Bunga Asmara Bau Kencur

0
53

FI.CO, Tulungagung – Setidaknya dunia pendidikan (khususnya) di Tulungagung tertampar.Orang tua pun dibuatnya panic. Diperlukan solusi dan antisipatif

Seorang siswa sekolah dasar (SD) menghamili siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Tulungagung, Jawa Timur. Saat ini, pelajar SMP tersebut tengah hamil 6 bulan.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Tulungagung Winny Isnaeni mengatakan, dari laporan yang diterimanya, siswi SMP itu diketahui hamil setelah pihak sekolah memeriksakannya ke Puskesmas setempat pada 19 Mei sebelumnya,karena terlihat kurang sehat.

Petugas medis di Puskesmas pun menyatakan bahwa siswi tersebut positif hamil. Setelah itu, pihak sekolah langsung memberitahukan kejadian ini ke pihak keluarga.

Melalui pendekatan, siswi tersebut akhirnya mengaku sosok ayah bayi dikandunganya yaitu pacarnya yang masih duduk di kelas V SD. “Meski masih SD, usianya sudah 13 tahun karena beberapa kali tidak naik kelas.

Sebetulnya di Jawa Timur banyak sekali kasus serupa dan di Tulungagung ini menjadi perhatian karena lelaki-nya masih SD,” kata Winny,pada 23 Mei lalu . Kedua pihak keluarga, lanjut dia, telah sepakat untuk menikahkan keduanya.

Namun kantor urusan agama (KUA) setempat menolak karena calon mempelai pria dan wanita masih di bawah umur. “Dengan menikahkan keduanya belum tentu sebagai jalan keluar. Bisa menjadi lebih baik, bisa jadi justru situasi tambah keruh.

Pernikahan ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Dan keduanya ini masih anak-anak yang belum memahami arti sebuah pernikahan,” ungkap Winny. LPA, lanjut dia, akan melakukan asesmen terlebih dahulu untuk mengetahui situasi kedua keluarga dan melakukan pendampingan.

Bisa dipahami, lanjut dia, bahwa orangtua secara psikologis akan menikahkan anaknya jika hamil diluar nikah. Namun, menurut Winny, pernikahan di bawah umur bisa menimbulkan masalah baru.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung dan Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) melakukan asesmen kepada siswa SD dan siswi SMP yang berpacaran hingga hamil di luar nikah.

Kepala UPPA Polres Tulungagung Ipda Retno Pujiarsih mengatakan, kedua pihak keluarga awalnya sepakat untuk menikahkan keduanya karena si siswi sudah mengandung 6 bulan. Namun keputusan itu akan diambil setelah proses asesmen dilakukan.

Menurut Retno, asesmen UPPA Polres Tulungagung ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan kedua anak tersebut dalam menyelesaikan masalah mereka. “Kedua anak ini sering memanfaatkan rumah orangtua pihak laki-laki yang kosong,” kata Retno,pada 23 Mei lalu .

Winny melanjutkan, kasus yang dialami oleh siswa SD dan siswi SMP tersebut bukan melanggar undang-undang, tetapi pelanggaran hak atas anak-anak.  “Setelah kami lakukan asesmen, lanjut ke pernikahan atau tidak kami serahkan kepada masing-masing orangtua,” pungkas Winny.

Dari informasi yang dihimpun, kedua pelajar itu berkenalan saat di Pantai Gemah pada Februari 2017. Bocah SD sebut saja Putra dan siswi SMP sebut saja Putri. Keduanya saling bertukar nomor telepon, menjalin hubungan serius hingga menjurus pada layaknya hubungan orang dewasa.

Putra dan Putri beberapa kali berhubungan layaknya orang dewasa. Kali terakhir keduanya berhubungan di rumah kosong milik orang tua Putra pada November 2017 silam. Hingga akhirnya, ada gelagat mencurigakan pada tubuh Putri.

