Sekolah Dasar Ini Ajarkan Entrepreneur Sejak Dini

0
91
Sekolah ini ajarkan entrepreneur sejak dini

FI.CO, Pacitan – Suara riuh terdengar dari halaman SD Islam Insan Cendekia Pacitan, Jumat (16/3/2018). Sekilas mirip pasar. Bukan hanya suara bersahutan, para murid juga lalu lalang. Mereka menawarkan aneka jenis dagangan yang dibawa dari rumah.

“Yang bikinin (jajanan) Ibu terus saya jual di sini,” ujar Alma (8) malu-malu.

Bocah perempuan kelas 2 Utsman itu duduk di belakang meja kecil. Di atasnya ada sebuah kotak plastik berisi Piscok (pisang coklat). Menu ini berbahan dasar pisang dibungkus adonan dan digoreng. Di bagian luar ditaburi meses coklat.

Layaknya pedagang sungguhan, dirinya tak henti menawarkan dagangan pada sesama murid yang melintas di depan lapaknya. Beberapa di antaranya menyempatkan diri berhenti sekadar mengamati penganan. Tapi ada pula yang memborong hingga beberapa biji dan memasukkannya ke tas plastik.

“Harganya berapa ini?,” tanya seorang siswa laki-laki bernama Haky (9). Alma pun menjelaskan jika harga per biji piscok seribu.

Setiap siswa diajarkan bagaimana menjadi entrepreneur langsung lewat praktik
Setiap siswa diajarkan bagaimana menjadi entrepreneur langsung lewat prakti

Alma hanyalah satu di antara puluhan pedagang ‘dadakan’ lain di halaman sekolah yang terletak di Jalan Sumatera. Aneka jenis makanan ringan pun mereka jual dengan harga bervariasi.

Mulai jenis kue, gorengan, makanan khas Pacitan, hingga minuman semua tersedia. Tak puas hanya duduk menunggu, beberapa siswa berkeliling menawarkan dagangan. Tak sampai 1 jam, pasar dadakan itu pun bubar. Hanya tersisa meja-meja tanpa isi di atasnya.

Sebagian pedagang cilik kembali ke kelas dengan wadah kosong. Sementara murid lain membawa bungkusan plastik berisi jajanan. Di ‘pasar’ ini murid-murid berperan sebagai penjual sekaligus pembeli. Sedangkan guru hanya berperan membimbing.

“Salah satu mimpi kami adalah mencetak para enterpreneur muda. Daerah kita ini kaya potensi. Kelak anak-anak kita harapkan mampu hidup mandiri dengan kecakapan yang mereka miliki,” kata Nurhadi Widiono, kepala sekolah.

Kegiatan semacam ini, lanjut Widi, digelar berkala. Pesertanya murni dari siswa. Hanya saja jadwalnya dibuat bergantian sesuai kelas yang ada. Harapannya semua murid berkesempatan belajar langsung. Tentu saja, sebelum diterjunkan ke pasar mereka dibekali kiat-kiat berbisnis.

“Kita juga tanamkan bagaimana etika bisnis menurut Islam. Sehingga laba yang diperoleh nantinya barokah. Jadi bukan sekadar jualan, tapi jualan yang sesuai syariat,” paparnya soal program setengah tahunan tersebut.

Nurhadi menambahkan kegiatan business day merupakan “smart program” di SDIIC untuk mengaplikasikan ilmu perniagaan/ekonomi dan matematika. Tema kegiatan kali ini adalah “sukses berniaga seperti ajaran nabi”.

Beberapa hal yang ditekankan pada anak2 di antaranya adalah kreatif dalam mengemas produk dan aktif melalukan promosi agar mendapatkan pembelajaran yang optimal.

“Betul-betul anak-anak teruji kemampuan percaya diri niaganya pada kegiatan ini. Tak jarang mereka menawarkan dengan keliling dagangannya dan temannya ketika dagangannya sendiri sudah habis. Di awal dan di akhir kegiatan, mereka harus membuat catatan khusus laba rugi yang nanti dilaporkan kepada wali kelasnya. Tingkat kepedulian semua pihak terutama orang tua dalam mempersiapkan dagangan putra-putrinya juga luar biasa,” tandas Nurhadi.

LEAVE A REPLY