Tiket Pesawat Mahal, Wisatawan Domestik Anjlok 40 Persen

0
1
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan kenaikan harga tiket belakangan ini telah menurunkan kunjungan wisatawan domestik sampai 40 persen. (Dok Kemenpar)

FI.CO, Jakarta – Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan kenaikan harga tiket pesawat domestik telah berdampak negatif ke sektor pariwisata. Kenaikan harga tiket tersebut telah membuat kunjungan wisatawan domestik pada periode Januari-Maret 2019 turun rata-rata 30 persen.

“(Penurunan kunjungan wisatawan) 20-40 persen, kalau mau dirata-rata sekitar 30 persen penurunannya. Kalau sampai sekarang belum (penurunan tiket), jadi komplain masih besar. Efektivitasnya tidak terasa sampai ke bawah,” katanya, Senin (9/4) malam.

Ia mengatakan maskapai memang memiliki hak untuk mengerek harga tiket sebagai bagian dari strategi bisnis. Tapi ia mengingatkan kenaikan tidak dilakukan secara mendadak dan dengan persentase tinggi.

Pasalnya, kenaikan mendadak dan dengan persentase tinggi akan berdampak ke sektor lain, salah satunya pariwisata. Mantan Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk ini mengungkapkan harga tiket pesawat untuk beberapa destinasi meroket lebih dari 100 persen.

Misalnya tujuan Padang. Harga tiket pesawat ke tujuan tersebut sudah melonjak hingga 210 persen. “Kecuali tujuannya untuk menghancurkan industri. Ini kan ekosistem. Salah satu sistem atau sub sistem ada masalah, pasti seluruh ekosistem terkena,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia berharap perusahaan maskapai memberlakukan kembali keberagaman tarif seperti semula. Menurutnya, keberagaman tarif ini adalah solusi terbaik bagi penumpang dan keberlangsungan bisnis maskapai perusahaan.

“Jadi mungkin solusi yang diminta oleh Menteri Perhubungan itu yang terbaik. Di setiap penerbangan harus ada variasi kelas seperti yang dulu ada, itu akan relatively (cenderung) adil,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Agen Travel Indonesia (Asita) Nunung Rusmiati menuturkan efek domino kenaikan harga tiket tidak hanya menurunkan kunjungan wisawatan domestik. Masalah tersebut juga menggerus pendapatan jasa travel.

Penurunan pendapatan berbanding lurus dengan turunnya jumlah wisatawan. “Kalau ia (agen travel) khusus tiket, cukup lumayan sampai 40 persen, tetapi kami harus kreatif dan inovatif,” tuturnya.

Menurutnya, destinasi yang mengalami kenaikan tiket tajam sehingga menggerus jumlah wisatawan terjadi di Bali dan Padang. Pernyataan Rusmiati sepadan dengan klaim Arief sebelumnya bahwa tiket pesawat tujuan Padang melonjak hingga 210 persen.

Kenaikan harga tiket, lanjutnya, juga mengurangi minat wisatawan untuk berbelanja. Maklum, kenaikan harga tiket pesawat secara otomatis akan mengurangi anggaran belanja wisatawan.

Ia bilang kondisi ini menekan bisnis souvenir lokal. “Kalau dari pariwisata ini dampaknya ke semua itu (lini) kuat,” katanya.

Sebelumnya, Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto menuturkan data STR Global, perusahaan riset perhotelan global, mencatat tingkat hunian hotel di Bali pada Februari 2019 turun dari 67,2 persen menjadi 64 persen. Akan tetapi secara bulanan, okupansi ini meningkat dibanding bulan sebelumnya yang hanya 60,7 persen.

Ferry menjelaskan tingkat okupansi hotel di Bali pada Februari masih ditopang oleh kunjungan wisatawan asing, terutama dari China untuk menikmati liburan tahun baru Imlek. Kontribusi wisatawan domestik cenderung turun lantaran kenaikan tarif pesawat yang hampir mencapai dua kali lipat.

“Tiket domestik itu akan mempengaruhi wisatawan domestik karena bagaimana pun wisatawan domestik menjadi penggerak utama wisata di Bali,” katanya.

LEAVE A REPLY