Inilah Penyebab Kelangkaan Elpiji di Tulungagung dan Trenggalek

0
32

FI.CO, Kediri – Kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) di wilayah Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek, Jawa Timur dipicu oleh peningkatan jumlah konsumsi. Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Kediri mencatat terjadi lonjakan permintaan ‘elpiji melon’ sebesar 5-10 persen pada momentum Ramadan.

“Di Tulungagung dan Trenggalek itu banyak pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), orang banyak membuat kue pada bulan Ramadan. Maka konsumsi banyak sekali,” kata Ketua Hiswanamigas Kediri, David Tompo Iswahyudi, Sabtu (2/6/2018).

Pada Ramadan, pemesanan kue kering untuk Lebaran memang banyak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pesanan kue kering Lebaran mulai dilakukan satu bulan sebelum puasa. Produk kue kering dari wilayah Tulungagung dan Trenggalek tersebut dipesan oleh masyarakat dari berbagai daerah sekitar seperti Kediri dan Blitar.

David menambahkan, kelangkaan elpiji di Tulungagung dan Trenggalek sudah diatasi. Hiswanamigas Kediri yang memiliki cakupan wilayah Karesidenan Kediri (Tulungagung, Trenggalek, Kota dan Kabupaten Blitar, serta Kota dan Kabupaten Kediri) menambah alokasi di lapangan 5-10 persen. Sementara pada hari libur sifatya fakultatif hingga 100 persen.

“Untuk stok elpiji wilayah Karesidenan Kediri aman terkendali tidak ada masalah,” tegas David menambahkan.

Berdasarkan catatan Hiswanamigas Kediri, pasokan elpiji untuk wilayah Kabupaten Kediri setiap bulannya kurang lebih 870.000 tabung. Kemudian Kabupaten Kediri sekitar 1.300.000 tabung, Kabupaten Nganjuk kurang lebih 794.000 tabung, Kabupaten Trenggalek sekitar 425.000 tabung dan Kabupaten Tulungagung 897.000 tabung. Sementara untuk Kota Blitar sebesar 155.000 tabung dan Kota Kediri sekitar 360.000 tabung.

Selain elpiji, imbuh David, kebutuhan BBM pada momentum Ramadan ini juga meningkat. Sehingga Hiswanamigas dan Pertamina menambah pasokan BBM dari berbagai jenis hingga 5 – 10 persen. Penambahan pasokan ini akan dilakukan hingga Lebaran mendatang untuk menjamin kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Diberitakan sebelumnya, tiga minggu menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat di Kabupaten Trenggalek kesulitan mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg). Gas elpiji tabung melon alami kelangkaan sejak dua minggu terakhir.

Kelangkaan gas elpiji paling dirasakan masyarakat di kawasan Pantai Prigi di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Beberapa kios pengecer tidak memiliki stok elpiji.

Warga berusaha mencari elpiji melon dengan mendatangi setiap kios yang masih menjual. Ada kios-kios tertentu yang memiliki stok, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Bahkan, elpiji melon dijual dengan harga yang cukup tinggi yaitu, Rp 20 ribu per tabung. Pengecer beralasan, pasokan dari pangkalan minim, sementara konsumen yang datang sangat tinggi.

Pengecer mengaku, pasokan elpiji dari pangkalan tersendat. Selain itu, jumlahnya juga berkurang. Bagi kios-kios pengecer, mengaku, tidak memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan harga, tetapi mengikuti kios lain dalam melepas elpiji melon kepada masyarakat. Mereka juga mengakui, mendapatkan dengan harga yang tinggi pula.

Salah satu Pangkalan di Desa Tasikmadu mengakui, ada kebijakan pengurangan pasokan dari Depo Pertamina belakangan ini. Hal tersebut menjadi penyebab kelangkaan elpiji melon di tingkat masyarakat.

Seperti di Pangkalan Muyani ini, dari jatah sebanyak 1.800 tabung, kini dikurangi hingga 300 tabung. Sehingga pasokan yang diterima hanya 1.500 tabung. Jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, karena pangkalan lain mengalami hal yang sama.

Kelangkaan elpiji melon yang mengakibatkan kenaikan harga hingga Rp 20 ribu ini cukup memberatkan masyarakat. Mengingat, Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji subsidi pemerintah ini berkisar antara Rp 16-17 ribu per tabung.

LEAVE A REPLY