Sengketa Tanah :

0
16

Sekdes Pamotan Perkaya Diri

FI.CO, Lamongan –  Perampasan hak atas sebidang tanah yang dilakukan oleh Sekdes  desa  Pamotan dipersoalkan oleh pemilik. Bahkan pihak keluarga Rupiah akan segera membawa ke proses hukum.

Jelang panen tebu tiba-tiba sekdes Pamotan datang kerumah Rupiah dengan menyodorkan berkas dan meminta tanda tangan Rupiah, namun ditolak.Setelah kejadian tersebut tanaman tebu yang ditanam dan dirawat Rupiah selama hampir setahun dipanen oleh sekdes tanpa ijin dan hal tersebut berlangsung hingga empat tahun ini,paparnya.

Sebagi warga desa yang tergolong kurang mampu Rupiah hanya bisa pasrah dan dalam ketakutan karena sekdes pernah melontarkan ungkapan yang disinyalir bernada ancaman, ”kalau keluarga bu Rupiah macam-macam,sekdes akan memenjarkanya, “ kata Rinto menirukan ucapan sekdes.

Ungkapan tersebut rupanya dibuktikan oleh sekdes mana kala salah satu anak Rupiah yang bernama Supali bercerita kehidupan di luar jawa terkait perampasan hak tersebut langsung dibabat dengan parang,meski saudaranya sendiri.Tanpa sadar cerita tersebut justru dilaporkan sekdes ke polsek Sambeng dengan tuduhan Supali telah melakukan pengancaman, kendati berujung damai,.

Selama empat tahun sekdes Pamotan menikmati hasil panen tanaman tebu yang diperkirakan tiap tahun mendapat untung 50 juta tanpa memberi ganti rugi biaya tanam kepda Rupiah bahkan menguasai tanah tersebut hingga saat ini,keluh Rinto.

Sekdes Pamotan  membenarkan adanya pengelolaan lahan dan pengambilan hasil panen selama 4 tahun ini. Namun sekdes berdalih tanah tersebut bukan sepenuhnya milik Rupiah tapi belum dibagi dengan saudaranya yang lain termasuk ayah sekdes (Yateman). Selaku perangkat desa Pamotan sekaligus anak dari Yateman(saudara tua Rupiah),dia berencana membagi tanah tersebut bertahap agar tidak terjadi masalah dikemudian hari

Disinggung terkait adanya perubahan nama dalam SPPT dan pemalsuan specimen tanda tangan Rupiah, sekdes berdalih perubahan nama dalam SPPT tersebut karena desakan saudara Rupiah yang lain, termasuk Ripan.

Lanjut, Sunargiono juga mengakui tiap kali meminta tanda tangan Rupiah, saudara ayahnya ini selalu kejang-kejang dan pingsan. Dan memang SPPT itu sekarang berganti atas nama Yateman dengan alasan sebagai saudara tertua Rupiah, tegasnya.

Terpisah pihak Kecamatan Sambeng yang enggan di sebut namanya saat dimintai keterangan terkait proses perubahn SPPT Rupiah ini mangaku tidak tahu,karena proses tersebut dilakukan oleh Sekcam lama yang telah purna tugas. Dia juga menyayangkan kenapa sekcam saat itu tidak teliti bahkan berani menanda tangani berkas permohonan peralihan nama dlm SPPT warga desa Pamotan tanpa petunjuk dari camat,ini ada apa?

Dalam urusan tanah,mestinya sekcam yang menjabat saat itu bertugas memeriksa kelengkapan berkas saja dan menyerahkan wewenang tanda tangan baik pengantar maupun berkas-berkas lain kepada Camat sebelum dibawa pemohon ke Dispenda Lamongan.

Lebih lanjut, bila hal ini tidak segera diselesaikan niscaya sekdes akan terkena sangsi,sebab saat dicek dalam arsip permohonan perubahan SPPT tersebut tidak ada dikecamatan,setelah ditelusuri oleh petugas ke Lamongan,tertera semua tanda tangan lima bersaudara entah itu asli atau palsu,yang jelas sekdes Pamotan mungkin yang lebih tau, pungkasnya.

Koordinator LP-KPK Jatim Matelan,saat diminta tanggapanya mengatakan,prilaku Sunargiono (Sekdes Pamotan) menguasai tanah secara paksa, menikmati hasil penjualan tebu senilai 50 juta/tahun selama 4 kali masa panen, sekaligus melakukan perubahan nama dalam SPPT atas nama Rupiah menjadi Yateman meruapakan bentuk perbuatan melawan hukum.

Sebagai PNS atau Sekdes Pamotan Sunargiono telah menyalah gunakan tugas dan wewenangnya.Bahkan diduga kuat Sunargiono telah memalsukan specimen tanda tangan Rupiah selaku pemilik sah lahan tersebut, pasalnya Rupiah tidak pernah menanda tangani berkas apapun yang disodorkan sekdes saat itu.

Penyerobotan tanah dan pemalsuan dokumen perubahan SPPT yang dilakukan sekdes Pamotan demi keuntungkan diri sendiri ini secepatnyaakan ditindak lanjuti keranah hukum sesuai tuntutan keluarga korban, ungkapnya. (TR)

 

 

*Artikel ini dimuat pada Forum Indonesia Tabloid

LEAVE A REPLY