Jenazah yang Tak Membusuk, Antara Keyakinan dan Penjelasan Ilmiah

0
35
Ilustrasi tanah pemakaman

FI.CO, Jakarta РDi Indonesia, cerita tentang jenazah yang tak membusuk meski telah dimakamkan bertahun-tahun ternyata ada di mana-mana.

Cerita itu kadang juga diiringi dengan keyakinan terhadap riwayat amal baik almarhum ketika masih hidup di dunia.

Apakah ada korelasi antara perbuatan semasa hidup dengan kadar keawetan jenazah di liang lahat? Tak sedikit memiliki keyakinan seperti ini. Akan tetapi fenomena semacam ini juga bisa dijelaskan secara ilmiah.

Terakhir, cerita heboh soal jenazah awet di liang lahat datang dari tanah kubur di pinggir kali, dusun Krajan, desa Sukorejo, kecamatan Bangalsari, Jember, Jawa Timur.

1 Februari, banjir di desa ini membuat pagar makam ambrol ke sungai. Padahal di situ ada makam Sumini, perempuan yang sudah dimakamkan 10 tahun yang lalu.

Anak Sumini, Hasan, bermaksud menyelamatkan jenazah ibunya dari banjir. Hasan kaget karena ternyata jenazah ibunya itu masih utuh.

“Sungguh membuat saya dan saudara lain terkejut melihat ini. Padahal ibu sudah sekitar 10 tahun meninggal, biasanya sudah tinggal tulang. Tetapi ini tubuh masih utuh hingga ke kaki, dan lengkap dengan kain kafan berwarna agak kecoklatan,” kata Hasan dengan terheran-heran.

Warga sekitar kemudian berbondong-bondong melihat fenomena ganjil ini. Para tetangga kemudian mengingat perilaku Sumini semasa hidup dulu.

Sumini dikenal sebagai perempuan dengan perbuatan baik ke anak-anak dan tetangga, juga senang membantu warga.

Ilustrasi: Warga tiduran di area pemakaman
Ilustrasi: Warga tiduran di area pemakaman

Bila jasad Sumini masih utuh selama 10 tahun, ada pula kasus jasad Triani Binti Kartomulyo yang masih awet selama 19 tahun.

Triani meninggal di usia 52 tahun dan dimakamkan di TPU Kampung Bubulak, desa Laladon, Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Jenazah ini diketahui masih utuh saat hendak dipindahkan menghindari banjir dari Sungai Ciapus, 14 Februari 2013 lalu.

Bila tubuh Triani tak rusak selama 19 tahun di dalam kubur, jenazah Kiai Abdullah Mukmin masih utuh padahal sudah 26 tahun lalu dikubur.

Utuhnya jenazah Abdullahh Mukmin diketahui saat Pemerintah Kota Tangerang melakukan penggusuran tanah terkait pelaksanaan proyek pelebaran jalan di Benda.

Proyek pelebaran jalan ini untuk membuka akses lebih lebar menuju Bandara Soekarno-Hatta yang memang tidak jauh dari lokasi pemakaman itu sendiri. Lokasi pemakaman ada di bibir Kali Ciajane, tak jauh dari Pondok Pesantren As Ashidiqiah II, Tangerang, Banten.

“Waktu dibongkar kain kafan yang melilit di tubuh Bapak masih utuh dan berwarna putih. Saya sempat lihat wajahnya, masih seperti 26 tahun waktu dikubur, nggak berubah. Badannya juga masih seperti dulu, cuma rambutnya agak memutih. Baunya sangat wangi sekali,” kata Muhammad, putra sulung almarhum KH Abdullah Mukmin, 18 Agustus 2009.

Almarhum dikenal sebagai sosok guru agama dan guru ngaji semasa hidup, pernah belajar di Mekah selama 25 tahun, mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, dan mengobati orang sakit.

Dia juga pernah menjadi Wakil Ketua Pengadilan Agama di Tangerang. Jenazah Sugiyem lebih lama lagi. Jenazah Sugiyem tak membusuk meski sudah 30 tahun terkubur di dalam tanah.

Sugiyem meninggal dan dikuburkan di tanah pemakaman di Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada 1981 lampau. Jenazahnya diketahui masih utuh saat hendak dipindah pada 19 Januari 2012 lalu.

Utuhnya jenazah dan kain kafan Sugiyem, dinilai warga tidak lepas dari perilaku almarhum selama hidup. Selain murah hati dan sabar, wanita asal Jangkar Situbondo itu juga terkenal ramah dan suka mengalah kepada para tetangganya.

“Waktu masih hidup orangnya memang baik, Mas. Dia juga terkenal sangat patuh sama almarhum suaminya,” tutur Muarip, tetangga Sugiyem.

Ada pula mayat Hayriantira alias Rian, perempuan yang menjadi korban pembunuhan di usianya ke-37 tahun. Pada 7 Agustus 2015, saat pembongkaran kuburan, jenazah Rian masih utuh. “Astagfirullah, jenazahnya masih utuh,” kata salah seorang kerabat Rian di lokasi.

Kejadian ini kerap kali dikaitkan dengan hal spiritual, namun secara ilmiah ada juga sebab material yang bisa menjelaskannya.

Jenazah yang Tak Membusuk, Antara Keyakinan dan Penjelasan Ilmiah
Ilustrasi (REUTERS/Sherif Fahmy)

Dilansir dari Live Science, kejadian ini dikaitkan dengan adiposera, yaitu senyawa organik yang terbentuk melalui reaksi hidrolisis oleh bakteri anaerob pada jaringan adiposa (jaringan lemak) di dalam tubuh.

Dengan senyawa ini, lemak di jaringan lunak berubah menjadi zat seperti sabun keras sebuah proses yang disebut saponifikasi. Zat ini bertindak sebagai pengawet dan memperlambat dekomposisi (proses penguraian) normal.

Mengapa ada jenazah yang bisa awet karena adiposera dan ada yang tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adiposera sendiri secara optimal terbentuk bila jenazah berada pada lingkungan dengan kelembaban yang tinggi dan minim oksigen.

LEAVE A REPLY