Ramai-ramai Mendadak Miskin Demi Sekolah, Siapa Salah?

0
36
Rumah orang tua pendaftar sekolah yang mengaku miskin di Brebes

FI.CO, Jakarta – Ribuan pendaftar sekolah negeri tiba-tiba mengaku miskin. Mereka menyodorkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai buktinya. Setelah dicek ke rumahnya, ternyata sebaliknya.

Hal ini terjadi di berbagai tempat, salah satunya di Banyumas, Jawa Tengah. Terdapat siswa yang orang tuanya mempunyai mobil bagus dan bekerja dengan penghasilan yang cukup besar. Selain itu, rumah yang ditempati juga tidak menunjukkan jika siswa tersebut berasal dari keluarga yang tidak mampu.

“Ada yang orang tuanya pegawai swasta dengan penghasilan yang tinggi. Bahkan ada pula yang orang tuanya memiliki rumah yang bagus dan tidak terlihat sebagai keluarga miskin,” ujar Kasi SMK, Balai Pengembangan Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Provinsi Jateng, Kustrisaptono.

Panitia PPDB SMK Negeri 1 Purwokerto hingga saat ini masih terus melakukan proses rekap terhadap jumlah pendaftar yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari 1.314 pendaftar, 948 merupakan pendaftar yang menggunakan SKTM.

“54 pendaftar sudah mencabut berkas kemarin, yang lain masih dalam proses,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Purwokerto, Asep Saeful Anwar.

Di Magelang, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Magelang melakukan verifikasi terbaru terkait pengguna Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dalam Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) SMA.

Hasilnya, sebanyak 305 calon siswa dari 1.443 kuota siswa yang terpenuhi di lima SMAN di Kota Magelang, diketahui menggunakan SKTM. Hasilnya, ada delapan calon siswa pengguna SKTM yang didiskualifikasi karena tidak sesuai penggunaan SKTM-nya.

Sementara itu, di Yogyakarta, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY akan menelusuri dugaan orang mampu yang mendaftarkan anaknya ke salah satu SMA N memakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Sebab, praktik tersebut melanggar aturan.

“Kita memang perlu telusuri (dugaan tersebut). Ketika kita tahu namanya persis, kita bisa segera (bertindak),” kata Kabid Perencanaan dan Standarisasi Disdikpora DIY, Didik Wardaya.

Dengan banyaknya orang-orang yang mendadak miskin, Gubernur Jateng menginstruksikan kepala SMA/SMK negeri melakukan survei lapangan terkait penyalahgunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Salah satu yang ditegur langsung adalah SMAN Mojogedang, Karanganyar. Hasilnya, ada 32 pendaftar yang diragukan kebenarannya.

Kepala SMAN Mojogedang langsung menindaklanjuti instruksi gubernur untuk melakukan survei mulai kemarin sore. Ada 138 pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilai harus disurvei.

“Sejak kemarin jam lima kami survei. Dari 138 orang, ada 32 yang menurut kami tidak masuk kategori miskin,” kata Purwadi.

Mengantisipasi hal itu, SMA di Brebes yang diburu banyak peminat membuat strategis khusus. Yaitu mewajibkan orang tua calon siswa yang menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) untuk menandatangani pakta integritas.

Kebijakan ini ternyata cukup membuat orang tua calon murid yang ber-SKTM ciut nyalinya. Mereka pun akhirnya menarik surat tersebut dalam syarat pendaftaran sekolah.

“SKTM memang sedang booming. Di SMAN 2 saja ada banyak yang melampirkan surat miskin ini. Warga yang mengaku ngaku miskin padahal kaya jika terbukti memalsukan bisa dipidana,” ujar Kepala SMA N 2 Brebes, Sadimin kepada wartawan, melansir detikcom, Selasa (10/7).

Menyikapi hal ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Dinas Pendidikan di kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan ketat.

“Saya minta dinas ketat untuk mengawasi baik di tingkat satu maupun kabupaten/kota. Izin yang diberikan harus tepat jangan menbohongi, itu pendidikan yang tidak baik,” kata Sri Sultan HB X di kantor Gubernur DIY di Kepatihan.

LEAVE A REPLY