Mistik Gong Adipati Jepara yang Mendatangkan Bencana

0
0
Niyaga (penabuh gamelan) sedang memainkan Gong Senen di Panti Pradonggo Birowo, Kompleks Kabupaten Jepara, Senin 4 Februari 2019. (Foto: Tagar.id)

FI.CO, Jepara – Ia dinamai Gong Senen, yaitu seperangkat gamelan wasiat Adipati Jepara yang selalu ditabuh setiap hari Senin dan perayaan Idul Fitri.

Gamelan ini bukan alat musik biasa, konon akan ada bencana jika ia absen ditalukan dan hanya orang pilihan yang bisa menabuhnya.

Apel pagi, merupakan rutinitas pegawai di lingkup Pemkab Jepara. Namun, jika hari Senin tiba, kebiasaan itu sedikit berbeda karena adanya alunan Gong Senen yang bertalu-talu berbunyi sebelum upacara dimulai.

Alunan nada Gong Senen, berasal dari sebuah tempat yang bernama Pradonggo Birowo. Terletak di sebelah selatan pendapa, di situlah enam niyaga (penabuh gamelan) memainkan gending-gending yang konon sudah berumur ratusan tahun, mulai pukul 06.30 hingga 07.00.

Sesuai namanya, Gong Senen, perangkat musik ini hanya ditabuh kala Senin. Selain itu, yang memainkannya haruslah warga Desa Senenan, Kecamatan Tahunan. Mengapa demikian? Suyanto (51) seorang niyaga (penabuh) Gong Senen, berkisah pada Tagar News.

“Saya hanya meneruskan dari mbah (kakek) saya Mbah Suto Gareng yang merupakan rombongan niyaga pertama penabuh Gong Senen. Kemudian diturunkan kepada ayah saya, Muh Khasan dan kini saya yang menabuhnya,” ucap Suyanto warga Desa Senenan RT 9 RW 3 itu, Kamis (14/2).

Kisah Gong Senen sendiri, tak luput dari cerita mistis yang konon melingkupi perangkat musik tersebut.

Dinukil dari Database Cagar Budaya Kabupaten Jepara, pada Abad 19 saat kekuasaan Kanjeng Adipati Jepara (Citrosumo), ditemukanlah seperangkat gamelan di kawasan pendapa. Konon, kemunculan alat tersebut tak diketahui asal-usul pemberi maupun pembuatnya.

“Cerita yang diturunkan kepada saya juga begitu. Jadi gong ini muncul begitu saja di Pendapa Jepara, tanpa tahu siapa yang menaruh. Seperti misteri memang,” terang Suyanto.

Mengetahui keanehan tersebut, Adipati Jepara lantas membuat sebuah sayembara. Ia memerintahkan, seluruh perwakilan kelurahan untuk menabuh gamelan tersebut.

Namun, dari seluruh perwakilan itu, hanya Lurah Senenan yang berhasil membunyikan dan membuat nada yang pas untuk seperangkat gamelan tersebut. Dari kisah tersebut, akhirnya yang ditugasi untuk menabuh adalah warga desa tersebut, berikut keturunannya kelak.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kini penabuh Gong Senen tak seluruhnya berasal dari Desa Senenan. Suyanto sebagai pemukul gong, adalah satu-satunya warga desa tersebut. Sedangkan sisanya berasal dari desa-desa di sekitar kompleks Pemkab Jepara.

“Kini yang menabuh ada enam orang. Saya orang Senenan asli, yang lain ada Pak Sukendro, Pak Bambang, Pak Nur Salim, Pak Nur Kholis dan Pak Hardi orang sekitar sini (Kota Jepara). Namun saya pernah mendengar kisah ramalan dari orang tua, bahwa nantinya Gong Senen akan kembali ke Senenan. Entah itu alatnya ditempatkan di desa saya atau yang main orang desa saya semua, saya belum mengerti,” ujarnya.

Meskipun demikian, satu hal yang tak berubah adalah tradisi membunyikan gamelan jika hari Senin. Kebiasaan itu tetap dilakukan, meskipun awal hari kerja adalah hari libur nasional. Sedangkan pada Idul Fitri, penabuhan gong disertai pula adat selamatan.

Adapun, satu set Gong Senen, terdiri dari dua set kecrek, dua set kendang, dua set kempul dan sebuah gong besar. Dengan perangkat tersebut, dimainkan empat buah gending yakni obrokan, Cara Balen, Kethuk Tutul dan Kodok Ngorek.

“Gending-gending itu dimainkan untuk memberikan rasa semangat dan sebagai perwujudan doa kepada Tuhan, agar pada permulaan kerja diberikan keselamatan. Bukan hanya untuk pegawai di sini (pemkab), namun juga seluruh warga Jepara,” terang Suyanto.

Bebendu Jika Tak Tabuh Gong Senen
Kisah mistis yang melingkupi Gong Senen tak berakhir pada cerita kemunculannya yang mendadak di Pendapa Jepara.

Konon, jika tak membunyikannya pada hari Senin dan sembrono memperlakukan gamelan ini, akan mendatangkan bebendu atau bencana.

“Bukan hanya bencana, dulu ada arsitek air mancur pendapa yang main-main dengan gamelan ini dan cenderung tak menghormati Gong Senen, entah berhubungan atau tidak orang tersebut lantas sakit,” kata Sukendro, seorang penabuh gong tersebut.

Terkait hal tersebut, juga disinggung dalam Database Cagar Budaya Kabupaten Jepara. Pada buku yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) tahun 2017 itu, juga menyinggung terkait Gong Senen.

“Terdapat kepercayaan sampai sekarang ini, apabila Gong Senen tidak ditabuh akan berakibat tidak baik. Di antaranya, peristiwa di dekat Pantai Kartini (kapal karam) pada 5 Mei 1955 yang memakan korban lima orang pejabat Pemkab Jepara. Adapula angin ribut yang memporak-porandakan pendapa kabupaten, sekitar 26 tahun lalu,” seperti tertulis pada Database Cagar Budaya di Kabupaten Jepara, halaman 24.

Budayawan Jepara Hadi Priyanto, mengamini hal tersebut. Menurutnya, masyarakat Jepara masih meyakini tuah dari Gong Senen.

“Memang keyakinan lama masih memegang hal itu, kalau tidak dibunyikan akan berdampak tak baik. Namun yang perlu dipahami, tidak lantas kita menyembah (Gong Senen), bentuk gending maupun adat membunyikannya merupakan perwujudan persembahan pujian kepada Tuhan. Agar dalam bekerja selamat,” ungkapnya.

Hadi melanjutkan, bahwa ritme Gong Senen bukan hanya didasari atas ekspresi kesenian belaka. Ada sebuah pemaknaan akan legitimasi penguasa (bupati) yang harus memberikan semangat kepada pegawai dan warga Jepara.

“Dahulu sebelum padat penduduk seperti sekarang, bunyi dari alunan Gong Senen bisa terdengar sampai Desa Kuwasen atau Desa Senenan yang jaraknya hampir 5 kilometer dari pendapa. Itu mengartikan penguasa saat itu, ingin memberikan semangat bekerja untuk warganya,”tuturnya.

LEAVE A REPLY