Cerita Lengkap Ibu Lurah Pura-pura Mati agar Selamat dari Upaya Pembunuhan

0
25
Agus Siswanto menggunakan baju oranye sedang melihat rekonstruksi dengan peran pengganti yang digelar di halaman belakang Polres Banyuwangi, Kamis (2/8) (kompas)

FI.CO, Banyuwangi – Polres Banyuwangi menggelar rekonstruksi kasus penganiayaan yang dialami Wilujeng Esti Utami (53), lurah Penataban yang ditemukan nyaris tenggelam di Sungai Sere dusun Sendangrejo, desa Kebondalem, kecamatan Bangorejo, Selasa malam (31/7).

Ada 10 adegan reka ulang yang digelar di halaman belakang Polres Banyuwangi, Kamis (2/8), dengan menggunakan peran pengganti. Sementara tersangka Agus Siswanto hanya duduk di kursi menyaksikan gelar rekonstruksi karena kakinya terluka tembak.

Dari rekonstruksi tersebut diketahui bahwa Ibu Lurah dan Agus sempat makan bakso bersama di Kecamatan Genteng. Agus juga menjelaskan, saat makan bakso posisi mereka berhadapan. Sesekali Agus mengacungkan jempol kepada petugas kepolisian untuk membenarkan reka adegan oleh peran pengganti.

Selain itu diketahui bahwa penganiayaan pertama kali dilakukan setelah Agus meminta Ibu Lurah melempar tas ransel berisi uang ke jok belakang. Lalu Agus menodongkan pistol dan memukul bagian belakang kepala Ibu lurah sebanyak tiga kali hingga kepala mengenai bagian depan mobil.

Kemudian, Agus menutup kepala korban dengan tas plastik warna hitam yang ada di dalam mobil. “Setelah itu, korban pura-pura mati dan tersangka mengikat tangan korban di belakang lalu di bagian kaki juga,” jelas Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman, Kamis (2/8) melansir Kompas.com.

Dari rekonstruksi tersebut juga diketahui bahwa tubuh Ibu Lurah tidak langsung dibuang, tetapi dibawa berputar-putar menggunakan mobil Hyundai warna silver milik tersangka. Selama perjalanan itu, tersangka beberapa kali memukul kepala dan tubuh korban yang sudah pura-pura mati.

Lalu tersangka kembali ke lokasi awal di tepi Sungai Sere dan mengeluarkan tubuh Ibu Lurah dan didorong ke dalam sungai sekitar pukul 22.00 WIB. “Saat didorong, kepala Ibu Lurah sudah tidak di tutup plastik hitam, hanya mulutnya disumpal. Posisi tangan dan kaki masih tetap terikat,” kata Kapolres.

Setelah membuang tubuh Ibu Lurah, Agus menuju ke rumah rekannya untuk menitipkan mobil. Lalu dengan teman perempuannya, ia menuju ke rumah pengasuh anaknya untuk menitipkan uang tunai Rp 60 juta.

“Saat perjalanan akan menitipkan mobil, tersangka membuang tas ransel milik korban. Namun sudah kita temukan,” kata Kapolres.

Kemampuan bertahan
Ibu lurah yang masih hidup berteriak meminta tolong setelah sumpalan mulutnya terlepas dan dia sempat terseret sejauh 50 meter. Saat ditemukan, Ibu lurah masih mengenakan kebaya hitam dan rok batik seragam pakaian adat Pemkab Banyuwangi hari Selasa.

Posisi tangan dan kaki juga masih terikat kuat dengan tas plastik hitam yang dirangkai seperti tali. Menurut Kapolres, selain takdir baik, kemampuan bertahan dan semangat hidup Ibu lurah sangat tinggi karena tidak mudah bertahan di air dalam konsdisi tangan dan kaki terikat.

“Sempat dirawat di puskesmas. Lalu Bu Lurah sempat ngantor juga satu hari setelah kejadian. Namun karena masih shock beliau minta perlindungan dan saat ini kita awasi di tempat yang aman,” jelas Kapolres.

Sementara itu, tersangka Agus mengatakan bahwa tas plastik hitam yang digunakan tali pengikat dan menutup kepala korban awalnya akan digunakan untuk tempat sampah di rumahnya. Namun setelah beli, dia lupa menurunkan dari mobil. Sedangkan pistol mainan dia beli di Surabaya dan selalu diletakkan di mobil untuk menakut-nakuti.

Agus juga bercerita, dia dan Ibu Lurah berencana menemui Gus Makki, ketua PCNU Banyuwangi, untuk meminta bantuan karena Ibu Lurah ingin menjadi camat. Uang tersebut rencananya diberikan kepada Gus Makki sebagai ucapan terima kasih.

“Sebenarnya saya juga nggak tahu dan nggak yakin apakah Gus Makki bisa atau tidak untuk membantu Bu Lurah menjadi camat,” jelasnya. Agus mengaku mengenal Wilujeng Esti Utami dari S, rekannya sesama anggota LSM Lembaga Peduli Rakyat Indonesia. S sempat disebut-sebut sebagai orang yang mengaku sebagai Gus Makki di saluran telepon yang terhubung ke Ibu Lurah sebelum dijemput Agus.

“Saya menyesal. Sangat menyesal. Nggak menyangka jadi seperti ini. Pemukulan tersebut spontanitas,” kata Agus sambil menundukkan kepala.

Sementara itu Gus Makki, ketua PCNU Banyuwangi mengaku tidak mengenal nama-nama yang terlibat dalam kasus tersebut. “Saya tidak kenal dengan nama-nama orang tersebut karena memang tidak pernah bertemu. Ini fitnah dan murni pencatutan nama,” jelas Gus Makki.

LEAVE A REPLY