budaya dan keindahan alamnya yang sangat menawan.

Hingga pulau ini pun dijuluki Negeri Indah Kepingan Surga. Salah satu objek wisata yang sangat menarik di Pulau Samosir ini adalah Batu Kursi Raja Siallagan.

Objek wisata ini berada di desa Ambarita, kecamatan Simanindo, kabupaten Samosir dan tidak begitu jauh dari Desa Tomok yang merupakan salah satu pelabuhan yang ada di Pulau Samosir.

Untuk masuk ke dalam objek wisata ini, saya hanya diminta Rp 2 ribu saja perorangnya sebagai tiket masuk. Setelahnya saya pun masuk melalui sebuah gapura yang bertuliskan Huta Siallagan.

Huta Siallagan sendiri memiliki arti kampung Siallagan. Kampung yang dikelilingi tembok batu tersusun rapi setinggi 1,5 hingga 2 meter ini dulunya merupakan huta atau kampung orang bermarga Siallagan dan dibangun pada masa raja pertama Siallagan.

Tembok batu tersebut berfungsi untuk menahan serangan dari binatang buas maupun serangan dari huta lain karena dahulunya di Pulau Samosir sering terjadi peperangan antar huta.

Memasuki huta ini saya pun melihat beberapa rumah berarsitektur khas Batak Toba. Konon rumah ini telah berusia ratusan tahun dan setiap rumahnya memiliki fungsi yang berbeda.

Ada yang merupakan tempat tinggal raja dan keluarganya, serta ada yang merupakan tempat pemasungan. Meski telah berusia ratusan tahun, rumah-rumah ini masih terawat dengan baik bahkan masih dihuni.

Yang paling menarik dari huta ini tentu saja adalah Batu Kursi Siallagan. Batu kursi ini berupa kursi-kursi dari batu yang dipahat mengelilingi sebuah meja yang juga terbuat dari batu.

Batu kursi ini juga disebut sebagai batu persidangan. Dahulu kala tempat ini digunakan untuk mengadili para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Di sini raja dan petinggi adat akan rapat menentukan hukuman bagi penjahat atau pelanggar hukum.

Jika kejahatannya kecil, maka akan diberikan sangsi berupa hukuman pasung. Namun jika kejahatannya tergolong kejahatan berat maka pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala.

Untuk melaksanakan hukuman pancung, maka penjahat tersebut dibawa ke batu persidangan yang ada di bagian belakang. Di sana sang pelaku akan dibaringkan dan dipenggal dalam satu kali tebasan.

Yang menyeramkan adalah, konon jantung dan hati penjahat tersebut biasanya akan dimakan agar menambah kekuatan sang raja.

Syukurnya praktek seperti itu sudah tidak dilakukan lagi saat ini. Dan Batu Kursi Siallagan ini pun menjadi salah satu objek wisata bersejarah di Pulau Samosir.

Pada bagian paling belakang huta ini juga terdapat beberapa kios suvenir yang menjual berbagai benda pernak-pernik yang cocok dijadikan sebagai oleh-oleh seperti baju, kain ulos, gantungan kunci, dan berbagai benda-benda lainnya. Pusat suvenir ini juga menjadi pintu keluar dari Huta Siallagan.

LEAVE A REPLY