“Keterangan orang tua Putri hasil pemeriksaan di puskesmas positif hamil. Kami akan kumpulkan semuanya untuk menangani masalah ini,” urai Retno.

Bagaimana Solusinya?
Orang tua keduanya dikumpulkan di Mapolres Tulungagung pada 24 Mei pagi ini. Pertemuan itu juga melibatkan Dinas Sosial, rumah sakit, Lembaga Perlindungan Anak dan lembaga lainnya. Tujuannya, untuk mencapai titik temu penyelesaian kasus ini.

Retno menjelaskan, sejauh ini belum ada kesepakatan apakah dua bocah itu akan dinikahkan. Apalagi banyak hal yang harus dipertimbangkan. “Belum ada titik temu dari kedua orangtua bahwa akan menikahkan anak mereka. Masih akan kami pertemukan lagi,” ujar Retno.

Ia berpendapat pernikahan juga bukan solusi terbaik. Pertimbangannya, faktor usia kedua anak-anak itu yang belum tentu siap hidup berumah tangga. Pemerintah juga tak mengizinkan pernikahan di bawah umur.

Aspek psikologis dan kesehatan juga jadi perhatian utama jika dipaksakan ada pernikahan. “Karena itu, semua pihak yang ahli tentang ini akan kami kumpulkan juga untuk dimintai pendapatnya,” ucap Retno.

Kepolisian memandang kedua anak tersebut adalah korban. Maka, butuh penanganan khusus untuk menyelesaikan masalah ini. Mempertimbangkan solusi terbaik bagi kedua anak tersebut. Orang tua jadi pihak yang harus bertanggungjawab atas masalah ini.

“Kita tak bisa menyalahkan anak-anak itu karena mereka adalah korban,” ujar Retno. Kasus bocah SD menghamili siswi SMP ini pun menjadi keprihatinan bersama.

Selamatkan Janin
Kasus siswa SD menghamili siswi SMP di Tulungagung, Jawa Timur diharapkan ditangani dengan baik. Menghasilkan solusi terbaik dengan mempertimbangkan dampak psikologisnya. Serta menyelamatkan janin dalam kandungan itu hingga lahir dengan selamat.

Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Tulungagung sudah menemui orang tua kedua bocah tersebut. Meski demikian, belum ada solusi terbaik untuk penyelesaian kasus tersebut.

“Kami upayakan ada solusi lanjutan terkait pemenuhan hak kedua anak – anak itu. Termasuk hak bayi yang sedang dikandung agar tetap selamat sampai lahir,” kata Kepala ULT PSAI Tulungagung, Sunarto dikonfirmasi di Malang,pada  23 Mei lalu.

Usia kandungan Putri termasuk rentan gangguan kesehatan. Karenanya akses kesehatan untuknya harus tetap terpenuhi. Keluarga dan bidan desa harus bersama-sama menjaga kandungan Putri tetap sehat. “Agar anak dalam kandungan itu bisa lahir dengan selamat,” tutur Sunarto.

Pendidikan untuk Putra dan Putri juga harus tetap terjamin, bisa menyelesaikan sekolah mereka. Kedua bocah itu dipastikan mengalami beban psikologis saat bersekolah. Keduanya bisa melanjutkan pendidikannya melalui kejar paket C sebagai satu alternatif.

“Tekanan psikologis itu pasti ada. Keluarga kedua anak itu juga harus dibantu, bagaimana menghadapi masalah ini termasuk menerima kehadiran anak yang akan dilahirkan,” ujar Sunarto.

Tak ke Ranah Hukum
Kasus ini juga diharapkan tak sampai ke ranah hukum. Kedua orang tua dari masing – masing bocah itu mencapai kesepakatan terbaik. Meminimalisir kemungkinan upaya hukum atas penyelesaian masalah ini.

“Soal hukum itu terserah pihak orang tua. Tapi kami berupaya agar kedua pihak keluarga tak menempuh upaya hukum, menyelesaikan dengan baik,” ucap Sunarto.

