Ciptakan Beton dari Limbah, Mahasiswa ITS Juara 2 CIVFEST 2018

0
49
Tiga mahasiswa ITS Surabaya yang menciptakan beton berbahan limbah (Foto: istimewa)

FI.CO, Surabaya – Mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tampil sebagai juara 2 lomba beton nasional CIVFEST 2018 di Politeknik Negeri Jakarta. M

ereka menggondol juara 2 dengan mengangkat tema beton Berbahan Flaco (Fly Ash dan Copper Slag).  Mahasiswa inovatif ini beranggotakan tiga orang yakni Kurniawan Sugianto, Yusak Nurrizki, dan Alnardo Khotani ini. Tim yang mereka bentuk bernama Tim Awig Awig 59.

Fly Ash atau abu terbang merupakan jenis limbah yang berasal dari pembakaran batu bara. Menurut tim, abu terbang menjadi penyumbang limbah terbesar dengan bobot total 219.000 ton per tahun. Data tersebut diperoleh dari PT Suralaya, Banten.

Sedangkan, Copper Slag merupakan jenis limbah industri peleburan tembaga yang berbentuk butiran runcing, kasar, dan padat. Limbah tersebut diperoleh dengan bobot total 19 ribu ton per tahun di PT Smelting Gresik.

Kedua limbah tersebut digunakan sebagai bahan tambahan campuran beton dan sebagai subtituen atau bahan pengganti.

“Para dewan juri menilai pembuatan beton dengan limbah tersebut lebih mengarah ke nilai ekonomis, inovatif, dan lingkungan”, tutur Alanardo, salah satu anggota dari tim dalam siaran pers, Senin (19/3).

Selain itu, tim juga memberikan komposisi bahan dengan senyawa kimia berjenis superplasticizer dan retarder guna menjaga keenceran, sifat plastis, dan kekuatan beton selama selang waktu beberapa jam.

Kedua senyawa tersebut berfungsi memperlambat pengerasan beton sehingga beton terlihat encer meskipun dalam jangka waktu yang agak lama dan kondisi cuaca yang panas.

Meskipun mampu memberikan sifat keenceran, kedua senyawa tidak mengakibatkan penuruan kekuatan beton, bahkan kekuatan beton dapat sedikit meningkat. Tim mengaku merasa kesulitan di waktu persiapan dalam penentuan kadar senyawa.

“Menurut kami, pemberian dan penentuan kadar superplasticizer dan retarder ke dalam campuran beton adalah yang paling rumit dan sulit. Pasalnya jika tidak benar-benar sesuai kadarnya maka beton akan mudah rusak. Sebanyak lima kali pengujian yang telah kita lakukan untuk mendapatkan kadar yang lebih tepat”, ungkap Kurniawan.

Di perlombaan tersebut, beton buatan Tim Awig Awig 59 telah diuji dewan juri dengan uji slump yaitu pengujian yang digunakan untuk menentukan kekakuan campuran beton dalam menentukan tingkat workability-nya.

Awalnya, campuran beton dimasukkan ke dalam wadah kerucut yang dikenal cone dengan tinggi 30 cm. Dalam peraturannya, ketika cone diangkat, maka beton diperbolehkan mengalami penurunan sekitar 14 cm.

Alhasil, beton dari Tim Awig Awig mengalami penurunan sekitar 2 cm. Hal tersebutlah yang membuat tim awig awig 59 mampu menggondol juara.

“Rasanya bersyukur, saat berlomba memperoleh hasil baik dan bisa juara. Semoga menjadi motivasi dan inspirasi bagi diri dan semua,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY