Mitos Seputar Minyak Zaitun

0
2
Ilustrasi minyak zaitun (dulezidar)

FI.CO – Minyak zaitun atau olive oil mungkin sudah populer sebagai jenis minyak yang sehat. Namun, tak semua orang menggunakannya untuk memasak.

Padahal, minyak yang diekstraksi dari buah zaitun itu secara internasional sudah dianggap sebagai satu pilihan minyak yang sehat karena memiliki berbagai manfaat, seperti bebas kolesterol dan kaya antioksidan.

Nah, ada sejumlah miskonsepsi mengenai minyak zaitun yang beredar di masyarakat. Ahli nutrisi olahraga Emilia Elfiranti Achmadi menjabarkan fakta mengenai minyak ini.

1. Warna minyak menentukan kualitas
Anggapan tersebut tidak tepat. Sebab warna minyak zaitun tidak berkaitan dengan kualitasnya. Warna minyak zaitun bervariasi, mulai dari kuning keemasan hingga hijau tua.

Warna tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Termasuk kondisi zaitun yang digunakan ketika ditanam, tipe zaitun, hingga masa panen.

“Kondisi tahun (panen)nya, cuaca tahun itu, tipe zaitun juga tidak satu jenis, negaranya di mana itu menentukan,” kata Emilia dalam wawancara khusus yang digelar oleh minyak zaitun Bertolli di Plaza Senayan, beberapa pekan lalu.

2. Minyak zaitun berkualitas berembun ketika dimasukkan ke lemari es
Hampir semua minyak akan berembun dan mengeras pada temperatur dingin. Jadi, hal ini tidak hanya terjadi pada minyak zaitun.

Tidak ada tes “ajaib” yang bisa mengetes apakah minyak zaitun yang kita miliki otentik atau tidak.

3. Minyak zaitun “light” memiliki kalori paling rendah
Anggapan ini juga hanya sebatas mitos. Sebab, semua jenis minyak zaitun memiliki kandungan kalori dan konten lemak yang sama.

Light atau extra-light pada label mengindikasikan rasa dari minyak zaitun. Minyak zaitun light adalah pilihan terbaik untuk memasak karena rasanya tidak akan terlalu mengubah rasa dari masakan.

“Bukan kalorinya rendah, tapi jenis olive yang monounsaturated (lemak tak jenuh tunggal)-nya lebih rendah,” ujarnya. Adapun lemak tak jenuh tunggal memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Emilia mengutip pernyataan seorang profesor di Ohio State University, Gary L. Wenk bahwa lemak tak jenuh tunggal mampu meningkatkan fungsi kognitif otak untuk mengurangi kemungkinan kehilangan ingatan.

Lemak baik ketika dikonsumsi dalam jumlah sedang juga dapat membantu kenaikan berat badan. European Journal of Clinical Nutrition menjelaskan bahwa mereka yang mengkonsumsi makanan kaya minyak akan cenderung lebih cepat kenyang dan lama.

Sebab, minyak akan memperlambat pencernaan dan meningkatkan rasa kenyang. Lemak juga merupakan salah satu markonutrien yang diperlukan tubuh dalam jumlah cukup besar, yakni 20-35 persen dari ngasupan kalori harian.

Usahakan untuk memilih lemak sehat daripada lemak jahat.

4. Makin tua makin baik
Minyak zaitun kaya akan oleic acid dan komponen-komponen minor yang membuatnya stabil. Meski begitu, minyak zaitun tidak sama seperti wine yang semakin lama akan menjadi lebih baik.

“Tetap saja kalau terlalu lama tidak dipakai jadi apak, teroksidasi. Jadi sebaiknya juga dijaga dengan baik,” tutur Emilia.

Aroma minyak zaitun justru akan hilang jika semakin lama disimpan. Degradasi kualitas juga akan semakin parah jika terpapar panas, oksigen dan cahaya.

5. Extra virgin olive oil hanya untuk makanan panas atau dingin
Minyak zaitun cocok untuk segala tipe masakan, termasuk extra virgin olive oil.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa minyak zaitun dan dan minyak zaitun “light-tasting” memiliki titik asap antara 200-220 derajat celcius.

Sementara extra virgin olive oil memiliki titik asap 180 derajat celcius. Rata-rata temperatur masak kompor sekitar 175 derajat celcius, sehingga semua jenis minyak zaitun berada di atas batas tersebut.

Hanya saja, ketika hendak memasak masyarakat lebih dianjurkan untuk menggunakan selain extra virgin olive oil.

Sebab, minyak ini memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi dan antioksidan akan rusak jika terkena panas.

Sehingga, manfaat antioksidan tersebut tidak akan didapatkan secara maksimal. Kandungan antioksidan tetap terkandung dalam minyak zaitun yang diperuntukkan memasak, namun tidak setinggi extra virgin olive oil.

“Extra virgin olive oil rasanya sedikit pahit dan baunya sedikit keras karena kandungan antioksidan. Antioksidan tidak tahan panas. Tidak rusak 100 persen tapi jadi tinggal sedikit,” tuturnya.

Mungkin masih banyak miskonsepsi minyak zaitun lainnya yang beredar di masyarakat. Termasuk salah satunya miskonsepsi bahwa minyak zaitun akan mengubah rasa makanan jika digunakan untuk mengolah makanan tertentu.

Namun, pada intinya minyak zaitun memiliki manfaat yang sangat berlimpah. Hanya saja banyak masyarakat kita yang enggan mengonsumsinya atau enggan beralih dari minyak biasa karena minyak zaitun dianggap mahal.

Banyak pula yang belum menggunakannya karena kurang memahami manfaat minyak zaitun itu sendiri. Sekarang, siap mencoba masak dan mengkonsumsi makanan dengan minyak zaitun?

sumber: Kompas.com

LEAVE A REPLY