Diduga Gabung ISIS

0
21
ilustrasi

Irma Mahasiswa Drop Out

FI.CO, Tulungagung – Pihak rektorat IAIN Tulungagung menyatakan nama Irma Novianingsih, satu dari tujuh WNI deportan Suriah bukan lagi berstatus mahasiswa IAIN Tulungagung.

Meski identitas yang sama pernah menjalani perkuliahan hingga semester VI. “Irma sudah tidak aktif sejak awal semester VII pada tahun ajaran 2017 hingga sekarang. Statusnya dengan demikian nonaktif atau DO,” kata Pembantu Rektor III IAIN Tulungagung Abad Badruzzaman di Tulungagung,pada 28 Mei lalu, seperti dikutip republika

Ia membenarkan nama deportan Suriah yang diduga terkait jaringan ISIS, Irma Novianingsih adalah sama persis dengan identitas Irma Novianingsih yang tercatat di buku induk mahasiswa IAIN Tulungagung. Namun pihak kampus belum berani membuat kesimpulan bahwa dua identitas tersebut adalah orang yang sama.

Artinya deportan atas nama Irma Novianingsih merupakan WNI asal Tulungagung yang pernah menjalani perkuliahan di IAIN Tulungagung. “Kami belum akan menyimpulkan bahwa nama tersebut (Irma Novianingsih) pasti mahasiswa IAIN Tulungagung. Namun jika mengacu data dari intel, semua identik dengan database kami,” kata Abad Badruzzaman.

Data pendukung dimaksud Abad adalah kesesuaian antara nama, alamat, tempat tanggal lahir hingga riwayat sekolah sebelum kuliah Irma Novianingsih. Gadis kelahiran 23 November 1994 itu tercatat masuk di IAIN Tulungagung pada 2014 dengan mengambil bidang ilmu (jurusan) Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

Awal perkuliahan Irma menjalaninya dengan normal. Semester 1 Irma mengambil 11 mata kuliah dengan total 22 SKS. Konsistensi Irma berlanjut hingga semester V.

Namun memasuki semester genap ditahun ketiga ia menjalani perkuliahan, Irma mulai sering membolos. Dari total 10 mata kuliah yang diambil Irma pada semester VI, hanya tiga mata kuliah yang dijalaninya. Itu pun tidak maksimal. “Semester ganjil (VII) pada 2017 Irma sudah tidak pernah mengikuti perkuliahan lagi hingga sekarang,” kata Abad.

Status Irma Novianingsih saat ini disebut Abad dan Pembantu Rektor I IAIN Tulungagung M Abdul Aziz telah “drop out” (DO) otomatis. Hal itu dikarenakan Irma tidak pernah melakukan registrasi perkuliahan sejak 2017 hingga sekarang. Juni 2018 nanti, Irma genap dua tahun nonaktif.

“Mahasiswa yang dua semester berturut tidak melakukan her registrasi tanpa keterangan, maka secara sistem dia dinyatakan DO,” kata Aziz. Irma Novianingsih kini masih ditahan di ruang karantina Rutan Bambu Apus, Jakarta Timur.

Bungsu dua bersaudara asal Desa Dukuh, Kecamatan Gondang itu berada dalam pengawasan dan pemeriksaan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) setelah dideportasi dari Suriah menggunakan pesawat Turkish Airline TK 056 pada 25 Mei lalu.

Irma dideportasi bersama tujuh WNI lain yang diduga bergabung dengan jaringan ISIS di Suriah. Namun untuk memastikan status dan keterkaitan Irma dan tujuh WNI lain itu dengan jaringan ISIS, Densus 88 Antiteror dan BNPT sampai saat ini masih intensif melakukan pendalaman.

Rapat Rektorat IAIN Tulungagung  itu digelar usai muncul kabar ada mantan mahasiswi di kampus tersebut masuk dalam daftar sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari Suriah baru-baru ini.

“Ini terlepas bekas mahasiswi kami [Irma Novianingsih] yang barusan dideportasi dari Suriah dan kini menjalani pemeriksaan intensif di Rutan Bambu Apus, Jakarta Timur itu terbukti terkait jaringan ISIS atau tidak,” kata Pembantu Rektor III IAIN Tulungagung Abad Badruzzaman di Tulungagung, pada pada 28 Mei  seperti dikutip Antara.

Rektorat IAIN Tulungagung belum merilis hasil resmi rapat tersebut ke media. Namun, sebelum rapat itu digelar, Badruzzaman menyebut sejumlah poin yang menjadi perhatian Rektorat IAIN Tulungagung untuk mencegah kasus serupa terulang.

“Sebentar lagi akan ada PBAK (Pekan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Dulu namanya ospek. Momentum ini akan kami jadikan sebagai ajang seleksi seketat mungkin demi penanggulangan dan penangkalan paham radikal di internal kampus,” kata Badruzzaman.

Dia menegaskan, apabila selama PBAK maupun setelahnya ditemukan indikasi ada mahasiswa terlibat gerakan radikal, IAIN Tulungagung tidak akan segan memecatnya.”Tentu akan kami cermati betul. Karena ini pertaruhannya terlalu besar,” ujar Badruzzaman.

Dia menambahkan IAIN Tulungagung juga sedang mempertimbangkan untuk menerapkan larangan memakai cadar bagi para mahasiswinya.”Jilbab itu wajib, sedangkan (menggunakan) cadar itu sifatnya sunah.

Kami sudah siapkan semua argumentasi dan dasar tuntunan agama untuk mengantisipasi jika nanti ada yang protes dan menganggapnya [pelarangan cadar] sebagai pelanggaran HAM,” ujar Badruzzaman.

Menurut dia, IAIN Tulungagung juga berencana meminta semua pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk turut terlibat dalam lingkar studi apa pun guna memantau kemungkinan ada penyebaran paham radikal di kampus tersebut.

“Semua kegiatan di dalam maupun di luar kampus, jika ada keterlibatan mahasiswa kami dan mengarah pada gerakan yang bertentangan dengan ajaran Islam “rahmatan lil `alamin”, kami akan tindak dengan tegas,” kata Badruzzaman.

Dia mengklaim selama ini IAIN Tulungagung sudah melarang penyebaran buletin usai salat jumat, khususnya dari luar kampus, yang memuat materi berpaham Islam radikal dan intoleran. Sebagai gantinya, kampus itu hanya mengizinkan peredaran buletin terbitan prodi manajemen dakwah. (red)

* Artikel ini juga dimuat pada Forum Indonesia cetak

SHARE
Previous articleStok Beras Aman:
Next articleDiduga Masuk Angin:

LEAVE A REPLY