Pelajar SMP Gantung Diri

0
32
Pesan yang ditujukan kepada pengasuhnya

FI.CO, Blitar – Diduga takut tidak diterima di sekolah favorit lantas bunuh diri,benarkah.Siapa yang harusnya bertanggungjawab.

Dikutip dari detik.com ,EP (16) pelajar SMP Kota Blitar yang nekat gantung diri, rupanya telah lama menyiapkan rencana tragis ini. Dia sempat menulis pesan sebanyak tiga lembar untuk orang tuanya. Selain itu, dengan spidol warna biru, dia juga mengarahkan apa saja yang harus dikerjakan pengasuhnya saat menemukan jasadnya tergantung.

Dalam secarik kertas HVS, siswi cerdas ini menulis seperti ini “Maklek (panggilan untuk pengasuhnya) Jangan Teriak. Panggil Orang Disekitar. Hub Mardi Waluyo (0342-xxxxxx). Bawa Tas Ini. Kartu BPJS Ada Didalam Amplop. Jangan Ada Ambil Gambar Disini !”.

Kasatreskrim Polresta Blitar AKP Heri Sugiono juga menyatakan, hasil olah tempat kejadian perkara dan keterangan beberapa saksi diantaranya orang tuanya, tulisan itu identik dengan tulisan tangan korban.

“Kami juga cocokkan dengan tulisan di buku catatan pelajaran milik korban. Dan tulisan tangan di surat wasiat itu memang identik dengan tulisan korban. Orang tuanya juga meyakininya,” jelasnya di RSUD Mardi Waluyo, pada 29 Mei lalu.

Lalu apa saja pesan yang dituliskan siswi berprestasi ini untuk orang tuanya? Menurut Heri sangat banyak. Namun ada tiga hal yang menyangkut proses pemakamannya.

“Korban berpesan agar jenasahnya segera dibawa ke Wisma Paramita, minta segera dikremasi dan minta dimakamkan dengan peti mati berwarna putih,” ungkap Heri. Selain itu ada satu pesan yang khusus ditujukan kepada ibunya.

“Dia ingin mamanya tidak boleh bekerja sampai usai hari raya,” pungkasnya. EP yang seorang pelajar SMP merupakan warga Kabupaten Blitar yang baru beberapa bulan kos di wilayah Kecamatan Sananwetan.

Korban kos bersama pengasuhnya sejak bayi. Pengasuhnya ini wanita berumur sekitar 65 tahun. Saat kejadian, sang pengasuh disuruhnya keluar membeli lauk.

“Emaknya disuruh beli lauk di sekitar rumah ini. Kebetulan keluar dari rumah kos itu bersamaan saat saya keluar di teras,” kata seorang tetangga kos Titeng Perdamaian pada  29 Mei itu.

Namun, saat sang pengasuh kembali ke rumah kos itu, Titeng mendengarnya berteriak sangat keras sambil menyebut-nyebut nama korban. “Korban ditemukan telah tergantung di kayu rangka pintu kamarnya. Sudah meninggal saat kami turunkan,” imbuhnya.

Masyarakat sekitar rumah kos lalu melaporkan kejadian ini ke Polsek Sananwetan. Setelah melakukan olah kejadian, korban dibawa ke RSUD Mardi Waluyo untuk visum luar. Dilokasi, tampak seorang lelaki menangis sambil memukuli kepalanya sendiri.

Dan seorang wanita, terbaring lemas di rumah warga tepat di depan rumah kos korban. Sedangkan di kamar mayat RSUD Mardi Waluyo, polisi belum bisa memberikan keterangan resmi. Tampak beberapa saksi, termasuk keluarga dan pemilik rumah kost masih memberikan keterangan pada petugas kepolisian dari Polsek Sananwetan.

Takut tidak diterima masuk SMAN 1 Kota Blitar karena sistem zonasi, diduga kuat menjadi motif kenekatan EP , pelajar SMP gantung diri. EP diduga gagal masuk ke SMA favorit meski ia dikenal pintar.

EP diketahui tinggal di rumah kos Jalan A Yani Kota Blitar sejak akhir kelas 7. Di kos, EP didampingi pengasuhnya yakni seorang wanita berinisal MY 65 tahun yang telah mengasuhnya sejak bayi.

Keterangan dari beberapa teman korban yang ikut ke RSUD Mardi Waluyo, EP merupakan siswa berprestasi di sebuah SMPN Kota Blitar. EP mempunyai cita-cita kuat melanjutkan sekolah ke sebuah SMA favorit di Kota Blitar yakni SMAN 1 Kota Blitar.

Namun domisili EP yang ada di Kabupaten Blitar menipiskan harapannya untuk bisa diterima di situ. “Cuma beberapa hari ini dia bilang stres. Soalnya nilainya turun semua. Dia juga takut gak diterima di SMAN 1 Kota Blitar, soalnya dia kan anak kabupaten,” kata teman sekelas korban Sandy pada hari kejadian.

Menurut Sandy, EP memang pendiam. Namun punya banyak prestasi. Baik dibidang akademik maupun ekstra. EP selalu ingin menjadi yang terbaik disemua kegiatan yang dilakukannya.

“Anaknya itu punya keinginan untuk selalu ranking 1. Semua keluarganya memang pinter-pinter semua,” imbuh siswa berperawakan kurus itu.

Sementara Kasatreskrim Polresta Blitar AKP Heri Sugiono membenarkan, jika kematian korban murni akibat gantung diri.

“Hasil visum luar tim medis tadi menyatakan, korban meninggal akibat gantung diri. Tidak ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan di fisiknya. Namun keluarganya menolak diautopsi, dan sudah membuat surat pernyataan,” terangnya. (marji, hari)
* Artikel ini juga dimuat pada Forum Indonesia cetak

SHARE
Previous articleTerbakar di Bulan Puasa:
Next articleTiga Siswa Ditampar

LEAVE A REPLY