Pertarungan Sengit Pandawa Versus Kurawa

0
315

Penulis: Okta

FI.CO – Entah beberapa kasus di desa seberang atau bahkan di kota lain terkesan mangkrak, yang membuat para pejabat negara sekelas kecamatan tidak mempunyai nyali untuk menindak tegas akan keadilan yang seadil-adilnya kepada bawahannya yang sudah melanggar aturan, ataukah mungkin aturan sengaja dibuat untuk dilanggar bagi para penguasa.

Beda lagi dengan seorang warga masyarakat kecil yang sudah melakukan sebuah kesalahan-kesalahan kecil seperti mencuri ayam, berjudi, dan kejahatan kecil lainnya seakan menjadi sasaran empuk bagi para penegak hukum setingkat daerah/kabupaten, ironisnya kasus-kasus yang sudah berjalan berbulan bulan terkesan didiamkan sebelum ada tindakan tegas dari penegak hukum yang levelnya setinggi instansi Kejaksaan Tinggi atau selevel KPK baru semua tikus-tikus berdasi tersebut lari tunggang langgang dan secepat mungkin mengambil langkah seribu.

Baru-baru ini terjadi sebuah polemik dalam program prona yang ada disebuah desa Trompoasri kecamatan Jabon kabupaten Sidoarjo, pasalnya semua warga masyarakat geram hingga sampai ada upaya untuk berbondong-bondong demo ke kantor kecamatan guna menuntut keadilan ketika warga masyarakat mengetahui dan mebaca Permen Agraria dan Tata Ruang/kepala Badan Pertanahan No. 4 tahun 2015 tentang Prona, jika dalam program prona tersebut gratis.

Akan tetapi demo beberapa warga masyarakat tidak membuahkan hasil, ironisnya lagi ada aktifis yang bisa-bisanya menjadi ular berkepala dua, atau bisa dikatakan dengan serigala yang berbulu domba atau sejenisnya untuk aktifis tersebut.

Memang didepan masyarakat seakan manis, membela kaum yang lemah akan tetapi dibalik kemanisan itu ada maksud pribadi yang tak lain adalah sebuah dendam pribadi kepada sang kades.

Memang benar sepandai-pandainya seorang menyembunyikan sebuah bangkai pasti akan tercium baunya, beda dengan pribahasa yang jaman now, sepandai-pandainya kelinci berlari pasti akan menjadi kacang dua kelinci yang renyah dan masih dinikmati oleh kalayak kaum menengah kebawah.

Tetapi yang dilakukan aktifis ini malah merongrong warga dari bawah, pasalnya ketika warga sedang membutuh sebuah kekuatan untuk menuntut keadilan malah dimanfaatkannya.

Hukum dilambangkan dengan seorang dewi ditutup kedua matanya, memegang sebilah pedang yang tangannya sebelah kiri memegang sebuah timbangan, dalam filosofi Yunani hukum tidak boleh pandang bulu dan harus ditegakkan seadil adilnya tanpa tengok kanan maupun tengok kiri.

Hal itu justru tidak sesuai dengan hukum yang diterapkan oleh instansi kejaksaan negeri Sidoarjo pasalnya pelapor sudah berupaya melaporkan di kejaksaan negeri Sidoarjo tapi tidak dihiraukan dan kemudian ketika pelapor melapor dikejaksaan tinggi malah dikecam dan disarankan oleh penyidik untuk menyabut laporannya agar tidak berkepanjangan.

Warga masyarakat melapor kok malah disuruh mencabut kembali laporannya ada apa dibalik itu semua?, seakan semua pihak instansi kejaksaan negeri sidoarjo terkesan ada dugaan masuk angin, kalau menurut pandangan umum masuk angin memang harus dikeroki agar tubuh enteng dan seger kembali, lah cara kita mengeroki instansi kejaksaan yang kita duga masuk angin ini perlu kita kontrol kinerja mereka semua karena mereka semua pelayan masyarakat, dan juga penegak hukum yang tidak etis jika sampai berkata demikian kepada sang pelapor.

Kita memang perlu mengapresiasi seorang pemudi desa Trompoasri kecamatan Jabon kabupaten Sidoarjo yang elok rupawan, dan juga bapak yang sudah tua tetapi sangat berani kepada ketidak adilan serta penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh perangkat desa maupun kepala desa.

Bapak tersebut memang tua akan tetapi kita semua perlu belajar kepada beliau meskipun beliau buta huruf akan tetapi tidak buta mata hatinya, beliau memang jujur sampai kejujurannya tersebut membuahkan hasil dibentak-bentak oleh instansi kejaksaan negeri Sidoarjo, ketika melaporkan adanya dugaan pungli yang terjadi didesanya tersebut.

Kisah perjalanan warga desa Trompoasri dalam memberontak dan melaporkan dugaan pungli dalam program prona tersebut layaknya pertarungan sengit antara pendowo melawan kurowo yang sangat bengis dan juga semena-mena kepada rakyat kecil. Bagaimanapun juga kejahatan dan ketidakadilan tidak akan pernah menang melawan kebaikan sampai kapanpun.

Akan tetapi dalam kisah pendowo limo tersebut memang tidak luput dengan Sengkuni yang berperan mempunyai watak bermuka dua, suka menjilat, berdusta dan kemunafikan seperti yang terjadi dalam perjuangan warga tersebut tidak lepas dari sosok seorang yang mirip sekali berwatakan sengkuni.

Seperti yang terjadi serta pengakuan kedua warga desa tersebut ketika mengetahui langsung selama ini seorang aktifis yang mereka kenal sangat baik, pro dengan warga bahkan sangat mensuport segala kegiatan warga ternyata seorang aktifis yang sangat penjilat.

Pasalnya aktifis tersebut didepan penyidik kejaksaan negeri sidoarjo mengatakan jika dia tidak pernah mendukung semua gerakan warga apalagi sampai warga memberanikan diri untuk melaporkan ke instansi kejaksaan tinggi.

Sangat memilukan memang tapi semua perjuangan warga desa Trompoasri tersebut pastinya akan membuahkan hasil dan menjadi perbincagan sangat viral didunia maya atau biasa disebut dunia sosmed karena memang seharusnya seperti itu agar semua masyarakat luas mengerti akan aturan terkait program prona yang saat itu meenjadi ajang bisnis bagi semua oknum-oknum kepala desa untuk mengeruk kentungan dan menyalahgunakan wewenangnya.

* Penulis adalah redaktur Forum Indonesia

LEAVE A REPLY