Kepolisian sendiri tengah menyelidiki kasus ini, apalagi kejadian ini membikin gaduh warga setempat. Meski demikian, belum ada laporan yang dibuat oleh salah satu keluarga dari kedua bocah tersebut.

Ipda Retno mengatakan, butuh penanganan khusus terhadap kasus ini dengan melihat kedua bocah itu sebagai korban. “Belum ada yang buat laporan. Kedua anak itu adalah korban, tak bisa disalahkan kalau ada kejadian seperti ini,” ujar Retno.

Kepolisian menjadwalkan pertemuan antara kedua keluarga anak-anak tersebut. Serta mengundang berbagai pihak seperti ULT PSAI, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan lainnya pada Kamis, 24 Mei ini di Mapolres Tulungagung.

“Kami saring semua pendapat demi keputusan terbaik, mempertimbangankan dampak psikologis dan kesehatan kedua bocah itu,” kata Retno.

Grid,id menyebut,menurut pengakuan warga yang berinisial YG, keluarga Putri langsung mendatangi rumah yang laki-laki,” kata YG. Putra yang dua kali tidak naik kelas  mengaku telah beberapa kali berhubungan badan dengan Venus.

Permasalahan akhirnya dicoba diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Kedua keluarga akhirnya sepakat untuk menikahkan anak mereka.Namun, ternyata keinginan kedua keluarga tak semudah itu terlaksana.Mereka awalnya telah menyiapkan syarat-syarat pernikahan dengan cepat.

Pada  21 Mei lalu, putra dan putri pun bersiap menikah di Kantor Urusan Agama (KUA).Tapi, ternyata pihak KUA menolak untuk menikahkan keduanya.Pasalnya, keduanya dianggap masih terlalu kecil.Meski begitu, pihak keluarga tak patah semangat dan terus berusaha.

Mereka bersikeras untuk menikahkan dua buah hati mereka. “Saya membantu mengurus proses pernikahan keduanya,” kata Anang, tokoh di desa tempat putra tinggal. Karena ditolak oleh KUA, keduanya harus mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama. Sehari kemudian  (22/5 -red), permohonan sidang dispensasi sudah dimasukkan ke Pengadilan Agama Tulungagung.

Anang berharap keduanya mendapatkan dispensasi hingga bisa lekas dinikahkan. “Tinggal menunggu hasil sidang seperti apa. Kalau mendapatkan dispensasi langsung dinikahkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, tetangga di sekitar tempat tinggal Koko pernah mengingatkan orangtua Koko tentang kedekatan anaknya dan Venus.

Para tetangga menilai, hubungan keduanya  sudah kelewat batas. Namun jawaban dari ayah putra justru membuat warga sekitar jengah.Dengan enteng ayah putra mengatakan,putri menjadi bahan percobaan anaknya. “Bapaknya bilang, biar jadi bahan percobaan burung anaknya yang baru sunat,” ujar YG, salah satu tetangga.”Kalau sudah hamil begini kan baru tahu rasa dia,” tambahnya.

Syaifudin Juhri Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Tulungagung berharap ada solusi terbaik dan putrid tetap bisa melanjutkan pendidikannya. “Saya berharap siswi ini nantinya tetap bisa sekolah seperti biasa,” ungkapnya.”Karena dia masih anak-anak dan berhak mendapatkan pendidikan,” sambungnya.

“Ada yang malah menjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), ada juga yang melahirkan banyak anak,” ujar Winny. Sementara itu menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menegaskan bahwa perkawinan hanya diizinkan bila pihak laki-laki mencapai umur 19 tahun dan pihak perempuan sudah mencapai usia 16 tahun.

Namun demikian, UU ini selanjutnya membuka peluang terjadinya pernikahan usia anak dengan meminta dispensasi kepada Pengadilan jika usia calon mempelai belum memenuhi usia yang telah ditetapkan. (red dari berbagai sumber)

* Artikel ini juga dimuat pada Forum Indonesia cetak

LEAVE A REPLY