Festival Tumpeng Tahu di Ponorogo Berlangsung Seru dan Meriah

0
18
Foto: detikcom

FI.CO, Ponorogo – Ribuan warga terlihat memenuhi jalan desa Gelanglor, kecamatan Sukorejo. Mereka berarakan membawa dua tumpeng tahu berukuran besar serta tiga tumpeng tahu berukuran kecil.

Ternyata warga menggelar festival tahu yang diikuti oleh ribuan warga baik tua dan muda semua tumpah ruah memenuhi jalan kampung demi bisa ikut arak-arakan. Mereka ingin memperkenalkan desanya sebagai sentra industri pembuatan tahu di Ponorogo.

Pasalnya disini, ada 14 pabrik yang memproduksi tahu. Tak ayal, kesempatan menyambut bulan Suro atau tahun baru Islam dimanfaatkan warga untuk menggelar festival tahu sekaligus menyambut Suroan.

“Senang karena warga sini sangat antusias untuk memeriahkan festival tahu ini,” ungkap salah satu peserta Hadi Sanyoto di sela festival, Senin (3/9) mengutip detikcom.

Dalam arak-arakan warga pun mengenakan berbagai baju khas Ponoragan atau yang sering disebut dengan penadon, adapula yang memakai pakaian petani tradisional bahkan ada juga yang memakai pakaian pengantin.

Selain itu adapula peserta yang membawa 73 bendera merah putih sebagai simbol Kemerdekaan RI ke-73. Pawai pun dilakukan sejauh 2 kilometer berangkat dari lapangan desa Gelanglor menuju ke Dusun Taji yang disana ada tempat peristirahatan terakhir sesepuh desa Mbah Kromo.

“Warga gotong royong bawa tahu dari rumah kemudian disusun sedemikian rupa menyerupai tumpeng, hasilnya ada 5 tumpeng tahu, 2 tumpeng tahu berukuran besar dan 3 tumpeng tahu berukuran kecil,” tutur Hadi.

Karena baru pertama kali diselenggarakan, seluruh peserta nampak bersemangat sampai rela berdesak-desakkan demi bisa mendapatkan tahu yang disebar oleh panitia diakhir acara. Tidak hanya bapak-bapak, para ibu-ibu dan anak-anak pun nampak antusias berebut tumpeng tahu. Warga meyakini hasil dari rayahan tumpeng ini bisa membawa usaha yang sukses di masa mendatang.

“Jadi filosofinya ada 2 jenis bentuk tahu, tahu laki-laki berbentuk panjang sedangkan tahu perempuan berbentuk pendek. Nah, kenapa ada pengantin jadi seperti sepasang suami istri yang 2 tumpeng besar, sedangkan 3 tumpeng kecil itu diibaratkan anak-anaknya,” terang Penggagas Festival Sewu Tahu Malon Taji Wisnu Hadi Prayitno.

Wisnu yang juga menjabat sebagai Creative Consultant percepatan desa wisata pun menjelaskan adanya pasangan pengantin ini bisa menjadi simbol kesuburan. Diharapkan nantinya industri tahu berkembang layaknya suami istri menjadi satu dan keberkahan tahu bakal hadir.

Menurutnya, pengenalan sentra industri tahu ini bisa dikemas dengan pertunjukkan apik agar banyak warga Ponorogo yang semakin tertarik. Selain diikuti oleh warga sekitar, ada pula seniman dari luar negeri yang sengaja didatangkan demi bisa mengenal adat istiadat Indonesia terutama Ponorogo.

“Ada seniman dari Jepang juga yang turut hadir memeriahkan acara ini,” imbuh bapak satu orang anak ini. Sementara itu, Kepala Desa Gelanglor Budianto menambahkan dalam festival tahu ini sebanyak 1000 tahu digunakan.

Menurutnya, acara ini diharapkan bisa menaikkan nilai jual tahu desanya lebih baik lagi sekaligus bisa dikenal oleh masyarakat Ponorogo. “Apalagi tahu di sini dijamin aman bebas dari bahan kimia dan rasanya lebih gurih,” imbuh Budianto.

Budianto pun menambahkan cita rasa tahunya bakal terus dijaga karena terbuat dari kedelai yang berkualitas. “Kami ingin usaha warga kami bisa semakin dikenal dan bisa go internasional,” papar dia.

LEAVE A REPLY